Takengon – Setelah menyelesaikan persoalan di Kampung Pantan Nangka, Bupati Aceh Tengah Haili Yoga meninjau langsung proses pembangunan hunian sementara (huntara) bagi masyarakat terdampak bencana di Kampung Umang, Kecamatan Linge.
Kunjungan dilakukan untuk memastikan kesiapan lahan dan percepatan pembangunan bagi 97 unit huntara yang akan dibangun di kawasan tersebut.
Pantauan media di lokasi, Rabu, 21 Februari 2026, terlihat proses pematangan lahan masih berlangsung, sementara baru dua unit huntara yang mulai terbangun. Setiap unit huntara direncanakan berdiri di atas lahan seluas 10 x 18 meter persegi.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, diperkirakan dibutuhkan lahan sekira empat hingga lima hektare. Adapun lahan awal yang tersedia baru sekira dua hektare.
Haili mengungkapkan huntara di Kampung Umang tidak hanya berorientasi jangka pendek, tetapi dirancang sebagai kawasan hunian tetap (huntap) dalam jangka panjang.
“Pembangunan huntara ini kita arahkan menjadi kawasan hunian tetap. Karena itu, penataan harus matang, termasuk lokasi masjid dan pos pelayanan kesehatan di dalam kawasan,” ujarnya.
Haili menjelaskan fokus saat ini pada penambahan dan pematangan lahan yang membutuhkan waktu serta dukungan alat berat.
Menurutnya, pemerintah daerah bersama instansi terkait terus melakukan pengukuran dan perencanaan ulang agar seluruh kebutuhan masyarakat terpenuhi optimal.
Baca juga: Data Rumah Rusak Tak Sinkron, Pembangunan Huntara di Pantan Nangka Aceh Tengah Tersendat
Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Aceh Tengah Iwan Januari menyebutkan dari lahan awal tersedia hanya mampu menampung 40 hingga 50 unit huntara.
Untuk itu, pemerintah bersama Dinas Pertanahan dan pihak kampung akan menghitung serta mendesain ulang kebutuhan lahan tambahan untuk sisa unit yang akan dibangun.
“Konsepnya tidak berhenti di huntara. Di depan huntara akan disiapkan huntap, sehingga kawasan ini dapat menjadi model penataan permukiman pascabencana di Aceh Tengah.”
Sementara Reje Kampung Umang Wahyu Putra meluruskan isu keterlambatan pembangunan huntara. Wahyu mengatakan tidak ada kelambanan dari pemerintah, melainkan proses penyiapan lahan yang memang membutuhkan waktu demi keamanan dan kelayakan jangka panjang.
“Kami tidak ingin terburu-buru. Masyarakat ingin hasil yang baik karena tujuan kami bukan hanya huntara, tetapi sampai ke huntap. Pemerintah juga selalu aktif di lapangan, material dan dukungan sudah tersedia, hanya kondisi lahan yang harus dimatangkan terlebih dahulu.”[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy