Nelayan Cangkul Danau Laut Tawar: Bupati Shabela Lebih Manusiawi Ketimbang Haili Yoga

Nelayan cangkul Danau Laut Tawar
Nelayan cangkul Danau Laut Tawar. Foto: Line1.News/Erwin Sar

Takengon – Nelayan cangkul di Danau Laut tawar menilai kepemimpinan Shabela Abubakar saat menjadi Bupati Aceh Tengah lebih manusiawi dibandingkan bupati saat ini, Haili Yoga.

“Shabela lebih manusiawi, dia memikirkan nasib anak istri kami,” ujar Sengeda Gayo, perwakilan nelayan cangkul, Selasa, 13 Mei 2025.

Sengeda dan puluhan nelayan lainnya kini resah setelah alat tangkapan ikan mereka, cangkul padang dan cangkul dedem, dibongkar Pemkab Aceh Tengah secara sepihak.

Sengeda juga mengatakan Shabela Abubakar tidak menginginkan masyarakat nelayan menjadi pengemis.

Saat Shabela menjadi bupati, kata dia, juga pernah ingin membongkar cangkul milik mereka. Namun karena kondisi dan situasi nelayan, Shabela urung melakukan pembongkaran.

“Shabela paham kondisi kami, cangkul itu mata pencaharian kami sehari-hari untuk menghidupi anak dan istri, maka di masa kepemimpinannya cangkul milik kami gak jadi dibongkar,” ujar Sengeda.

Perbedaan kepemimpinan itu kini menjadi tolok ukur bagi Sengeda. “Sosok yang mau memikirkan nasib rakyat kecil itulah pemimpin yang akan membawa Aceh Tengah ke arah yang lebih baik,” ucapnya.

Dia menuding Bupati Haili Yoga tidak memikirkan nasib mereka para nelayan kecil yang mengantungkan hidup dari cangkul padang dan cangkul dedem.

Baca juga: Tolak Pembongkaran Cangkul Padang, Puluhan Nelayan di Aceh Tengah Bakal Demo ke Gedung DPRK dan Pendopo

“Haili Yoga tidak menganggap kami ada, sepihak dia memutuskan membongkar usaha kami, tanpa bermusyawarah terbaik dahulu dengan kami pemilik usaha cangkul,” ujar Sengeda.

Dia tidak menolak pembongkaran cangkul oleh Pemkab Aceh Tengah jika melalui mekanisme musyawarah terlebih dahulu.

“Kami tidak menolak jika Pemda memikirkan nasib kami. Pikirkan usaha kami terlebih dahulu, kami akan setuju membongkar cangkul milik kami.”

Puluhan nelayan di Danau Laut Tawar menolak pembongkaran cangkul padang dan cangkul dedem milik mereka.

Jika pemerintah terus melakukan pembongkaran, puluhan nelayan itu mengancam akan melawan dan melakukan aksi ke kantor DPRK dan Pendopo Bupati Aceh Tengah.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy