Aidul Qurban dan Pesan Pendidikan Untuk Para Ayah

Muhammad Syahrial Razali Ibrahim. Foto: Dok Pribadi
Muhammad Syahrial Razali Ibrahim. Foto: Dok Pribadi

Oleh: Muhammad Syahrial Razali Ibrahim, Ph.D.

Syariat qurban yang dilaksanakan umat Islam setiap tahunnya tidak lain adalah wujud kepatuhan seorang mukmin kepada Allah Swt, dan bukti pengorbanannya pada agama. Di samping itu tentu sebagai bentuk rasa syukur serta keinginan untuk berbagi sesama kaum Muslimin. Dalam Bahasa lainnya, penyembelihan hewan qurban merupakan manifestasi dari firman Allah, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, maka dirikanlah shalat untuk Tuhanmu; dan berkorbanlah”, (al-Kautsar: 1 – 2).

Namun tidak berhenti sampai di situ, ibadah qurban yang memiliki akar sejarah panjang dan sangat kuat, menyimpan banyak pelajaran penting dan pesan moral untuk kehidupan kita. Salah satu dari yang terpenting adalah tanggung jawab dan peran seorang ayah dalam mendidik anaknya, yang di sini dilakoni oleh Ibrahim dan Ismail.

Syariat qurban dalam Islam mengacu kepada kisah perjalanan Ibrahim dan anaknya Ismail sebagaimana terungkap dalam al-Quran surah al-Shaffat 102 hingga 107. Allah menceritakan bagaimana suatu hari Ibrahim melihat dalam mimpinya bahwa ia menyembelih putranya Ismail. Setelah menyampaikan perihal tersebut kepada Ismail, dengan mantap dan lantang sang anak berkata, “Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar“.

Singkat cerita, Ibrahim membawa Ismail dan benar-benar menyembelihnya. Namun Allah berkehendak lain, pisau tajam Ibrahim ternyata tak mampu melukai leher Ismail. Sehingga pada akhirnya ia ditebus dengan seekor sembelihan (kambing) besar. Allah berfirman, “Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sungguh demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik”.

Singkat namun padat, kisah di atas menegaskan kepada kita tentang seorang ayah yang bernama Ibarahim berhasil membuat anaknya Ismail memiliki kepatuhan yang tak tertandingi. Ia rela disembelih oleh ayahnya sendiri, semata-mata demi menjalankan perintah Allah Swt. Kisah keberhasilan Ibrahim membentuk watak patuh pada Ismail harusnya menginspirasi setiap ayah untuk mewujudkan anak-anaknya menjadi generasi bermoral dan taat beragama.

Ayah Sebagai Aktor Pendidikan

Harus diakui, sadar atau tidak, banyak ayah pada hari ini fokus memikul beban nafkah dan sibuk di luar rumah. Ia lupa, atau tidak tahu, bahwa ada kewajiban lainnya yang sangat penting selalu menunggunya di rumah, yaitu mendidik dan membersamai anak-anaknya. Dalam Islam, tanggung jawab anak, lahir batinnya ada di pundak seorang ayah. Meskipun sang ibu ikut membantu, tetapi bukan tugas utamanya.

Nabi dalam satu hadisnya dengan tegas bersabda, “Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah (suci/baik), orang tuanyalah yang membuat anak (menyimpang) menjadi Yahudi, Nasarani atau Majusi”, (HR: Bukhari). Orang tua yang diucapkan nabi pada hadis ini menggunakan ungkapan “abawahu” berakar pada kata “abun” yang bermakna ayah. Artinya, leading sector pendidikan rumah tangga adalah sang ayah, bukan ibu.

Dan begitulah faktanya yang dapat ditelusuri dan dibaca dalam al-Quran. Saat berbicara tentang hubungan anak dan orang tua, selalu saja aktor utama yang muncul adalah ayah, bukan ibu. Allah mengisahkan seorang ayah yang tak pernah mengenal lelah, apalagi berputus asa dalam mendidik, mengajak dan menasihati anaknya, yaitu Nuh. Setelahnya ada nabi Ya’qub dengan anak-anaknya yang bandel, tetapi ia hadapi dengan penuh sabar, kasih sayang dan kemaafan. Zakariya yang tak tak pernah berhenti berdoa agar diberi keturunan dan dikaruniai anak yang shalih. Begitu juga Lukmanul Hakim, dengan kebijaksanaannya telah mengajarkan para ayah tentang hal-hal penting yang harus diketahui dan diajari untuk anak. Begitulah Ibrahim dengan penuh santun mendidik anaknya Ismail yang salah satu cuplikan perjalanan panjang pendidikan itu diperingati dengan ibadah qurban.

Ketika Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”, (al-Tahrim: 6), ini ditujukan kepada para ayah. Artinya, sang ayah berkewajiban mendidik anak-anaknya agar mereka benar-benar menjadi manusia yang baik, sehingga sukses di dunia dan selamat di akhirat. Begitu juga firman Allah, “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya”, (Taha: 132). Ayah harus memastikan anak-anaknya taat dan patuh beragama, menjadi insan yang berakhlak dan berintegritas.

Fakta bahwa 25,8 % anak-anak Indonesia tumbuh tanpa kehadiran sang ayah secara emosional dan sosial (fatherless) perlu menjadi perhatian serius. Artinya, lebih seperempat anak-anak Indonesia hidup tanpa ayah secara substansial. Banyak anak-anak usia sekolah hari ini terlibat judol, kecanduan game online, narkoba, begal, dan ragam problem sosial lainnya. Buat anak-anak, dunia hari ini tidak lagi seaman dan seramah dulu, dua puluh atau tiga puluh tahun yang lalu. Maka sangat tidak rasional jika mereka hanya ditangani oleh seorang ibu tanpa dinahkodai oleh sang ayah. Apalagi berharap dan mengulurkan tangan pada pemerintah, rasanya agak “berlebihan” meskipun itu amanah UUD.

Teringat pepatah Melayu, “Berharap burung terbang tinggi, punai di tangan dilepaskan”. Sangat bijaksanalah Rasulullah Saw yang menitipkan anak-anak pada orang tuanya, pada ayahnya, tidak pada yang lain-lain, karena mereka adalah darah dagingnya. Wallahua’lam.[]

Baca Juga: Zulhijjah dan Kelesuan “Hari Libur” Idul Adha

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy