Aceh Utara, Line1News – Puluhan warga Kecamatan Sawang, Aceh Utara, terpaksa bertaruh nyawa melawan derasnya arus sungai pada Senin pagi, 12 Oktober 2026. Aksi heroik ini dilakukan demi memasang kembali jembatan darurat kayu yang menghubungkan Desa Sawang dan Desa Gunci agar akses bagi para pelajar, guru, dan masyarakat tidak terputus.
Jembatan kayu berikat tali seadanya tersebut sengaja dibongkar warga pada Minggu sore (11 Oktober 2026). Langkah itu terpaksa diambil demi mencegah struktur darurat tersebut hanyut diterjang luapan sungai, menyusul hujan deras yang terus mengguyur wilayah Aceh Utara dalam beberapa hari terakhir.
Begitu debit air sedikit mereda, warga bergerak cepat merakitnya kembali sejak fajar. Tujuannya satu: memastikan anak-anak sekolah dan para guru bisa melintas tanpa harus terlambat mengikuti proses belajar mengajar.
Denyut Nadi 8.000 Jiwa yang Terisolasi

[Warga dari empat desa di Kecamatan Sawang, Aceh Utara, bergotong-royong memasang kembali jembatan darurat dari kayu yang sempat dibongkar akibat luapan sungai, Senin (12/10/2026). Aksi ini dilakukan demi membuka kembali akses transportasi bagi pelajar dan guru menuju pusat kecamatan. Foto: Fajar Siddik/Line1News]
Ironisnya, pemandangan ini bukan hal baru. Hampir setahun sejak banjir bandang menerjang pada akhir November 2025 lalu, infrastruktur permanen belum juga menyentuh kawasan ini. Akibatnya, lebih dari 8.000 penduduk yang tersebar di empat desa—Desa Lhok Cut, Blang Cut, Kubu, dan Desa Gunci—bergantung sepenuhnya pada jembatan darurat ini untuk mobilisasi harian dan akses ekonomi ke pusat Kecamatan Sawang.
Tokoh Masyarakat Gunci, Usman Abdullah, mengungkapkan bahwa sistem “bongkar pasang” jembatan swadaya ini sudah menjadi rutinitas setiap kali debit air sungai meningkat demi menyelamatkan material kayu yang tersisa.
Mewakili suara ribuan warga, Usman mendesak perhatian serius dari pemangku kebijakan lintas tingkat agar jembatan permanen bisa segera terealisasi.
“Kami mohon kepada Bapak Presiden, Bapak Gubernur, Bapak Bupati, dan Bapak Camat, mohon jembatan kami segera dibangun. Karena di sebelahnya ada 8.000 penduduk yang memanfaatkannya,” ungkap Usman kepada wartawan, Senin (12/10/2026).
Taruhan Nyawa dan Lumpuhnya Sektor Ekonomi
Ketiadaan jembatan yang layak memicu kekhawatiran berlapis. Sektor pendidikan menjadi yang paling rentan terdampak. Saat air sungai meluap tinggi dan jembatan harus dibongkar, para pelajar otomatis terisolasi dan terpaksa absen sekolah hingga dua hari lamanya.
Tak hanya itu, aspek keselamatan pengendara yang melintas juga berada di titik nadir. Struktur kayu yang sempit dan licin kerap memicu kecelakaan fatal bagi warga yang nekat melintas.
“Minggu lalu ada yang jatuh, kami angkat rame-rame ke atas dan banyak juga yang korban,” tambah Usman.
Dampak buruk ini turut merembet ke sektor ekonomi. Warga Sawang yang mayoritas pekebun kini harus menanggung beban operasional yang membengkak. Tanpa adanya jembatan penghubung langsung, mereka terpaksa memutar jauh mengangkut komoditas hasil bumi melalui jalur alternatif di Kecamatan Makmur, Kabupaten Bireuen.
Warga berharap potret perjuangan di awal pekan ini menjadi alarm bagi pemerintah untuk segera menghadirkan keadilan infrastruktur di pelosok Aceh Utara.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy