Khutbah Jumat: Tiga Bencana Besar Menanti Umat yang Memusuhi Ulama

Kisah Ulama Sufi: 6 Pelajaran yang diperoleh Hatim Al-Asham Setelah Tiga Dekade Berguru
Ilustrasi ulama sufi. Foto: nu.or.id

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Akhir-akhir ini, kita menyaksikan bagaimana media telah menjadi ajang caci maki dan saling menghina. Parahnya lagi, tidak sedikit konten kreator bahkan TV Nasional mem-framing negatif terhadap para kiai dan ulama dengan tuduhan keji dan tidak bertanggung jawab.

Mereka lupa, bahwa ulama bukan sekadar manusia biasa. Ulama adalah penjaga warisan kenabian, penyambung cahaya petunjuk di tengah gelapnya zaman. Mereka memiliki kedudukan yang tidak dapat disandingkan dengan orang awam pada umumnya. Dalam Q.S. Al-Zumar ayat 9, Allah swt berfirman: “Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Q.S. Al-Zumar [39]: 09)

Ayat di atas menjadi bukti betapa mulianya kedudukan para ulama. Mereka adalah pewaris nabi yang membimbing umat untuk mengenal Allah dengan cahaya ilmu dan kejernihan akhlak. Dalam Al-Quran, ulama disebut sebagai sosok yang selalu khasyyah (takut) kepada Allah swt. karena merekalah yang paling mengenal dan mengetahui keagungan Allah swt.

“Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (Q.S Fathir [35]: 28)

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Bila umat Islam menjauh dari ulama, maka sesungguhnya mereka sedang berjalan menuju jurang kehancuran. Dalam kondisi seperti ini, marilah kita bersama-sama merenungkan sebuah hadits yang terdapat dalam Kitab Nashaihul ‘Ibad. Rasulullah saw, bersabda: “Akan datang suatu masa atas umatku, di mana mereka akan lari dari para ulama dan fuqaha. Ketika itu terjadi, maka Allah akan menguji mereka dengan tiga macam bencana. Pertama, Allah akan mengangkat keberkahan dari pekerjaan mereka. kedua, Allah akan mengangkat penguasa zalim untuk mereka. ketiga, mereka anak keluar meninggalkan dunia ini tanpa membawa keimanan.”

Dalam hadits di atas, Rasulullah saw memprediksi bahwa suatu saat nanti akan datang zaman di mana para ulama tidak dihiraukan. Ketika ulama sudah diabaikan bahkan dimusuhi dan dicela, maka Allah akan menurunkan tiga macam musibah.

Pertama, Allah swt akan mencabut keberkahan hartanya. Boleh jadi ia memiliki harta yang melimpah, tetapi kekayaannya tersebut ia habiskan untuk hal-hal yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Alih-alih membuat hidup tenteram dan semakin dekat kepada Allah, harta dan usahanya justru menjadi sumber bencana dan menjadikannya semakin jauh dari Allah.

Kedua, Allah akan memberikan kepada mereka penguasa-penguasa zalim, yang tidak mengerti akan hak dan kepentingan rakyat. Saat ini, kita dapat menyaksikan di media sosial pemberitaan mengenai kasus korupsi, adanya kebijakan-kebijakan yang dirasa merugikan rakyat dan berbagai tindak sewenang-wenang yang dilakukan oleh oknum penguasa. Hal tersebut patut menjadi renungan bagi kita bersama dan ajang introspeksi diri barangkali kondisi ini terjadi karena kita yang mulai menjauh dari para ulama.

Ketiga, ketika orang telah menjauhi ulama maka yang paling dikhawatirkan adalah ia akan meninggalkan dunia dalam keadaan tanpa membawa iman. Orang yang meninggalkan ulama dikhawatirkan akan mati dalam keadaan su’ul khatimah.

Terkait hal ini, Imam Ibnu Asakir pernah berpesan: “Ketahuilah wahai saudaraku, semoga Allah memberikan taufik kepada kita dan menunjukkan jalan kebaikan! Bahwasanya daging para ulama itu beracun. Dan balasan allah terhadap orang yang merobek kehormatan mereka sudah jelas. Barangsiapa yang mengumbar lisannya terhadap ulama dengan tuduhan keji dan celaan maka Allah akan menurunkan bencana baginya sebelum ia mati dengan dimatikan hatinya. (Allah swt berfirman), “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih”. (Ibnu Hajar al-Haitami, Az-Zawajir ‘an Iqtirofil Kabair, [Darul Fikr, 1987], juz I, hal. 187)

Maka dari itu, marilah kita senantiasa membersamai para ulama. Jangan sampai ucapan dan tindakan kita jauh dari nasihat para ulama, apalagi sampai menyinggung marwah para ulama.

| Muhammad Zainul Mujahid, Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, mengabdi di Pondok Pesantren Manhalul Ma’arif Lombok Tengah.

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy