Lhokseumawe, Line1News – Tepuk tangan riuh dan binar mata ratusan santri seketika berubah menjadi keharuan yang mendalam. Di tengah kemegahan panggung seni, sebuah kejutan manis datang dari Jakarta. Melalui sebuah tayangan video singkat, Menteri Agama Republik Indonesia, Profesor K.H. Nasaruddin Umar, menyapa langsung dan menyampaikan apresiasi yang sangat hangat atas terselenggaranya Panggung Gembira Angkatan ke-30 “Invictus Nexus Generation” Tahun 2026.
Gemerlap pagelaran seni tahunan ini berpusat di Kompleks Pesantren Modern Misbahul Ulum (PMMU), Desa Meuria Paloh, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe, pada Jumat malam, 11 September 2026.
Dalam pesannya, Menag tidak sekadar memberi selamat, namun ikut mengulas kembali perjalanan panjang pesantren yang berdiri kokoh sejak tahun 1993 tersebut. Baginya, lembaga pendidikan berbasis pesantren ini telah bermetamorfosis dari sebuah madrasah di pelosok desa menjadi pusat keilmuan dan peradaban Islam yang disegani.
“Lebih dari 4.000 alumni adalah jejak kontribusi pesantren ini dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Para alumni yang tersebar hingga ke Mesir, Timur Tengah, Asia, hingga Australia adalah bukti keberkahan, keikhlasan, dan dedikasi tanpa lelah para kiai dan ustaz-ustazah,” ujar Nasaruddin Umar dengan nada penuh takzim terhadap perjuangan para pendidik di sana.
Filosofi di Balik Nama “Invictus Nexus“
Hal yang menarik perhatian, Menag secara khusus membedah nama angkatan ke-30 santri PMMU, “Invictus Nexus Generation“. Di matanya, nama tersebut bukan sekadar jargon keren anak muda, melainkan sebuah doa dan visi besar yang sangat relevan dengan tantangan zaman modern.
“Invictus melambangkan jiwa pejuang yang tangguh, tak tergoyahkan oleh hempasan zaman, serta teguh berdiri di atas prinsip keimanan. Sedangkan Nexus mencerminkan peran santri sebagai jembatan peradaban yang menghubungkan tradisi keilmuan Islam (turats) dengan kemajuan sains dan teknologi modern, serta merajut ukhuwah untuk kebaikan umat,” jelas sosok kiai kharismatik tersebut.
Nasaruddin Umar menitipkan harapan besar di pundak para santri. Di tengah derasnya arus globalisasi dan disrupsi digital yang sering kali menggerus moral, ia meminta anak-anak muda ini tetap berdiri tegak dengan pendekatan yang bijak, ilmiah, serta berakhlakul karimah.
“Tunjukkan bahwa santri PMMU tidak hanya mampu bersaing di kancah global, tetapi juga mampu menjadi pilar kedamaian dan kemajuan bangsanya. Panggung gembira ini bukan sekadar pentas seni, melainkan wujud kepemimpinan, kreativitas, idan kemandirian santri,” tambahnya memberikan suntikan motivasi.
Pintu Gerbang Menuju Pengabdian Dunia
Bagi para santri kelas akhir yang merancang acara ini dengan cucuran keringat dan latihan berbulan-bulan, pesan dari orang nomor satu di Kementerian Agama ini menjadi penawar lelah yang luar biasa. Panggung Gembira malam itu bukan lagi sekadar ajang unjuk bakat, melainkan sebuah ujian kepemimpinan yang sesungguhnya sebelum mereka melangkah keluar dari gerbang pesantren.
Mengakhiri keterangannya, Menteri Agama berharap momentum pementasan seni budaya ini menjadi pijakan awal bagi para santri untuk mengepakkan sayap pengabdian yang lebih luas demi keberhasilan di dunia dan akhirat.
“Semoga santri menjadi generasi pencetus peradaban yang membanggakan Aceh, Indonesia, dan dunia Islam,” pungkasnya menutup pesan.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy