Haji Uma Minta Kematian Taruna Poltekpel Malahayati Aceh Diusut Tuntas

Haji Uma DPD RI
Anggota DPD RI asal Aceh, Sudirman Haji Uma. Foto: Dok/Istimewa

Banda Aceh, Line1News – Anggota DPD RI asal Aceh, Sudirman Haji Uma, meminta kematian Muhammad Rasya Fadhilla, 18 tahun, taruna Poltekpel Malahayati Aceh diusut tuntas. Hal ini untuk mengetahui apakah terdapat unsur kekerasan atau faktor kelalaian akademik.

Diketahui, taruna asal Gampong Meunasah Mee, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe itu tengah mengikuti proses tahapan Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek) di Poltekpel Malahayati Aceh.

“Ini sudah tidak dapat ditolerir. Secara aturan kan sudah tidak ada lagi Ospek yang mengedepankan perlakuan fisik. Harus diusut indikatornya, apakah ini ulah senioritas atau kelalaian dari akademik,” kata Haji Uma dalam keterangannya, Senin, 28 September 2026.

Haji Uma juga menyoroti sinkronisasi aturan. Di antaranya, pertama, Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi (PPKPT) yang secara tegas melarang segala bentuk kekerasan fisik, perundungan, dan senioritas dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus (PKKMB) atau Ospek.

Kedua, Standar Pembinaan Taruna Kementerian Perhubungan yang melarang metode pembinaan berbasis kekerasan fisik. Ketiga, SOP kesehatan kampus dan rujukan medis.

“Jika taruna sudah demam 39,7 derajat sejak tanggal 26 [September], mengapa baru dirujuk tanggal 27 siang saat sudah ruam menyeluruh? Ini indikator kelalaian yang harus dijawab,” tegas Haji Uma.

Anggota Komite I DPD RI ini mendesak tiga hal. Pertama, meminta Polresta Banda Aceh melakukan penyelidikan terbuka dan transparan, termasuk visum dan autopsi jika dibutuhkan keluarga.

Kedua, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kemenhub melakukan audit total sistem pembinaan dan pengawasan di Poltekpel Malahayati Aceh.

Selanjutnya, memberikan sanksi tegas, baik pidana jika terbukti ada kekerasan senioritas, maupun sanksi administratif dan pencopotan jabatan jika terbukti ada kelalaian akademik.

Haji Uma menyampaikan bahwa orang tua dari taruna dari berbagai daerah menitipkan anaknya untuk dididik menjadi perwira pelayaran dan menjadi abdi negara.

“Bukan untuk pulang dalam peti jenazah. Jangan sampai kekerasan dibungkus dengan dalih pembinaan, pendisiplinan, atau tradisi senior,” pungkas Haji Uma.[]

Baca Juga: 

● Ratapan Pilu Ibu Taruna Poltekpel Malahayati: “Abang Pengin Menikah Pakai Pedang Pora, Bunda…”

● Polisi Selidiki Penyebab Kematian Taruna Poltekpel Malahayati Aceh

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy