Kabut Asap Karhutla Kian Merata di Aceh, Mualem Instruksikan Faskes Siaga 24 Jam dan Imbau Warga Pakai Masker

Masjid Agung Islamic Center Lhokseumawe diselimuti kabut asap pekat dari udara
DIKEPUNG ASAP: Pemandangan udara kompleks Masjid Agung Islamic Center dan jalur protokol Kota Lhokseumawe yang tampak meredup akibat diselimuti kabut asap pekat, Rabu (14/10/2026). Paparan asap ini mulai menurunkan jarak pandang vertikal maupun horizontal di pusat kota. Foto: Yasir/Line1News

Banda Aceh, Line1News – Sebaran kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) dilaporkan kian meluas dan merata di wilayah Bumi Serambi Mekkah. Merespons kondisi darurat lingkungan ini, Gubernur Aceh, Muzakir Manaf alias Mualem, mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.

“Gunakan masker yang sesuai dan mampu menyaring partikel halus PM2,5 apabila harus beraktivitas di luar ruangan,” kata Mualem dalam keterangannya, Jumat, 16 Oktober 2026.

Berdasarkan data terbaru dari BMKG, kabut asap pekat terpantau telah menyelimuti sebagian besar langit Aceh sejak 13 Oktober 2026. Dampaknya langsung memicu penurunan drastis kualitas udara, terutama pada lonjakan partikel halus PM2,5. Jika terus terpapar, kondisi ini sangat berpotensi meningkatkan risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), iritasi mata, hingga gangguan kardiovaskular.

Mitigasi Daerah dan Larangan Open Burning

Menyikapi ancaman kesehatan ini, Mualem menginstruksikan seluruh bupati, wali kota, beserta pemangku kepentingan di Aceh untuk segera menaikkan level kewaspadaan. Langkah-langkah mitigasi konkret harus segera dieksekusi di wilayah masing-masing demi menekan dampak buruk kabut asap.

Mualem juga mengingatkan masyarakat agar menghentikan aktivitas pembakaran terbuka (open burning). Mulai dari pembukaan lahan baru, pembakaran sisa pertanian, hingga pembakaran sampah yang dapat memperparah kepekatan kabut asap.

Bagi para mobilitas di jalan raya, faktor keselamatan juga menjadi sorotan utama. “Utamakan keselamatan pengguna jalan dengan menyalakan lampu kendaraan, mengurangi kecepatan, dan berhenti di tempat aman apabila jarak pandang membahayakan perjalanan,” ujarnya.

Proteksi Kelompok Rentan dan Tips Mandiri

Orang nomor satu di Aceh ini meminta warga untuk membatasi aktivitas luar ruangan, terutama saat indikator polusi udara sedang mencapai puncaknya. Perlindungan ekstra wajib diberikan kepada kelompok rentan seperti bayi, balita, anak-anak, ibu hamil, lansia, serta masyarakat yang memiliki penyakit penyerta (komorbid).

Masyarakat diharapkan proaktif menjaga kualitas udara bersih di dalam ruangan. Upaya proteksi mandiri ini perlu diterapkan mulai dari lingkungan rumah, tempat kerja, sekolah, hingga sarana ibadah.

Langkah taktis yang bisa dilakukan di antaranya adalah menutup rapat jendela, pintu, dan lubang ventilasi saat kepekatan asap di luar rumah meningkat. Warga juga sangat dianjurkan untuk memperbanyak konsumsi air putih dan disiplin menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Faskes Siaga 24 Jam & Aktivasi Posko Karhutla

Jika masyarakat mulai merasakan gejala gangguan kesehatan seperti sesak napas, batuk terus-menerus, nyeri dada, iritasi mata berat, hingga pusing, Mualem meminta mereka untuk tidak menunda waktu dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan (faskes) terdekat.

“Siagakan fasilitas pelayanan kesehatan selama 24 jam, termasuk RSUD, Puskesmas, klinik, dan pos kesehatan, untuk mendeteksi serta menangani dampak kabut asap,” tegas Mualem.

Ia mendesak agar desk dan posko penanganan Karhutla di setiap kabupaten/kota segera diaktifkan kembali. Langkah ini harus dibarengi dengan penguatan edukasi ke masyarakat, penyusunan rencana kontingensi, serta penajaman koordinasi lintas sektor yang melibatkan TNI, Polri, dan instansi terkait lainnya.[]

Baca Juga: Kabut Asap Selimuti Langit Pulau Weh, Dinkes Sabang Guyur 5.000 Masker

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy