Jakarta – Walaupun menuai protes dari berbagai kalangan, terutama koalisi masyarakat sipil, Presiden Prabowo akhirnya menganugerahkan gelar pahlawan nasional untuk Soeharto.
Penganugerahan gelar pahlawan nasional itu berlangsung di Istana Negara, Jakarta, Senin, 10 November 2025.
Dilihat dari siaran langsung kanal YouTube Sekretariat Presiden, penetapan itu berdasarkan Keputusan Presiden RI No 116/TK Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.
Soeharto merupakan bekas presiden kedua “daripada” Indonesia yang memimpin negeri ini selama 32 tahun. Masa kepemimpinan Soeharto disebut Orde Baru, istilah yang dimunculkan untuk menandai babak baru setelah tumbangnya Orde Lama yang ditinggalkan presiden pertama, Soekarno.
Orde Baru menjadi era yang oleh sebagian orang dikenang sebagai masa stabilitas ekonomi. Namun sebagian lainnya menganggap sebagai masa pembungkaman kebebasan sipil dan terjadinya kasus-kasus pelanggaran HAM, mulai dari Aceh hingga Papua. Masa pemerintahan Soeharto diakhiri oleh krisis ekonomi dan demonstrasi mahasiswa pada 1998.
Selain Soeharto ada sembilan orang lainnya yang dianugerahkan gelar serupa. Mereka adalah Presiden keempat 4 RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Tokoh Nahdlatul Ulama asal Jawa Timur ini dikenal sebagai simbol pluralisme dan demokrasi pascareformasi.
Kemudian Marsinah, aktivis buruh asal Nganjuk, Jawa Timur. Marsinah tewas pada 1993 setelah memperjuangkan hak-hak pekerja di masa Orde Baru ketika Soeharto berkuasa.
Ada pula Profesor Mochtar Kusumaatmadja, mantan Menteri Luar Negeri sekaligus Guru Besar Hukum Internasional dari Universitas Padjadjaran, Jawa Barat, yang dikenal memperjuangkan konsep Archipelagic State atau negara kepulauan dalam hukum laut dunia.
Dari dunia pendidikan dan dakwah, terdapat Hajjah Rahmah El Yunusiyyah asal Padang Panjang, Sumatra Barat. Ia pendiri Madrasah Diniyah Puteri, lembaga pendidikan perempuan Islam pertama di Indonesia.
Nama Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan, Jawa Timur, juga masuk daftar, seorang ulama kharismatik yang dikenal sebagai guru dari para pendiri Nahdlatul Ulama.
Sementara itu, Sultan Muhammad Salahuddin dari Bima, Nusa Tenggara Barat, dan Zainal Abidin Syah, Sultan Tidore terakhir, Maluku Utara, dikenang atas peran mereka dalam mempertahankan kedaulatan wilayah di masa awal republik.
Dari Sumatra Utara, Tuan Rondahaim Saragih dikenang sebagai tokoh perlawanan rakyat Simalungun terhadap kolonial Belanda.
Adapun Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo, mantan Komandan RPKAD—kini dikenal sebagai Kopassus—merupakan tokoh penting dalam penumpasan G30S pada 1965. Ia juga dikenal sebagai ayah dari Kristiani Herawati alias Ani Yudhoyono, istri Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono. Sarwo Edhie dan Soeharto berasal Jawa Tengah.
Acara penganugerahan itu dihadiri para ahli waris yang sekaligus mewakili para tokoh untuk menerima gelar. Tampak di antaranya istri Gus Dur, Sinta Nuriyah, dan putri tertuanya Yenny Wahid. Selain itu, tampak pula putri sulung Soeharto, Tutut, dan putra ketiga, Bambang Trihatmodjo.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy