Perusakan Atribut Kampanye Dipicu Rasa Takut dan Kesenangan Sesaat

Lailan F Saidina
Lailan F Saidina. Foto: Dok Pribadi

Lhokseumawe – Direktur Lembaga Konsultan Psikologi dan Training Tandaseru Indonesia, Lailan F Saidina menilai perusakan alat peraga kampanye tidak serta-merta bisa disimpulkan sebagai perilaku bermotif politik.

“Untuk menyimpulkan apakah itu bagian kejahatan politik atau bukan, perlu ditelusuri aspek psikologis mengapa seseorang melakukan tindakan merugikan orang lain,” ujar Lailan dalam keterangan tertulis, dikutip Line1.News, Sabtu, 16 November 2024.

Baca Juga: Dalam 2 Hari, Sejumlah Baliho dan Spanduk Om Bus-Syeh Fadhil Dirusak OTK di Pidie

Dari segi perspektif moral, kata dia, biasanya perilaku disebut kejahatan jika terpenuhi dua faktor: ada niat melakukan dan bukan karena paksaan orang lain.

Di samping itu, tambah Lailan, perilaku kejahatan interpersonal seperti perusakan alat peraga kampanye perlu dilihat apakah pelakunya diorganisir atau tidak.

“Perilaku jahat ini juga bisa didorong oleh keinginan pelaku untuk sekedar bersenang-senang. Seperti halnya pemenuhan kebutuhan biologis untuk meraih kepuasan”, sebut pemegang certified lifecoach dari sekolah coaching coachbasbas ini.

Kerusakan sistem dan struktur sosial, serta kesadaran beragama yang rendah, tambah Lailan, bisa menghasilkan perilaku jahat seseorang. Di antaranya, perceraian, masa kecil yang sulit, hidup di lingkungan sosial yang banyak pelanggaran hukum, pendidikan agama yang tidak baik, abai pada kesehatan mental serta berbagai kesulitan psikososial lainnya.

Baca Juga: Sejumlah Atribut Kampanye Fathani-Zarkasyi Ditemukan Rusak

Terkait maraknya perusakan atribut kampanye, Lailan menengarai perilaku itu dilakukan oleh lawan politik dan diorganisir.

“Kemungkinannya itu dipicu oleh rasa takut berlebihan pada potensi kemenangan pihak lawan politik. Kemungkinan lain bisa karena dorongan untuk kesenangan sesaat si pelaku. Misalnya, ia pernah melihat orang lain melakukan hal serupa sebelumnya”, ungkap pemerhati perilaku sosial dan komunikasi publik ini.

Terlepas dari apapun motif dan jenis perilaku jahat, Lailan berharap pemimpin, institusi dan masyarakat perlu memberikan perhatian serius pada rehabilitasi sistem dan struktur sosial masyarakat Aceh yang sedang tidak baik-baik saja.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy