Lhokseumawe, Line1News – Suasana khidmat dan penuh kekeluargaan menyelimuti Pendopo Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i Aceh di Desa Meunasah Mee, Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe, Kamis, 11 Juni 2026. Ratusan jamaah bersama warga setempat berkumpul dengan satu tujuan: mengenang dan memuliakan rekam jejak perjuangan ulama panutan mereka, almarhum Abu Usman Ibni Abdillah, atau yang akrab disapa Abati Banda Dua.
Peringatan wafat (Haul) ke-5 sang pimpinan Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i Aceh ini bukan sekadar ritual tahunan di bulan Zulhijjah. Momentum ini menjadi ruang refleksi bagi umat untuk kembali menyelami kegigihan almarhum dalam membebaskan masyarakat dari belenggu ketidaktahuan lewat jalur pendidikan (tarbiyah).
Acara ini turut dihadiri oleh jajaran pejabat dari Pemerintah Kota Lhokseumawe, perwakilan Kapolres Lhokseumawe, perwakilan Wali Kota, Kapolsek Muara Dua, Danramil Muara Dua, serta tokoh masyarakat setempat yang larut dalam doa bersama.
Menghidupkan Kembali Kejayaan Masa Lalu
Bagi para penerusnya, cita-cita Abati Banda Dua begitu besar dan melampaui zamannya. Semasa hidup, ulama tersebut memiliki kerinduan mendalam untuk membawa Aceh kembali ke era emasnya.
“Cita-cita beliau ingin mengembalikan Aceh ini seperti masa Sultan Malikussaleh. Bagi beliau, Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i adalah warisan agung dari Sultan Malikussaleh yang harus dijaga agar Aceh kembali bermartabat,” kenang Pimpinan Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i Aceh saat ini, Teungku Ahmad (Abon Banda Dua), Sabtu (13/6/2026).
Satu Dekade Berkelana Memburu Ilmu
Lahir pada tahun 1950, perjalanan hidup Abati Banda Dua adalah potret sejati seorang pencari ilmu. Langkah pertamanya dimulai di bawah bimbingan sang ayah, Teungku Abdullah (Abdillah). Haus akan pengetahuan agama membawa Usman muda mengembara dari satu dayah ke dayah lainnya, berguru langsung pada ulama-ulama kharismatik Aceh.
“Beliau menghabiskan waktu 7 tahun menimba ilmu di dayah Abu Cot Ceubrek, Abu Ibrahim (Simpang Keuramat, Aceh Utara)—murid dari Abuya Syekh Hasan Krueng Kalee,” ujar Abon.
Tak berhenti di situ, pencarian rida ilmu membawanya takzim di hadapan Abu Tanoh Mirah (murid Abuya Muda Waly), lalu berlanjut ke dayah Abu Tumin Blang Bladeh.
Langkah kakinya kemudian mengarah ke Banda Aceh untuk mengaji pada Abu Ishak Ulee Titi, sebelum akhirnya memperdalam ilmu politik Islam serta ilmu falak (astronomi) kepada Abu Lam Ateuk dan Abu Lamno.
Warisan untuk Umat dan Bangsa
Bekal spiritual dan intelektual yang matang itulah yang menggerakkan Abati Banda Dua untuk membangkitkan kembali keuneubah (warisan) Sultan Malikussaleh. Puncaknya terjadi pada tahun 2013, saat beliau mendeklarasikan kembali Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i di Banda Dua, Gampong Alue Lim, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe.
Di mata masyarakat, Abati Banda Dua bukan hanya seorang guru spiritual, melainkan juga sosok penyejuk di ranah sosial-politik.
“Beliau membangkitkan perjuangan tarbiyah ini agar umat Islam tidak hidup dalam kejahilan. Sebagai tokoh, beliau juga aktif membantu pemerintah dalam memperbaiki moral bangsa. Harapan beliau sederhana namun mendalam: agar rakyat memiliki akhlak yang mulia dan hidupnya diterangi oleh ilmu Allah,” pungkas Abon Banda Dua dengan nada haru.
Lantunan Doa dan Kehangatan Kenduri
Kekhusyukan acara kian terasa saat para jamaah lintas generasi—mulai dari tokoh sepuh hingga santri muda yang mengenakan seragam hijau khas Tarbiyah Islamiyah—duduk bersila memanjatkan zikir dan doa bersama. Kehadiran generasi muda ini mempertegas pesan bahwa api semangat perjuangan ilmu yang ditinggalkan almarhum tidak akan pernah padam.
Seusai doa bersama, halaman pendopo berubah menjadi ruang silaturahmi yang hangat melalui tradisi kenduri atau makan bersama. Para pejabat, ulama, dan warga membaur tanpa sekat menikmati hidangan yang disediakan panitia.
Tradisi kenduri ini menjadi simbol kuat dari ajaran almarhum Abati Banda Dua semasa hidupnya, yaitu pentingnya menjaga ukhuwah islamiyah (persaudaraan sesama muslim) dan kepedulian sosial. Melalui kehangatan kebersamaan ini, pesan dan keteladanan Abati Banda Dua kini terus hidup dan dirawat bersama oleh seluruh lapisan masyarakat yang mencintainya.



[Foto-foto: Istimewa][]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy