Lhokseumawe, Line1News – Jeritan warga di Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe terkait ketiadaan suplai air bersih dari PDAM Ie Beusaree Rata kian memprihatinkan. Sudah sebulan lamanya, keran-keran di rumah pelanggan mengering, memaksa masyarakat merogoh kocek lebih dalam hingga menggunakan air yang tak layak konsumsi.
Tokoh masyarakat Gampong Blang Naleung Mameh, Ridwan ZA, membeberkan kondisi sulit yang dialami warga. Menurutnya, suplai air bersih sudah terhenti selama lebih dari sebulan tanpa ada solusi konkret dari pemerintah daerah.
“Ka sibeuleun leubeh hana udep ie di Blang Naleung Mameh dan sekitarnya. Dipeugah hana ngon bloe tawah (Sudah lebih sebulan air tidak mengalir. Katanya, pihak PDAM tidak punya dana untuk beli tawas),” ungkap Ridwan ZA dengan nada kecewa saat dihubungi Line1News melalui telepon, Senin, 11 Mei 2026, pukul 15.05 waktu Aceh.
Beban Ekonomi dan “Air Kopi Hitam”
Demi memenuhi kebutuhan MCK (mandi, cuci, kakus), warga terpaksa membeli air dari mobil tangki yang mengambil air sumur bor di kawasan Rancong. “Kami beli Rp50 ribu per ton,” kata Ridwan.
“Seharusjih pemerintah, hal-hal lagee nyoe bek sampe ditamah beban rakyat. Nyoe meu tingkat tawah hana ngon dibloe peutra nyan perusahaan daerah? (Untuk kebutuhan dasar seperti air seharusnya tidak menjadi beban tambahan. Masa hanya untuk beli tawas saja perusahaan daerah tidak mampu?” tegasnya.
Pada Senin hari ini, Ridwan mengaku terpaksa mengisi bak penampungannya dengan air sumur yang kondisinya sangat jauh dari standar kesehatan. “Uroe nyoe kamoe pasoe ie mon lage warna kupi (Hari ini kami terpaksa isi bak dengan air sumur yang warnanya mirip air kopi hitam),” ketusnya menggambarkan betapa buruknya kualitas air yang terpaksa mereka gunakan.

[Warga Gampong Blang Naleung Mameh mengisi bak penampungan di rumahnya dengan air sumur yang mirip air kopi hitam lantaran tidak ada suplai air PDAM, Senin, 11 Mei 2026. Foto kiriman Ridwan ZA kepada Line1News]
Jawaban PDAM: Masalah Biaya
Kondisi ini dikonfirmasi oleh Ricco Andrian, mantan Plt. Direktur PDAM Ie Beusaree Rata yang kini menjabat sebagai Dewan Pengawas (Dewas). Ia mengakui adanya kendala finansial yang menghambat operasional perusahaan.
“Iya, benar. Kami kekurangan biaya untuk membeli tawas. Namun, insya Allah dalam waktu dekat kami akan kembali menyuplai air ke pelanggan,” ujar Ricco menjawab Line1News melalui pesan WhatsApp, Senin (11/5) sore.
Estafet di Tengah Badai
Krisis air ini menjadi “kado pahit” bagi Eva Julianti, yang baru saja ditunjuk oleh Wali Kota Lhokseumawe, Sayuti Abubakar, sebagai Plt. Direktur PDAM yang baru berdasarkan SK Nomor 100.3.3.3-318 tanggal 6 Mei 2026.
Eva, yang juga menjabat Kabid Tata Ruang Dinas PUPR Lhokseumawe, kini memikul beban berat untuk menormalisasi distribusi air di tengah “keringnya” kas perusahaan. Sementara itu, Ricco Andrian yang sebelumnya menjabat Plt. Direktur sejak 1 November 2025 hingga 1 Mei 2026, kini akan mengawasi jalannya perusahaan dari kursi Dewas untuk periode 2026-2030.
Baca Juga: Wali Kota Sayuti Tunjuk Eva Julianti Jadi Plt Direktur PDAM Ie Beusaree Rata, Ricco Andrian Dewas
Publik kini menanti langkah cepat dari duet Eva dan Ricco. Akankah air kembali mengalir jernih, atau banyak warga Muara Satu harus terus pasrah dengan air “kopi hitam”?[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy