Wisatawan Danau Toba Parapat Menurun, Faktor Utama Fasilitas Kurang Terawat

Danaun Toba Parapat
Danau Toba Parapat. Foto Google Images

Medan – Kunjungan wisatawan ke Danau Toba Parapat di Parapat, Simalungun, Sumatra Utara, menurun. Kawasan tersebut selama ini dikenal sebagai gerbang utama menuju Danau Toba Samosir itu. Fasilitas umum yang kurang terawat menjadi salah satu faktor utama.

Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Simalungun, Maruli T Simanjuntak, menyebutkan fasilitas dan infrastruktur di kawasan wisata tersebut kurang memadai.

“Keluhan wisatawan terkait aksesibilitas, kebersihan, dan fasilitas umum yang kurang terawat menjadi hambatan utama. Beberapa fasilitas umum bahkan dikelola secara pribadi tanpa memperhatikan fungsi publiknya,” ujar Maruli dilansir dari Hetanews.com, Kamis, 2 Januari 2025.

Faktor lain yang menyebabkan menurunnya jumlah wisatawan, kata dia, bencana alam dan cuaca tidak menentu. Bencana alam dan hujan berkepanjangan di akhir tahun, kata Maruli, menimbulkan trauma bagi wisatawan. “Meskipun cuaca kini membaik, dampaknya masih dirasakan oleh sektor pariwisata,” ujarnya.

Selain itu, promosi wisata Danau Toba cenderung monoton, tidak menyesuaikan dengan tren terbaru. “Generasi muda di Parapat diharapkan dapat memberikan kritik konstruktif serta solusi inovatif untuk membangun kembali citra wisata Parapat,” ucap Marulis.

Persaingan dengan destinasi wisata baru yang menawarkan pengalaman unik menjadi kompetitor berat bagi Parapat, merupakan faktor selanjutnya.

Tidak hanya itu, daya beli masyarakat yang menurun, ditambah tingginya biaya penginapan dan atraksi wisata, membuat wisatawan lebih selektif dalam merencanakan perjalanan. Faktor ini juga menyebabkan wisatawan ke Parapat menurun.

Akibat penurunan jumlah wisatawan, kata Maruli, dampak signifikan bagi masyarakat lokal berupa menipisnya pendapatan pelaku usaha kecil seperti pedagang, pengelola penginapan, dan penyedia jasa wisata.

“Banyak usaha kecil yang terpaksa mengurangi tenaga kerja harian karena sepinya wisatawan,” sebutnya.

Untuk mengembalikan daya tarik Parapat, HPI Simalungun menyarankan promosi wisata yang inovatif secara digital lewat media sosial dengan menggandeng influencer dan travel blogger. “Kritik yang muncul di media sosial harus direspons dengan cara positif untuk memperbaiki citra wisata,” ujar Maruli.

Pemerintah daerah, pelaku wisata, dan masyarakat, tambah Maruli, perlu bersama-sama memastikan bahwa jalan, fasilitas umum, dan kebersihan lingkungan tetap terjaga.

“Selain Danau Toba, Parapat dapat mengembangkan wisata kuliner, budaya, dan eco-tourism yang terorganisasi dengan baik,” ungkapnya.

Pelibatan komunitas lokal juga dipandang perlu untuk menciptakan pengalaman wisata autentik dan mendukung keberlanjutan budaya.

“Event berskala nasional dan internasional dapat menjadi daya tarik baru, asalkan melibatkan masyarakat lokal dan tetap menghormati kearifan budaya setempat.”[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy