Banda Aceh – Sebanyak 12.628 hektare lahan perkebunan kopi milik masyarakat di Kabupaten Aceh Tengah mengalami kerusakan akibat banjir bandang dan tanah longsor pada akhir November 2025 lalu.
Selain kopi, bencana turut merusak 4.100 hektare lahan cabai, 2.787 hektare sawah, serta 38,32 hektare area perikanan.
Berdasarkan data penangulangan bencana alam hidrometeorologi Aceh Tengah per 2 Januari 2026, banjir bandang dan tanah longsor berdampak pada 14 kecamatan dan 295 kampung atau desa.
Juru Bicara Pos Komando Penanganan Banjir dan Longsor Aceh, Murthalamuddin, mengatakan sebanyak 58 titik pengungsian dengan total 7.899 jiwa mengungsi, termasuk 587 orang yang berasal dari luar Aceh Tengah.
“Jumlah warga terdampak secara keseluruhan mencapai 234.710 jiwa,” kata Murthala, dalam keterangan tertulis, Jumat, 9 Januari 2026.
Murthala menyebutterdapat wilayah terisolasi dengan jumlah masyarakat terdampak mencapai 11.657 jiwa yang tersebar di satu kecamatan dan 26 kampung.
Pada sektor infrastruktur, tercatat 306 ruas jalan, 179 titik jembatan, dan 130 jaringan irigasi mengalami kerusakan. Fasilitas umum yang terdampak meliputi 4 unit kantor, 124 rumah ibadah, 72 sekolah, 12 pondok pesantren, 8 puskesmas, 9 pustu, dan 81 polindes.
Kebun Kopi di Bener Meriah juga Rusak
Sementara itu, lahan kopi milik masyarakat di Kabupaten Bener Meriah seluas 445 hektare juga mengalami kerusakan akibat banjir bandang.
Murthala menuturkan kebun kopi menjadi sektor paling terdampak karena sebagian besar wilayah Bener Meriah merupakan sentra produksi kopi Gayo. Kerusakan kebun kopi tersebar di delapan kecamatan.
“Kerusakan kebun kopi cukup mendominasi dampak bencana hidrometeorologi di Bener Meriah. Ini sangat berpengaruh terhadap mata pencaharian masyarakat,” katanya.
Kerusakan kebun kopi terbesar berada di Kecamatan Bukit seluas 198,179 hektare, Mesidah 122,147 hektare, Wih Pesam 76,700 hektare, Permata 36,650 hektare, Gajah Putih 8,469 hektare, Bener Kelipah 1,750 hektare, Bandar 1,563 hektare, dan Timang Gajah 0,125 hektare.
Sementara di Kecamatan Pintu Rime Gayo dan Syiah Utama tidak ada kebun kopi terdampak.
Selain kopi, bencana juga mengakibatkan kerusakan lahan pertanian lainnya di Bener Meriah. Tercatat sawah rusak seluas 68,732 hektare, perkebunan 214,270 hektare di Kecamatan Syiah Utama, serta kolam masyarakat 2,505 hektare. Secara keseluruhan, total kerusakan lahan mencapai 731,089 hektare.
Tak hanya sektor pertanian, bencana yang terjadi pada 26 November 2025 juga merusak berbagai fasilitas umum dan infrastruktur. Sebanyak 166 jembatan rusak, 81 ruas jalan terdampak, serta 61 titik longsor dan 27 lokasi banjir tercatat di berbagai wilayah. Selain itu, 1.797 rumah warga mengalami kerusakan, baik rusak berat, sedang, maupun ringan.
Dari sisi korban, 31 orang dilaporkan meninggal dunia, 14 orang hilang, dan 5 orang mengalami luka-luka. Jumlah warga terdampak secara keseluruhan mencapai 183.043 jiwa yang tersebar di 10 kecamatan dan 232 desa.
Sebagian warga terpaksa mengungsi, dengan 2.116 jiwa berada di pengungsian terpusat dan 2.452 jiwa mengungsi secara mandiri.
Dia menyebut pemerintah daerah bersama unsur terkait masih terus melakukan penanganan serta pemulihan pascabencana. Bener Meriah sendiri saat ini sudah melewati masa tanggap darurat dan masuk tahap transisi hingga 6 April mendatang.
“Fokus kami saat ini adalah penanganan korban, pemulihan akses, serta menyiapkan langkah rehabilitasi dan rekonstruksi, khususnya untuk sektor pertanian dan kebun kopi yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat,” kata Murthala.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy