Aceh Siaga Cuaca Ekstrem, Menteri PU ‘Ngebut’ Bangun Sabo Dam

Menteri PU Dody
Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, memberikan keterangan kepada pers di Kementerian PU, Jakarta, Jumat (17/4/2026). Foto: ANTARA/Aria Ananda

Jakarta – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memutuskan untuk mengambil langkah ekstra dalam mempercepat pemulihan infrastruktur di Aceh. Menghadapi ancaman cuaca ekstrem, pembangunan sabo dam yang biasanya masuk dalam fase rekonstruksi, kini langsung dikebut.

Menteri PU, Dody Hanggodo, mengungkapkan percepatan ini langkah antisipasi terhadap tingginya curah hujan yang masih mengguyur Bumi Serambi Mekkah. Ia mengaku khawatir jika penanganan terlambat, material bencana susulan akan kembali menghantam pemukiman warga.

“Pada saat itu saya sudah takut kalau kayu bisa turun sampai ke Tamiang lagi karena hujan deras,” ujar Dody di Jakarta, Jumat, 17 April 2026, dilansir Antara.

Baca juga: Aceh Siaga Merah! Sekda Instruksikan Posko Bencana Aktif 24 Jam Nonstop Hingga 20 April

Harus Percepat

Normalnya, pembangunan sabo dam—struktur yang berfungsi menahan dan mengendalikan aliran material vulkanik atau kayu—dilakukan setelah masa tanggap darurat usai. Namun, Dody memilih menggunakan skema design and build (desain dan bangun) agar pengerjaan fisik bisa langsung dimulai di lapangan tanpa menunggu tahapan normal.

“Sabo dam itu harusnya saya kerjakan nanti setelah masuk progres reconstruct (rekonstruksi), tapi kan pada saat masih progres tanggap darurat pun sudah saya kerjakan. Sepertinya dengan kondisi cuaca yang hari ini masih seperti ini, ini masih harus saya percepat,” ungkap Dody.

Tangani Lumpur

Selain bendungan penahan material, fokus utama Kementerian PU saat ini adalah “perang” melawan lumpur yang masih menimbun wilayah Pidie Jaya dan Aceh Tamiang. Dody menegaskan meskipun jalan utama terlihat sudah bersih, kondisi di lingkungan pemukiman masih sangat memprihatinkan.

“Kondisinya tidak baik-baik saja di bawah. Ini yang harus kita percepat pembersihannya,” tambah Dody.

Pembersihan lumpur tersebut juga dilakukan melalui program padat karya yang melibatkan masyarakat setempat, sekaligus untuk mempercepat pemulihan kawasan permukiman.

Modifikasi Cuaca

Tak hanya soal infrastruktur permanen, pemerintah juga menempuh jalur “langit” dengan berkoordinasi bersama BMKG untuk melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna menekan intensitas hujan.

Di sisi lain, perbaikan jembatan-jembatan di daerah terpencil juga dikebut dengan melibatkan dukungan personel TNI. Langkah ini diambil agar akses logistik dan mobilitas warga tidak terputus total.

“Kalau pergerakan masyarakat tidak terganggu, biasanya logistik juga tidak akan terganggu,” ucap Dody.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy