Jakarta – Remake film thriller Spanyol popular, “The Invisible Guest“, karya sutradara asal Indonesia, Danial Rifki, akhirnya resmi unjuk gigi di layar lebar ajang Jakarta World Cinema. Proyek ini diakui Rifki sebenarnya telah rampung sejak tahun 2023. Namun, klausul eksklusivitas dengan HBO sempat menahan perilisan film tersebut ke publik.
Karya adaptasi ini menjadi satu dari tiga film milik Danial Rifki yang sukses melenggang di festival film bergengsi tersebut.
Diproduksi oleh Falcon Pictures, film ini merombak total karya hit rilisan 2016 milik Oriol Paulo yang berjudul “Contratiempo” agar relevan dengan latar dan budaya Indonesia. Menampilkan jajaran aktor papan atas seperti Reza Rahadian, Mawar de Jongh, dan Arifin Putra, film ini sebelumnya telah memulai debut perdananya di platform HBO Max pada 7 Agustus lalu.
Melansir Variety, Minggu, 8 November 2026, Rifki membagikan kabar bahwa persoalan hak siar dan eksklusivitas tersebut baru saja diselesaikan akhir-akhir ini.
Selain remake thriller tersebut, Rifki juga memboyong dua film panjang barunya ke Jakarta World Cinema: sebuah komedi romantis berjudul “Tua Tua Keladi” dan film thriller bertajuk “Sandal Jepit No. 10“.
Sisi Lain Hasrat Lansia di ‘Tua Tua Keladi’
Mengambil latar kehidupan para lansia di sebuah desa kecil, “Tua Tua Keladi” menyoroti kekacauan massal yang terjadi setelah kebocoran bahan kimia mencemari pasokan air warga desa dan membangkitkan gairah mereka. Perasaan yang selama ini dipendam, pengakuan-pengakuan lama yang tertahan, hingga percikan hasrat mendadak tumpah ruah dalam waktu satu malam.
“Saya berpikir, bagaimana jika mereka memiliki energi muda untuk menjalani kehidupan kedua, [itu adalah] kesempatan kedua untuk mencintai,” tutur Rifki.
Rifki sengaja merancang film ini untuk mendobrak stigma mendalam di masyarakat bahwa orang tua tidak lagi memiliki energi atau gairah hidup. Menariknya, meski premis ceritanya tergolong canggung dan sensitif, film ini tetap menjauhkan diri dari eksploitasi erotisme, bahkan ketika menampilkan karakter yang berusia lebih muda.
Rifki mengamati bahwa di era digital saat ini, orang-orang dapat merekam perilaku seksual mereka secara terbuka. “Dan terkadang hal itu membuat saya ketakutan karena saya memiliki seorang anak perempuan. Saya khawatir jika anak perempuan saya [terpapar] media yang liar,” ungkapnya.
“Jadi dengan karakter-karakter muda yang ada, saya mencoba mendekati mereka dengan sesuatu yang murni, bukan fisik,” tambahnya.
Trauma Politik Era Orde Baru dalam ‘Sandal Jepit No. 10’
Beralih ke karya lainnya, “Sandal Jepit No. 10” merupakan sebuah film thriller dengan ruang terbatas (confined-space). Film ini menyajikan ketegangan intens mengenai interogasi brutal yang dialami Akbar, seorang ayah yang tengah berduka namun ditahan atas dugaan kasus pembunuhan.
Rifki mengungkapkan bahwa film ini berakar dari keresahannya terhadap penyalahgunaan kekuasaan yang masih marak terjadi di Indonesia saat ini.
“Masyarakat Indonesia memiliki trauma dalam politik. Kehidupan di masa lalu pada zaman Orde Baru – era Soeharto – selama sekitar 32 tahun, kita tidak bisa mengkritik pemerintah,” kata Rifki. “Sekarang kita berada di Era Reformasi, tetapi hal itu (pembungkaman) mungkin saja masih terjadi di bawah tanah. Di media sosial, jika Anda mengkritik pemerintah, mereka akan melakukan shadowban [terhadap komentar Anda].”
“Kita adalah kelas bawah dari masyarakat dengan jenis ketakutan seperti ini, bahwa jika kita melakukan sesuatu, seseorang yang memiliki kekuasaan akan menindas kita. Jadi film ini adalah tentang bagaimana cara melawan balik,” tegasnya.
Namun, Rifki melihat secercah harapan pada perubahan lanskap gerakan sosial di era modern.
“Jika Anda memiliki media sosial, warganet ada di sini untuk membantu Anda. People power sekarang sedang beralih [ke] era digital sehingga kita bisa mendapatkan kekuatan itu kembali. Saya masih yakin bahwa [ada] banyak orang baik,” imbuh Rifki.
Eksplorasi Genre dan Proyek Masa Depan
Melihat keberagaman genre dari karya-karyanya, Rifki mengaku bahwa dirinya adalah sineas yang terus bereksplorasi.
“[Ketika saya masih menjadi] mahasiswa film, saya sangat ingin mencoba bagaimana berbicara lewat komedi romantis, thriller, drama, dan genre lainnya. [Saya adalah] seorang pembuat film yang terus berkembang dan bertumbuh yang masih dalam proses berproses,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa apa pun genrenya, tulang punggung dari seluruh karyanya adalah konflik moral manusia. Ke depannya, ia juga sangat tertarik untuk menjajal genre aksi dan horor.
Proyek film berikutnya yang berjudul “Before Thirty” (Sebelum Tiga Puluh) dijadwalkan akan rilis pada Januari 2027. Rifki menggambarkan proyek tersebut sebagai sebuah film “drama bertahan hidup” (survival drama) tentang seorang pria berusia 29 tahun yang hidupnya berada di ambang kegagalan.
“Di Indonesia, orang-orang selalu bertanya: apa pencapaianmu sebelum usia 30 tahun? Anak-anak muda dihukum oleh nilai tersebut bahwa Anda harus sukses sebelum menginjak usia 30 tahun,” kata Rifki.
Film baru ini diakuinya akan menjadi wadah bagi dirinya sebagai bentuk “komentar atas isu tersebut.”[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy