Jantho – Lebih dari 30 siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Swasta Grafika ISS Jantho, Aceh Besar, mengikuti pelatihan menulis cerpen dari tim pengabdian Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh.
Ketua tim pengabdian, Muhammad Tahir, mengatakan pelatihan itu untuk meningkatkan kreativitas dan kemampuan siswa dalam menulis cerpen.
“Sekaligus untuk memperkenalkan blog sebagai salah satu platform digital yang bisa digunakan siswa untuk memublikasikan karya-karya mereka di jagad internet,” ujar Tahir di sela pelatihan yang berlangsung di aula sekolah tersebut, Jumat dikutip Sabtu, 24 Agustus 2024.
Bila dikelola dengan serius, kata dia, kegiatan menulis di platform-platform digital bisa mendatangkan keuntungan finansial bagi penulisnya.
“Melalui pengabdian ini, ada dua ilmu yang sekaligus bisa diperoleh siswa, yakni teknik menulis cerpen dan juga cara membuat blog. Para siswa juga praktik langsung untuk membuat blog,” ujar Dosen Kajian Sastra dan Budaya ISBI Aceh tersebut.
Selain Tahir, tim pengabdian juga beranggotakan Dwindy Putri Cufara, Dosen Seni Tari dan Rico Gusmanto, Dosen Karawitan ISBI Aceh.
Sementara narasumber pelatihan adalah Ihan Nurdin, jurnalis cum cerpenis. Ihan menjelaskan cara memanfaatkan blog sebagai wadah menerbitkan karya dengan jangkauan pembaca yang lebih luas. Di sisi lain, kata dia, lewat ngeblog penulis bisa terhubung atau membangun jejaring dengan para penulis lain.

Secara teknis, Ihan memaparkan teknik-teknik dasar menulis cerpen, seperti unsur-unsur intrinsik yang meliputi tema, tokoh dan penokohan, alur, latar, sudut pandang, amanat, hingga gaya bahasa.
Pada dasarnya, kata dia, selain salah satu genre sastra yang ditulis ringkas, cerpen kerap digunakan sebagai “alat” menyuarakan berbagai realitas kehidupan dan ketimpangan sosial melalui pesan yang terselip di dalamnya.
“Agar karya-karya tersebut bisa sampai kepada pembaca, kita memerlukan wadah, salah satunya adalah blog yang bisa diakses secara gratis di internet,” ujar penulis antologi cerpen tunggal Rihon tersebut yang aktif menulis di blog sejak 2006.
Menulis cerpen, kata Ihan, juga bakal mengasah empati sosial dan kreativitas seseorang karena tak ada batasan imajinasi dalam menulis. “Seorang penulis cerpen bisa bebas mengeksplorasi berbagai tema dan ide untuk dituangkan menjadi sebuah tulisan.”
Pelatihan itu diakhiri dengan pengenalan program studi Kajian Sastra dan Budaya ISBI Aceh kepada siswa. Para peserta juga diberi kesempatan menulis cerpen yang akan dibukukan dalam proyek antologi bersama.
Sebelumnya, kata Tahir, Kajian Sastra dan Budaya ISBI Aceh juga telah membuat program serupa. Karya-karya siswa hasil pelatihan tersebut akan dibukukan dan diterbitkan dalam waktu dekat.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy