Khutbah Jumat: Menyongsong Kedatangan Rabiul Awal

tablgih habib ali darusshofamedan 3
Tabligh Akbar memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1446 H di Lapangan Hiraq, Kota Lhokseumawe, Senin, 14 Oktober 2024. Foto: Instagram @darusshofamedan

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah

Pada momentum akhir bulan Safar ini, perlu kiranya kita juga untuk terus melakukan refleksi terhadap segala amaliah dan ibadah kita. Sembari kita menyongsong bulan selanjutnya yakni bulan Rabiul Awwal yang menjadi momentum spesial kelahiran Nabi Muhammad saw.

Bulan Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah setelah bulan Muharram yang identik dengan suasana sepi dan senyap dalam tradisi Arab. Imam Abul Fida Ismail bin Umar ad-Dimisyqi, atau yang lebih dikenal dengan nama Imam Ibnu Katsir menyebutkan dalam Tafsîr Ibnu Katsîr juz IV, halaman 146: “Safar dinamakan dengan nama tersebut, karena sepinya rumah-rumah mereka dari mereka, ketika mereka keluar untuk perang dan bepergian”.

Adanya kesunyian sendiri sering dinilai sebagai momentum tepat untuk melakukan muhasabah, introspeksi, dan refleksi serta kesempatan besar untuk mengenal diri, menata hati, dan memperbaiki arah kehidupan. Kita rasakan bersama, kesibukan sehari-hari sering membuat kita kerap terjebak dalam rutinitas tanpa jeda, hingga lupa untuk mendengarkan suara hati sendiri.

Di sinilah kesunyian hadir sebagai anugerah, menjadi medium refleksi diri untuk meninjau kembali perjalanan hidup, mengukur sejauh mana langkah yang ditempuh, serta menimbang apakah arah hidup kita sudah selaras dengan nilai dan tujuan yang telah kita tekadkan.

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah

Bulan Safar menjadi salah satu momentum tepat untuk melanjutkan dan menguatkan muhasabah yang sudah kita lakukan di bulan Muharram sekaligus menyiapkan diri untuk menyongsong Rabiul Awal. Bulan Rabiul Awal yang juga sering disebut sebagai bulan Maulid merupakan momentum kelahiran Nabi Muhammad yang menjadi Rahmat bagi seluruh alam.

Allah berfirman dalam surat Al-Anbiya’ ayat 107 yang artinya: “Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam”.

Dalam menyambut bulan Maulid, kita seharusnya tidak berhenti pada aspek ritual saja namun juga harus menjadi suntikan semangat untuk memperbaiki kualitas hidup. Dalam menyongsong bulan Maulid, kita harus terus menumbuhkan cinta kepada Rasulullah dengan berbagai ibadah seperti bershalawat. Ibadah shalawat sangat penting karena kita harus mengetahui bahwa jangankan kita manusia biasa, Allah dan para Malaikat-Nya pun bershalawat kepada Nabi Muhammad saw.

Allah berfirman yang artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya”. (QS Al-Ahzab: 56)

Spesialnya ibadah shalawat ini, dalam Kitab Kifayatul Atqiya halaman 48 disebutkan bahwa bershalawat kepada Nabi menjadi amal ibadah yang pasti diterima oleh Allah SWT. Hal ini karena shalawat merupakan wujud penghormatan kepada Nabi Muhammad.

Rasulullah juga telah bersabda yang artinya: “Siapa saja yang membaca shalawat kepadaku sekali, niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali, menghapus sepuluh dosanya, dan mengangkat derajatnya sepuluh tingkatan”. (HR An Nasa’i)

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah

Akhir Safar adalah momentum ideal untuk merefleksi diri menghadapi bulan Rabiul Awal yang penuh dengan momentum spesial. Mari kita jadikan Maulid Nabi Muhammad sebagai momentum spiritual untuk memperbanyak shalawat dan meneladani akhlak Rasulullah.

Mari kita sambut Maulid dengan hati yang bersih, amal yang ikhlas, dan tekad untuk memperbaiki diri. Jadikan bulan ini sebagai penguatan keimanan dan ketakwaan serta penguat cinta kepada Rasulullah. Semoga Allah swt menjadikan setiap langkah kita penuh keberkahan, dan menjadikan cinta kepada Nabi Muhammad saw sebagai cahaya yang menuntun hingga akhir hayat. Amin.

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy