Era Pascaminyak, Rektor UIN Ar-Raniry: Harus Belajar dari Pengalaman UEA

Rektor UINAR Prof Mujiburrahman
Rektor UINAR Banda Aceh Profesor Mujiburrahman. Foto: Humas UINAR

Banda Aceh – Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Profesor Mujiburrahman menyebut literasi ekonomi menjadi kunci dan bekal utama menghadapi era pascaminyak dengan mencontoh Uni Emirat Arab (UEA).

“Kita harus belajar dari pengalaman UEA. Berakhirnya era minyak tidak boleh menjadi krisis baru, tetapi momentum untuk menciptakan kemakmuran yang berkelanjutan. Literasi ekonomi menjadi kunci agar masyarakat siap menghadapi transformasi itu,” kata Mujiburrahman, dilansir Antara, Senin, 29 September 2025.

Mujiburrahman menyampaikan itu saat menjadi pembicara inti dalam soft launching buku “Era Mutiara: Dari Kemiskinan Menuju Kemakmuran” di ajang Indonesia International Book Fair (IIBF) 2025, Jakarta, Minggu (28/9).

Buku ditulis tim Pusat Trends untuk Riset dan Konsultasi ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh dosen UIN Ar-Raniry, Muqni Affan Abdullah.

Buku tersebut mengulas perjalanan panjang UAE dari masa pra-mutiara, kejayaan industri mutiara, keruntuhannya, hingga bergantung pada minyak sebagai sumber ekonomi utama.

Mujiburrahman menilai pesan utama buku ini relevan bagi Indonesia, termasuk Aceh, dalam merancang strategi pembangunan jangka panjang.

Dia mengapresiasi Sultan Faisal Al-Remethi, Direktur Trends Research & Advisory, yang memberi kesempatan kepada UIN Ar-Raniry untuk menerjemahkan karya tersebut.

“Kami bangga dosen UIN Ar-Raniry diberi amanah menghadirkan buku ini dalam bahasa Indonesia. Ini menunjukkan komitmen kampus dalam mengembangkan literasi dan membuka ruang dialog global,” katanya.

Penerjemah buku itu, Muqni Affan, menjelaskan Era Mutiara terdiri atas enam bab yang memaparkan analisis komprehensif tentang dinamika ekonomi UAE. Pengalaman tersebut bisa menjadi rujukan penting bagi Indonesia dalam menghadapi transisi energi di masa depan.

Era Pascaminyak

Melansir Republika, era pascaminyak merujuk pada periode transisi dan perubahan yang terjadi di dunia, ketika ketergantungan global terhadap minyak bumi mulai berkurang secara signifikan, seiring dengan peralihan ke sumber energi alternatif dan terbarukan. Ini adalah era di mana minyak tidak lagi menjadi penggerak utama ekonomi dan geopolitik dunia.

Negara-negara yang selama ini sangat bergantung pada ekspor minyak, seperti negara-negara di Timur Tengah, mulai melakukan diversifikasi ekonomi untuk mengurangi ketergantungan pada pendapatan minyak. Mereka berinvestasi di sektor lain seperti pariwisata, teknologi, dan industri manufaktur.

Ketergantungan terhadap bahan bakar fosil seperti minyak bergeser ke sumber energi yang lebih bersih dan berkelanjutan, seperti energi surya, angin, dan energi terbarukan lainnya. Inovasi teknologi dalam energi bersih memainkan peran penting dalam transisi ini.

Era pascaminyak didorong oleh kesadaran global akan dampak perubahan iklim dan emisi gas rumah kaca akibat pembakaran bahan bakar fosil. Peralihan ke energi bersih diharapkan dapat mengurangi dampak negatif ini.

Dominasi dan kekuatan geopolitik negara-negara pengekspor minyak diperkirakan akan menurun. Negara-negara yang berhasil berinovasi dan beradaptasi dengan sumber energi baru akan memiliki pengaruh yang lebih besar di panggung global.

Selain inovasi energi, perkembangan teknologi di sektor transportasi, seperti kendaraan listrik, juga mempercepat transisi menuju era pascaminyak.

Tantangan bagi negara berkembang: Negara-negara berkembang yang sangat bergantung pada ekspor minyak akan menghadapi tantangan besar dalam mendiversifikasi ekonomi mereka, terutama jika harga minyak terus menurun.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy