Makkah – Suara Hartati Musirun Mukmin (56) mendadak bergetar saat ingatan mampir pada malam paling kelam dalam hidupnya. Hujan deras yang mengguyur Aceh Tamiang malam itu berubah menjadi air bah. Banjir bandang datang tanpa ampun, menerjang rumah kayu peninggalan orang tuanya hingga nyaris tak bersisa.
Dalam hitungan menit, rumahnya berubah menjadi timbunan lumpur dan kayu. Dokumen penting, pakaian, perabot rumah, hingga berkas pendaftaran haji miliknya hanyut tersapu arus.
“Air naik sangat cepat. Kami tidak sempat menyelamatkan barang-barang,” tutur Hartati lirih kepada Tim Media Center Haji (MCH) di Makkah, Sabtu, 16 Mei 2026.
Di tengah duka kehilangan harta benda, sebuah keajaiban besar sedang menjemputnya. Perempuan paruh baya ini justru sedang bersiap memenuhi panggilan suci menuju Baitullah.
Keteguhan di Tengah Ujian Bertubi-tubi
Perjalanan Hartati menuju Tanah Haram bukan kisah yang lahir dari kemudahan hidup. Ia mendaftar haji bersama suaminya, Muhammad Sofyan, bertahun-tahun silam. Namun takdir berkata lain, sang suami berpulang ke Rahmatullah pada 2014 sebelum impian mereka terwujud.
Seantaro hidupnya kemudian berubah. Hartati harus bertarung sendirian sebagai ibu tunggal. Dalam keterbatasan ekonomi, ia membesarkan anak-anaknya dengan penuh kesabaran. Di dalam hatinya, sebuah harapan kecil terus dirawat: melihat Ka’bah dengan mata kepala sendiri.
Harapan itu nyaris padam saat banjir merenggut segalanya. Rumahnya hancur, tabungannya habis. Namun, di titik terendah itulah pertolongan Allah datang lewat tangan ketiga anaknya. Mereka bergotong royong, menyisihkan rezeki demi melunasi sisa biaya setoran haji sang ibu.
“Saya sendiri sebenarnya tidak punya uang lagi. Rumah di kampung saja belum bisa diperbaiki,” katanya menahan tangis yang pecah.
Buah Manis Kesabaran dan Bakti Anak
Kisah keteguhan hati Hartati memantik rasa haru mendalam bagi banyak pihak di Tanah Suci. Khairul Huda, Petugas Haji Aceh, menyebut kisah Hartati sebagai potret nyata tentang kekuatan doa dan kesabaran seorang hamba dalam menghadapi ujian hidup.
“Tidak semua orang yang kehilangan harta masih mampu menjaga harapan dan keyakinannya seperti Ibu Hartati. Ini pelajaran besar bagi kita semua bahwa Allah selalu punya cara memuliakan hamba-Nya,” ujar Khairul.
Menurut Khairul, dukungan gotong royong dari ketiga anaknya di tengah kondisi rumah yang rusak akibat banjir adalah contoh nyata bakti luar biasa yang patut diteladani oleh masyarakat luas. Ia berharap kisah ini menjadi motivasi agar manusia tidak mudah menyerah. “Kadang manusia merasa semua jalan tertutup, tetapi Allah membuka jalan lain yang tidak pernah diduga,” tambahnya.
Pujian senada datang dari Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Aceh Tamiang, Teungku Mustofa Abdussalamsyah. Menurutnya, musibah tidak seharusnya membuat seseorang menyerah, melainkan menjadi penguat untuk semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
“Beliau kehilangan rumah dan harta benda, tetapi tidak kehilangan keyakinan. Justru di tengah ujian berat itu Allah memuliakannya menjadi tamu-Nya di Tanah Suci. Ini menunjukkan bahwa pertolongan Allah bisa datang dari arah yang tidak disangka-sangka,” ungkap Teungku Mustofa, dilansir NU Online pada Sabtu (16/5).
Berkah Berlipat di Tanah Suci
Kini, Hartati berada di Kota Suci Makkah bersama ribuan jemaah asal Serambi Mekkah lainnya. Di tengah hiruk-pikuk dan keagungan Masjidil Haram, bayangan rumahnya yang tertimbun lumpur di kampung halaman sesekali masih melintas di benak.
Namun, perempuan bersahaja ini memilih meluruhkan seluruh kekhawatirannya di pelataran Ka’bah. Langkah kakinya ke Tanah Suci bahkan disambut dengan keberkahan berlipat. Hartati menjadi salah satu jemaah yang menerima dana kompensasi Wakaf Baitul Asyi sebesar 2.000 riyal (sekitar Rp9,2 juta) yang diserahkan oleh Nazir Wakaf, Syaikh Abdul Latif Muhammad Baltu di wilayah Jarwal.
Baca Juga: Cair! Jemaah Haji Aceh Terima 2.000 Riyal dari Wakaf Baitul Asyi Berusia 2 Abad, Ini Kisahnya
Sambil menggenggam berkah tersebut, Hartati menggantungkan seluruh sisa hidup dan nasibnya kepada Sang Pemilik Semesta. “Saya yakin pulang dari sini Allah akan beri rezeki,” ucapnya dengan mata yang masih basah namun memancarkan ketegaran.
Banjir di Aceh Tamiang mungkin telah meruntuhkan dinding rumah Hartati dan menguburnya dalam lumpur. Namun, bencana itu terbukti gagal menghancurkan keyakinannya. Dari puing-puing ujian yang berat, perempuan sederhana ini justru melangkah pasti, menemukan jalan kemuliaan menuju Baitullah.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy