Banda Aceh, Line1News – Koalisi Masyarakat Sipil Peduli Bencana Aceh menggelar aksi damai dan mengibarkan bendera putih di depan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, Jumat, 14 Agustus 2026.
Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk kekecewaan terhadap penanganan bencana yang menerjang Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara pada akhir November 2025 lalu.
Massa aksi turut membawa spanduk kritikan terhadap penanganan bencana banjir seperti “Negara Gagal Pulihkan Bencana Sumatra” dan “Tetapkan Status Bencana Nasional Aceh Sumatra”, serta poster-poster bernada protes.
Koalisi masyarakat sipil menilai, pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto lebih mementingkan program yang menguras anggaran negara, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), Universitas Republik Indonesia (URI), dan Batalyon Teritorial Pembangunan (BTP).
Koordinator aksi, Rahmat Maulidin, menuturkan bahwa aksi bendera putih sebagai simbol kegagalan pengurus negara dalam menangani bencana ekologis Aceh – Sumatra.
“Melalui aksi ini kami ingin menyatakan bahwa pemerintah tidak memprioritaskan percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi bencana ekologis Aceh-Sumatra,” kata Maulidin.
Menurutnya, sejak awal bencana sikap dan kebijakan pemerintah tidak jelas untuk menangani bencana. Pemerintah tidak menetapkan bencana ekologis Aceh-Sumatra sebagai bencana nasional.
“Hal ini berdampak pada tidak jelasnya kebijakan rehabilitasi dan rekonstruksi, serta berpengaruh terhadap ketidakpastian kebijakan anggaran dan mekanisme pelaksanaannya,” jelasnya.
Maulidin mengatakan, di berbagai daerah seperti Gayo Lues dan Aceh Utara masih dilanda banjir, bahkan terbaru banjir terjadi di Aceh Barat Daya (Abdya).
“Kami tegaskan bahwa bencana ekologis Aceh-Sumatra belum berakhir, bencana masih berlangsung hingga saat ini,” ucapnya.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy