Lhokseumawe, Line1News – Kepergian Muhammad Rasya Fadilla (18) menyisakan kepingan duka yang teramat getir bagi keluarga yang ditinggalkan. Calon taruna Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati Aceh ini ternyata sempat menuangkan hari-hari terakhirnya dalam sebuah buku catatan kecil.
Saat ditemui di kediamannya di Desa Meunasah Mee, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe pada Jumat, 2 Oktober 2026, ibunda almarhum, Nurlaila (47), memperlihatkan buku harian milik putra sulungnya tersebut.
Buku bersampul gelap dengan jilid spiral itu menjadi saksi bisu perjuangan dan rasa rindu Rasya selama kurang dari satu bulan menempuh pendidikan di kampus pelayaran. Di sana, goresan tinta terakhir Rasya terhenti pada tanggal 21 September 2026—tepat enam hari sebelum ia mengembuskan napas terakhirnya.
Perjuangan Kemandirian dan Rasa Lapar yang Kerap Mendarat

[GORESAN TINTA: Detail isi buku harian almarhum Muhammad Rasya Fadilla (18) bertanggal 21 September 2026 yang ditemukan pihak keluarga di dalam tas pakaian korban setelah proses pemakaman, Lhokseumawe. Almarhum menuliskan rasa rindu mendalam kepada orang tua serta perjuangannya beradaptasi di kampus. Foto: Fajar Siddik/Line1News]
Dalam lembaran pembuka bertajuk “Life update setelah jadi catar“, Rasya mencurahkan bagaimana fisiknya harus beradaptasi dengan ritme pendidikan yang disiplin dan berat pada dua minggu pertama. Ia menuliskan keharusan untuk makan dengan cepat hingga mengurus keperluan pribadi secara mandiri yang sebelumnya jarang ia lakukan di rumah.
Namun, di balik ketegaran yang coba ia bangun sebagai seorang calon abdi negara, terselip cerita pilu tentang rasa lapar yang kerap mendera.
“…tapi semenjak 2 minggu ini yang aku rasain itu sekarang yaa lapar lapar dan lapar, yaa kekmana gak lapar, karena ga dibolehin jajan, trs juga disini aku jadi suka makan roti, karna roti yg dikasih enak lembut manis, kayanya nanti lama kelamaan juga bakal biasa aja kali yaa,” curhat Rasya di halaman tersebut.
Rasa rindu pada kehangatan rumah, dekapan hangat orang tua, dan masakan yang akrab di lidah akhirnya membuncah di baris-baris akhir halaman pertama itu. Ia juga mengungkapkan penantiannya untuk pelantikan (inaugurasi).
“Jujur aku rindu orang tua aku rindu temen-temenku, juga rindu makan makanan enak, inagurasi juga masih lama kali yaa…” ungkapnya.
Kisah Halaman Kedua: Kehadiran Sahabat dan Optimisme yang Tersisa
Kendati sarat akan perjuangan dan rasa rindu rumah yang mendalam, Rasya mencoba menghibur dirinya sendiri. Memasuki halaman kedua, ia membalikkan suasana tulisan dengan sudut pandang yang jauh lebih positif, menceritakan kehadiran kawan-kawan baru yang menjadi pelipur laranya.
“di dua minggu ini aku juga dapat banyak kawan baru, ada yang satu kota, ada juga yang dari luar kota, mereka juga asik-asik kok, baik juga, apalagi teman sekamarku mereka lucu asik baik, ghazi, jojo, dimas, pais, dan khairul, itulah temen-temen sekamarku aku juga gak lupa sama kawan yang sama-sama dari waktu tes, ada qori, yasir, syawal, itu mulai dari tes kami udah bareng. mungkin ini dulu aja kali yaa…, nanti aku lanjut ceritanya after 1 bulan. See UU….” tulis Rasya, menutup lembaran itu dengan membubuhkan tanggal 21 September 2026.
Kata “nanti aku lanjut ceritanya after 1 bulan” kini menjadi untaian kalimat yang menyayat hati, karena janji tersebut harus terhenti untuk selamanya.
Temuan Barang yang Tertunda
Menurut Nurlaila, warisan tulisan tangan ini tidak langsung diketahui oleh keluarga. Buku harian tersebut berada di dalam tumpukan barang-barang bawaan Rasya yang dikembalikan oleh pihak Poltekpel Malahayati Aceh setelah jenazah korban dimakamkan pada Senin, 28 September 2026.
“Saat diserahkan tersebut kita tidak langsung membukanya, namun kita buka beberapa hari kemudian barangnya dibuka bersama tim pengacara,” kenang Nurlaila.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy