ESDM Aceh Minta Warga Waspadai Lubang Longsor di Pondok Balik Ketol

Lubang longsor di Pondok Balik
Lubang longsor di Pondok Balik, Ketol, Aceh Tengah. Foto: Dinas ESDM Aceh

Banda Aceh — Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh Taufik meminta warga mewaspadai lubang longsor di Gampong Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah. Menurutnya, di lubang tersebut masih ada potensi pergerakan tanah secara aktif.

Taufik mengatakan zona gerakan tanah aktif tersebut telah lama teridentifikasi. Dinas ESDM Aceh sebelumnya telah melakukan kajian teknis mendalam melalui survei ortofoto, pengukuran geolistrik, serta pengukuran menggunakan ADMT/AGR. Hasilnya menunjukkan pergerakan tanah di lokasi tersebut bersifat lambat namun progresif.

Selain itu, terungkap bahwa kawasan Pondok Balik tersusun oleh material vulkanik lapuk dari Formasi Satuan Lampahan (Qvl) yang bersifat permeabel pada kedalaman tertentu dan mudah jenuh air.

Data ortofoto menunjukkan dalam periode tertentu pernah terjadi pergerakan tanah hingga beberapa meter ke arah tenggara, searah dengan potensi longsoran yang teridentifikasi dari hasil pengukuran bawah permukaan.

“Kondisi geologi seperti ini menyebabkan kawasan Pondok Balik dan sekitarnya sangat rentan terhadap gerakan tanah berulang, sehingga memerlukan perhatian serius dan penanganan yang terencana,” ujarnya dikutip dari Laman Dinas ESDM Aceh, Selasa, 3 Februari 2026.

Selain Ketol, tim Dinas ESDM Aceh juga mencatat longsor tersebar di beberapa wilayah Aceh Tengah, terutama pada daerah lereng curam. Banyaknya rekahan di bagian atas mahkota longsor menjadi indikasi pergerakan tanah masih berlangsung secara perlahan dan dapat berkembang menjadi longsor susulan.

“Berdasarkan hasil peninjauan lapangan, kami menemukan bahwa di beberapa lokasi longsor lama masih dijumpai rekahan tanah yang cukup berkembang pada bagian mahkota longsoran. Kondisi ini menunjukkan bahwa massa tanah tersebut belum stabil sepenuhnya dan masih berpotensi bergerak kembali, terutama saat terjadi hujan dengan intensitas menengah-tinggi,” ujar Taufik.

Beberapa lokasi yang menjadi perhatian antara lain sepanjang ruas Jalan Bireuen–Takengon, serta kawasan permukiman dan lereng di Desa Mendale dan Desa Payareje (Kecamatan Kebayakan), Desa Hakim Bale Bujang (Kecamatan Lut Tawar), wilayah Kecamatan Bintang serta desa-desa lainnya di Kabupaten Aceh Tengah.

Daerah-daerah tersebut, kata Taufik, umumnya tersusun oleh material vulkanik lepas seperti tufa dan pasir, dengan kondisi lereng curam, sehingga sangat rentan longsor, terutama saat curah hujan menengah-tinggi atau gempa bumi.

Karena itu, warga dan pengguna jalan di kawasan-kawasan tersebut diimbau meningkatkan kewaspadaan, menghindari tebing-tebing rawan longsor, serta memperhatikan rambu peringatan yang telah dipasang.

Baca juga: Antisipasi Lubang Longsor Pondok Balik, PLN Pindahkan Sutet Nomor 76

Sebagai langkah mitigasi, Taufik juga mengimbau pemerintah daerah dan instansi terkait meningkatkan kewaspadaan serta pengawasan terhadap daerah-daerah rawan gerakan tanah, khususnya pada lokasi bekas longsoran yang masih menunjukkan rekahan aktif.

Dia juga menekankan pentingnya pengendalian air permukaan dan sistem drainase, mengingat air hujan merupakan salah satu faktor utama yang memicu peningkatan tekanan air pori dan melemahkan kestabilan lereng.

“Pada lokasi-lokasi tertentu yang dinilai berisiko tinggi terhadap infrastruktur, termasuk ruas jalan strategis, opsi relokasi trase jalan perlu dipertimbangkan sebagai solusi jangka panjang yang lebih aman,” ujarnya.

Tak hanya itu, pemantauan berkala terhadap pergerakan tanah perlu terus dilakukan melalui pengamatan lapangan dan pengukuran teknis lanjutan, terutama pada musim hujan. Pemasangan rambu peringatan dan pembatasan aktivitas di sekitar zona rawan longsor juga dinilai penting untuk mengurangi risiko terhadap keselamatan masyarakat dan pengguna jalan.

Taufik juga meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas yang dapat mempercepat terjadinya gerakan tanah, seperti pembukaan lereng tanpa kaidah teknis, serta segera melaporkan kepada pihak berwenang apabila menemukan tanda-tanda awal gerakan tanah, seperti munculnya rekahan tanah, pohon atau tiang yang miring, maupun perubahan aliran air.

“Upaya mitigasi gerakan tanah membutuhkan kerja sama semua pihak. Kewaspadaan dini dan penanganan yang tepat akan sangat membantu mengurangi risiko dan dampak bencana di kemudian hari.”[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy