Los Angeles – Tahun 2026 menjadi tahun yang liar bagi genre horor. Mulai dari kejutan box office berbiaya rendah seperti “Backrooms” dan “Obsession”, hingga sekuel yang sebenarnya bisa dilewatkan begitu saja seperti “Scream 7” dan “The Strangers – Chapter 3”.
Di tengah banjirnya film-film menegangkan tahun ini, banyak di antaranya yang sukses memuaskan penonton dan meramaikan bioskop. Melansir Variety, 16 Oktober 2026, berikut deretan film horor paling menonjol sepanjang 2026 sejauh ini, lengkap dengan beberapa judul honorable mentions.
Catatan: Sejumlah film genre lain yang sempat rilis tahun ini—seperti “Onslaught” karya Adam Wingard, “Hope” dari Na Hong-jin, dan “The End of Oak Street” besutan David Robert Mitchell—memang bersinggungan dengan elemen horor, namun dinilai lebih pas masuk dalam kategori aksi, fiksi ilmiah, atau petualangan.
Selain itu, daftar ini hanya merangkum film yang rilis penuh di 2026; film-film festival atau yang belum tayang di bioskop (seperti “Victorian Psycho” karya Zachary Wigon atau “Werwulf” dari Robert Eggers) belum masuk hitungan.
Honorable Mentions (Film Pilihan yang Tetap Layak Tonton):
◙ Send Help (20th Century Studios):
Ajang kembalinya Sam Raimi ke ranah horor lewat survival thriller penuh gaya. Dibintangi Rachel McAdams dan Dylan O’Brien sebagai dua rekan sekantor yang sering berselisih, namun terpaksa berjuang bertahan hidup di pulau terpencil usai kecelakaan pesawat. Meski plot utamanya terasa agak mudah ditebak, film ini tetap menyuguhkan plot twist yang seru.
◙ Buffet Infinity (Yellow Veil Pictures):
Film unik yang seluruhnya dirangkai dari kumpulan iklan palsu. Sangat cocok bagi penggemar “Tim and Eric Awesome Show, Great Job!” atau penikmat tontonan absurd lost media. Meski klip-klipnya di awal terasa terputus, penonton perlahan akan menyadari benang merah soal sinkhole misterius di balik perang restoran, kultus sesat, dan berbagai kejutan liar lainnya. Bukan untuk semua orang, tapi mereka yang sefrekuensi bakal sangat terhibur.
◙ Saccharine (Independent Film Company & Shudder):
Film bertema kekinian karya Natalie Erika James yang menyoroti sisi gelap tren diet. Ceritanya mengikuti seorang mahasiswi kedokteran (Midori Francis) yang menyadari bahwa mengonsumsi abu jenazah adalah obat mujarab terbaik. Meski tidak memicu adrenalin secara konstan, ini adalah film body horror yang menjijikkan secara efektif dan punya banyak hal untuk disuarakan.
Daftar Peringkat Utama:
14. Backrooms (A24)
Film debut arahan Kane Parsons ini tampil sangat memukau dalam membangun atmosfer dan ketegangan. Memasukkan Chiwetel Ejiofor dan Renate Reinsve ke dalam labirin ruang liminal yang klaustrofobik, membingungkan, dan bikin sesak. Keunggulan desain produksi serta sinematografi dari Jeremy Cox berhasil menutupi beberapa kelemahan dari naskah dasarnya yang masih tipis. Sangat menarik menantikan gebrakan apa lagi yang akan dihadirkan Parsons di babak berikutnya.
13. Exit 8 (Neon)
Adaptasi video game besutan Genki Kawamura ini menyoroti seorang pria (Kazunari Ninomiya) yang terjebak dalam lorong stasiun bawah tanah panjang tanpa bisa keluar, berputar dalam repetisi tak berujung. Perlahan, ia mulai menangkap petunjuk-petunjuk kecil untuk melangkah maju, melewati bayang-bayang kelam masa lalu dan keputusannya demi menembus sisi seberang. Meski premisnya terasa tipis, hal itu justru disengaja agar penonton ikut merasakan keputusasaan yang sama dengan karakternya.
12. Mārama (Dark Sky Films & Watermelon Pictures)
Dongeng gotik karya Taratoa Stappard ini menyoroti budaya Māori dan kaum kolonialis yang nyaris memusnahkannya. Ariāna Osborne tampil luar biasa memukau sebagai pemeran utama—seorang perempuan era Victoria yang pergi ke Inggris untuk menelusuri silsilah keluarganya, namun malah terjebak menjadi pengasuh bagi pria misterius yang terobsesi dengan warisan Māori-nya. Seiring cerita yang semakin kelam, visi visual Stappard kian subur dengan atmosfer yang pekat akan nuansa jahat.
11. Faces of Death (Independent Film Company)
Menghidupkan kembali waralaba “Faces of Death” tadinya terdengar mustahil, tetapi kolaborasi kreatif Isa Mazzei dan Daniel Goldhaber berhasil menyulap keanehan klasik tersebut menjadi film serial killer yang padat dengan motif mendalam. Dacre Montgomery tampil dingin sebagai seorang maniak yang terobsesi dengan film orisinalnya. Rekonstruksi aksi brutalnya menarik perhatian seorang moderator konten (Barbie Ferreira), dan permainan kejar-kejaran maut pun dimulai. Film ini punya banyak kritik tajam soal budaya influencer dan dunia maya.
10. Exit 8 (Neon)
Adaptasi video game besutan Genki Kawamura ini menyoroti seorang pria (Kazunari Ninomiya) yang terjebak dalam lorong stasiun bawah tanah panjang tanpa bisa keluar, berputar dalam repetisi tak berujung. Perlahan, ia mulai menangkap petunjuk-petunjuk kecil untuk melangkah maju, melewati bayang-bayang kelam masa lalu dan keputusannya demi menembus sisi seberang. Meski premisnya terasa tipis, hal itu justru disengaja agar penonton ikut merasakan keputusasaan yang sama dengan karakternya.
9. Leviticus (Independent)
Sebuah kisah cinta yang menyentuh antara dua remaja laki-laki di Australia berubah menjadi mimpi buruk ketika terapi konversi keagamaan mengubah orang yang paling mereka cintai menjadi sosok beringas yang mencoba membunuh mereka. Naim (Joe Bird) dan Ryan (Stacy Clausen) dibuat bimbang, apakah sosok di hadapan mereka benar-benar kekasihnya atau sekadar monster haus darah. Menjalin romansa yang tulus, “Leviticus” lebih mengandalkan ketegangan psikologis daripada sekadar jump scare murahan, menjadikannya salah satu film horor paling mengoyak emosi tahun ini.
8. They Will Kill You (Warner Bros. Pictures / Independent)
Zazie Beetz tampil sangat mendominasi sebagai petarung brutal bernama Asia Reaves dalam film horor-aksi-komedi ini. Menyusup ke sebuah hotel yang diyakini menculik saudari kandungnya, Asia harus bertarung habis-habisan melawan gerombolan pemuja sekte sesat yang kebal namun tetap bisa dimutilasi secara sadis—memunculkan adegan-adegan surealis seperti aksi bola mata merayap. Baku hantam bergaya “Kill Bill” serta adegan tarung bermandikan obor di ruang dansa menjadi sekuens aksi yang memukau. Beetz membuktikan kepiawaiannya dalam koreografi laga yang ekstrem.
7. 28 Years Later: The Bone Temple (Sony Pictures Releasing)
Nia DaCosta menyuntikkan napas baru yang penuh warna dan kejutan dalam babak keempat waralaba zombie ini. Ralph Fiennes tampil sebagai Dr. Ian Kelson, ilmuwan yang hidup soliter di tengah dunia pascawabah dan makin dekat menemukan penawar berkat bantuan sobat undead-nya, Samson (Chi Lewis-Parry). Sayangnya, dinamika mereka diuji oleh kelompok anak muda penuh kekerasan pimpinan Sir Lord Jimmy Crystal (Jack O’Connell). Lewat naskah tajam Alex Garland, film ini menyajikan momen-momen reflektif yang brilian—termasuk sekuens dansa lambat diiringi lagu Iron Maiden yang liar.
6. Send Help (20th Century Studios)
Ajang kembalinya Sam Raimi ke ranah horor lewat survival thriller penuh gaya, menampilkan performa ciamik dari Rachel McAdams dan Dylan O’Brien sebagai dua rekan sekantor yang bermusuhan, namun terpaksa bekerja sama untuk bertahan hidup di pulau terpencil usai kecelakaan pesawat tragis. Meskipun alurnya terbilang mudah ditebak, liku-liku cerita yang disajikan tetap sukses memompa adrenalin.
5. Buffet Infinity (Yellow Veil Pictures)
Sebuah tontonan liar yang seluruhnya dirangkai dari kumpulan iklan-iklan fiktif. Film ini dirancang untuk memanjakan para penggemar “Tim and Eric Awesome Show, Great Job!” atau penikmat arsip internet absurd (lost media). Meskipun potongan klipnya tampak terputus-putus di awal, penonton perlahan akan melihat benang merah bahwa sebuah lubang pembuangan (sinkhole) misterius menjadi dalang di balik perang restoran, kultus religius, dan kekacauan tak terduga lainnya.
4. Saccharine (Independent Film Company & Shudder)
Karya tepat sasaran dari Natalie Erika James yang menyoroti sisi gelap dari tren diet instan. Ceritanya mengikuti seorang mahasiswi kedokteran (Midori Francis) yang nekat menggunakan abu jenazah manusia sebagai obat mujarab demi bentuk tubuh ideal. Walau tidak berjalan dalam kecepatan tinggi, film ini menyuguhkan body horror yang menjijikkan secara efektif dengan pesan sosial yang tajam.
3. Resident Evil (Sony Pictures Releasing)
Franchise legendaris ini kembali mendapatkan sentuhan segar yang memacu adrenalin penonton di bioskop, memadukan elemen teror laboratorium bioteknologi dengan ketegangan aksi survival yang masif, sukses mengamankan posisi teratas box office global tahun ini.
2. Backrooms (A24)
Debut film panjang Kane Parsons dari web series viral ini menjadi sebuah mahakarya dalam membangun ketegangan. Mengantar Chiwetel Ejiofor dan Renate Reinsve ke dalam labirin ruang liminal tanpa ujung yang klaustrofobik. Desain produksi yang luar biasa serta pergerakan kamera Jeremy Cox berhasil menutupi kesederhanaan naskahnya, menjadikannya tonggak sejarah baru bagaimana horor internet sukses menembus layar lebar.
1. Obsession (Focus Features)
Menjadi juara utama di box office sekaligus daftar kritikus tahun ini. Disutradarai oleh Curry Barker, “Obsession” membuang jauh-jauh formula monster klise dan menjadikan obsesi itu sendiri sebagai teror utama. Dibintangi oleh Inde Navarrette dan Michael Johnston, film thriller psikologis ini memotret batas tipis antara kekaguman dan tindakan kelam yang sulit disaksikan namun mustahil dialihkan darinya, menegaskan dominasinya sebagai film horor terbaik 2026 sejauh ini.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy