Pelajar melintas di samping tumpukan sampah di atas trotoar jalan pendidikan, Hagu Selatan, Banda Sakti, Lhokseumawe, Rabu, 19/02/2025. Foto: Line1.News/Yasir
Lhokseumawe – Tumpukan sampah yang menggunung di atas trotoar jalan pendidikan kawasan Hagu Selatan, dekat SMA Negeri 1 Lhokseumawe menuai keluhan dari warga sekitar.
Sampah yang didominasi plastik, sisa makanan, dan limbah rumah tangga ini menimbulkan bau tak sedap serta mengganggu pengguna jalan dan pelajar yang melintas.
Pantauan Line1.News, tumpukan sampah tersebut sudah berhari-hari tidak diangkut. Beberapa warga mengaku terganggu dengan keberadaan sampah tersebut, terutama karena lokasinya yang dekat dengan sekolah.
“Setiap pagi bau menyengat sangat terasa. Apalagi kalau hujan, sampah berserakan ke jalan dan menimbulkan pemandangan yang tidak enak,” ujar Rina, salah seorang warga yang tinggal di sekitar lokasi, Rabu, 19 Februari 2025.
Selain mengganggu kenyamanan, keberadaan tumpukan sampah dinilai berpotensi menjadi sumber penyakit dan tempat berkembang biaknya lalat serta hewan pengerat.
Di lokasi tersebut sudah terpampang imbauan larangan membuang sampah. Namun, masih juga terlihat tumpukan sampah yang menggunung di tepi jalan yang berdinding langsung dengan pagar SMAN 1 Lhokseumawe.
Rina berharap Pemerintah Kota Lhokseumawe segera membenahi sampah di lokasi tersebut. “Apalagi sesuai dengan program wali kota yang baru saja dilantik bahwa Kota Lhokseumawe akan bersih dari sampah.”
Wali Kota Sayuti Abubakar menjanjikan membangun tempat pengelolaan sampah berbasis lingkungan dan edukasi. Program ini merupakan salah satu janji kampanye Sayuti bersama wakilnya Husaini saat Pilkada lalu.
Warga melintas di dekat tumpukan sampah dekat SMAN 1 Lhokseumawe. Foto: Line1.News/Yasir
Sayuti telah mengutus tim survei untuk memantau teknis pengelolaan sampah ke Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, pada Jumat, 24 Januari 2025. Teknologi pengolahan sampah menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang dilakukan di Banyumas akan diadopsi di Lhokseumawe.
Nantinya, jenis pengolahan sampah di Lhokseumawe dibagi tiga: organik, anorganik dan residu. Sampah organik akan diolah menjadi bahan pakan maggot dan pupuk kompos. Sedangkan sampah anorganik dibuat menjadi bahan baku bernilai ekonomis seperti batako.
Adapun sampah bernilai rendah akan dijadikan refuse derived fuel yang residunya dimasukan ke dalam insinerator. Lalu, abunya kemudian dibuat sebagai bahan baku seperti paving blok dan genteng.
Sayuti berharap program pengolahan dengan model seperti itu bisa menjadi pilot project pertama di Aceh. Selain menjadikan Lhokseumawe bersih, lewat program tersebut, hasil olahan sampah diharapkan dapat menjadi sumber rezeki baru bagi masyarakat.[]
Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy
Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy