Jakarta – Ketimpangan ekonomi Indonesia semakin ekstrem. Hal ini terlihat dari perbandingan kekayaan orang terkaya Indonesia dengan warga biasa, menurut laporan terbaru yang dirilis Center of Economic and Law Studies (Celios).
Laporan bertajuk ‘Pesawat Jet untuk si Kaya, Sepeda untuk si Miskin’ tersebut menyoroti penambahan kekayaan para triliuner yang melonjak drastis ketika kelas pekerja di Tanah Air kesulitan untuk hidup.
“Kekayaan 50 orang terkaya di Indonesia setara dengan kekayaan 50 juta orang Indonesia,” bunyi laporan tersebut seperti dikutip dari Tempo, Jumat, 27 September 2024.
Laporan itu mengungkapkan kenaikan kekayaan tiga triliuner teratas di Indonesia selama 2020-2023, di antaranya Lim Hariyanto Wijaya Sarwono, Low Tuck Kwong, dan Prajogo Pangestu. Total kenaikan kekayaan mereka diperkirakan mencapai angka 174 persen.
Sementara itu, kelas pekerja justru harus bertahan lebih keras seiring pertumbuhan upah yang hanya naik 15 persen. Ketika masyarakat mencoba mencari jalan pintas lewat pinjaman online atau pinjol illegal, mereka malah kembali terjebak dalam utang menggunung karena bunga pinjaman yang tinggi.
“Laporan ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia semakin tidak terdistribusi secara merata. Sejak 2020, kekayaan tiga orang terkaya telah meningkat lebih dari tiga kali lipat, sementara pertumbuhan upah pekerja hanya sebesar 15%,” ujar Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira Adhinegara.
Kekayaan yang tidak terdistribusi dengan merata ini, kata Bhima, harus segera diatasi. Menurutnya akan menjadi ironi ketika rakyat yang berjuang untuk hidup di tengah jebakan siklus utang berbunga tinggi masih saja dibebani berbagai macam tagihan pajak. Sedangkan triliuner Indonesia yang meraup kekayaan dari bisnis di Indonesia justru hidup nyaman di negara tetangga Singapura.
Direktur Keadilan Fiskal Celios, Media Wahyudi Askar, mengatakan pemerintah perlu mengambil langkah tegas untuk mengatasi ketimpangan tersebut.
Kebijakan pengampunan pajak dan insentif fiskal yang ada saat ini, kata dia, justru cenderung menguntungkan perusahaan besar dan orang-orang kaya. “Sementara masyarakat kelas menengah-bawah dipaksa patuh membayar pajak.”[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy