Berserah Diri saat Kesulitan, Begini Penjelasan Ulama

Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar
Rais 'Aam PBNU K.H. Miftachul Akhyar menyampaikan pengajian Kitab Syarah Al-Hikam, Jumat, 15 Agustus 2025. Foto via NU Online

Surabaya – Agama Islam menganjurkan seseorang untuk berserah diri (taslim) ketika tertimpa musibah. Dalam pengertian, bukan hanya berpangku tangan, tetapi mawas diri sekaligus merenungkan solusi atas masalah yang dialami.

Rais ‘Aam PBNU, K.H. Miftachul Akhyar menjelaskan tentang taslim itu saat pertemuan ke-133 Ngaji Kitab Syarah Al-Hikam di Pondok Pesantren Miftachus Sunnah, Surabaya.

Kiai Miftach memaparkan kemampuan seseorang berserah diri ketika mengalami kesempitan berbeda-beda. Sebagian besar mampu dengan jangka waktu tertentu. Namun, ada pula yang tak memerlukan waktu seperti orang-orang makrifat.

“Ada seseorang yang bisa sabar dengan mengalami emosi dulu, mencari penyebab masalah dan solusi masalahnya dulu dan ada pula yang harus dinasihati temannya,” ujar Kiai Miftach, dilansir NU Online, Minggu, 17 Agustus 2025.

Kiai Miftach menegaskan kecenderungan setiap manusia yakni selalu ingin peroleh kesenangan. Padahal, pada saat yang sama ia selalu dibayang-bayangi kesulitan. Baginya, berserah diri dan sabar dalam konteks ini berfungsi sebagai penyeimbang bagi manusia yang berada dalam keniscayaan masa sempit dan lapang.

“Artinya apa, agar kita ini siap selalu siap (baik) di masa susah dan senang. Seseorang yang punya bekal kesadaran ini tidak ada kekhawatiran selanjutnya, meskipun melarat atau kaya, sehat atau sakit,” tutur Ketua Umum MUI tahun 2020-2022 itu.

Kiai Miftach menjelaskan keadaan susah merupakan salah satu bentuk Allah menampakkan kekuasaannya (jalaliyah). Oleh karena itu, manusia dilarang menyangkalnya dengan anggapan Allah tidak adil.

“Allah memberikan kekurangan, kemiskinan, penyakit itu Allah sedang menunjukkan pada kita bahwa Allah itu Zat Yang Mahakuat, punya sifat jalaliyah. Agar kita mengakui Yang Mahakuasa, Mahakuasa itu hanya Allah. Sebaliknya, kalau Allah memberikan kesehatan, anugerah rezeki dan kesuksesan itu bentuk sifat jamaliyah Allah,” tuturnya.

Kiai Miftach menyebut ketenangan bersikap menjadi ciri utama bagi seseorang yang mampu mengendalikan diri ketika salah satu dari dua kondisi kemungkinan tersebut terjadi.[]

 

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy