Empat Catatan Bijak Pada Tongkat Nabi Musa AS

Ilustrasi Nabi Musa dan tongkatnya
Ilustrasi Nabi Musa dan tongkatnya

Presiden Prabowo Subianto menyebut frasa “tongkat Nabi Musa” saat berpidato di depan pengungsi Aceh Tengah dan Bener Meriah, Jumat, 12 Desember 2025.

Konteks “tongkat Nabi Musa” yang dimaksudnya adalah bisa dengan segera memulihkan keadaan di melanda wilayah terdampak banjir dan longsor. Prabowo menyebut tak punya tongkat itu dan karenanya pemerintah tidak serta-merta bisa membalikkan keadaan. Frasa ini kemudian dikutip beberapa akun media sosial kementerian dan lembaga seperti PU.

“Ini adalah musibah dan kami manusia biasa, kami tidak memiliki tongkat Nabi Musa, yang bisa dengan segera memulihkan keadaan seperti semula. Kami mohon kesabaran bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, kami pasti akan berupaya semaksimal mungkin,” kata Prabowo di Takengon usai mendengar curhat pengungsi yang sangat membutuhkan logistik, listrik, dan sinyal HP.

Lalu, apakah memang demikian maksud dari mukjizat tongkat Nabi Musa?

Tongkat yang disebutkan dalam Al-Qur’an itu merupakan salah satu bentuk mukjizat yang dianugerahkan Allah SWT kepada Nabi Musa AS.

Melansir NU Online, Syekh M Nawawi Banten menceritakan panjang tongkat Nabi Musa AS mencapai sepuluh hasta dan bercabang dua.

Awalnya tongkat tersebut hanya berfungsi sebagai tongkat penggembala biasa untuk menggiring kambing. Tetapi berkat kuasa Allah, tongkat ini memiliki banyak fungsi yang membantu Nabi Musa AS dalam menghadapi kedurhakaan umatnya.

Baca juga: Korban Bencana Aceh Tengah Butuh Logistik dan Listrik, Prabowo: Kami Tidak Punya Tongkat Nabi Musa, Mohon Sabar

Konon tongkat itu dapat menyala di kegelapan sehingga sangat membantu Nabi Musa AS menempuh perjalanan kala malam.

Selain itu, ada empat catatan bijak yang terukir pada tongkat Nabi Musa AS. Catatan ini mengajarkan sikap wajar bagi penguasa, kaum ulama dan cendekia, orang kaya, dan orang miskin.

Catatan itu secara lengkap dikutip oleh Syekh M Nawawi Banten dalam Syarah Barzanji: “Setiap penguasa yang tidak adil dalam kekuasaannya tiada bedanya dengan Firaun. Setiap ulama dan ilmuan yang tidak mengamalkan ilmunya tiada bedanya dengan Iblis. Setiap orang kaya yang tidak bermanfaat hartanya (bagi orang lain dan dirinya) tiada bedanya dengan Qarun. Setiap orang miskin yang tidak sabar atas kemiskinannya tiada bedanya dengan anjing.”

Semua catatan itu mendorong penguasa bersikap adil, kaum terpelajar tidak mengkhianati pengetahuannya, orang kaya bersikap dermawan, dan orang miskin bersikap sabar. Semua sikap proporsional itu diperlukan untuk menjaga kehidupan sosial dan politik yang sehat.

Baca juga: Gus Baha Ungkap Sikap Nabi Musa yang belum Siap Kalah dari Nabi Muhammad

Selain itu, tebuireng.online menyebutkan setelah Musa diangkat menjadi nabi, tongkat tersebut menjadi senjata untuk melawan Fir’aun dan bala tentaranya.

Atas izin Allah, tongkat Nabi Musa ketika dilemparkan dapat berubah menjadi ular. Namun setelah dipegang kembali, ular itu dapat kembali menjadi tongkat.

Ketika berhadapan dengan Fir’aun, ular Nabi Musa dengan mudah mengalahkan ular-ular penyihir Fir’aun. Ular penyihir Fir’aun sendiri merupakan ilusi belaka untuk sekedar menakut-nakuti. Sedangkan ular nabi Musa dapat benar-benar hidup. Sehingga ketika ular nabi Musa memakan ular penyihir Fir’aun, ukuran ular tersebut bertambah semakin besar.

Kisah tersebut termaktub dalam Surah Al-Qashash ayat 31, Surah An-Nam ayat 10-11, dan Surah Thaha ayat 17-21.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy