AS Cari Perkara, Menlu Iran: Warga Amerika Tanggung Biaya Perang yang Meroket!

Menlu Iran Abbas Araghchi
Menlu Iran Abbas Araghchi menyindir keras kebijakan agresi militer AS. Menurutnya, ambisi perang Washington kini justru menjadi bumerang yang mencekik ekonomi warga Amerika sendiri dengan lonjakan utang dan suku bunga. Foto: Press TV

Teheran, Line1News – Pemerintah Iran menyebut agresi tanpa provokasi yang diluncurkan Amerika Serikat (AS) telah menjadi bumerang besar. Alih-alih menang, Washington kini justru menjerumuskan rakyatnya sendiri ke dalam jurang krisis ekonomi yang sangat berat.

Hal tersebut diungkapkan oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Lewat akun X pribadinya pada Sabtu, 16 Mei 2026, diplomat senior ini menyindir keras kebijakan luar negeri AS yang dinilai membuang-buang anggaran demi perang yang tidak perlu.

“Rakyat Amerika dipaksa menelan pil pahit dan menyerap lonjakan biaya akibat perang yang sengaja dipilih AS untuk melawan Iran,” tulis Araghchi.

Krisis Ekonomi AS Mulai “Berdarah-darah”

Menurut Araghchi, dampak yang dirasakan warga AS saat ini baru permulaan. Ia memperingatkan bahwa badai finansial yang jauh lebih besar sedang mengintai pasar domestik AS.

“Lupakan sejenak soal kenaikan harga bensin dan gelembung pasar saham (stock market bubble). Rasa sakit yang sebenarnya baru akan dimulai saat utang negara AS dan suku bunga KPR (mortgage) melonjak tajam. Saat ini saja, angka gagal bayar kredit mobil di AS sudah mencapai rekor tertinggi dalam 30 tahun terakhir,” tambahnya. “Semua kekacauan ini sebenarnya bisa dihindari.”

Baca Juga: Gawat! Iran Ancam Ubah Teluk Persia Jadi Kuburan Massal Marinir AS, Ada Apa?

Efek Domino Penutupan Selat Hormuz

Ketegangan ini mencapai puncaknya setelah AS bersama rezim Israel meluncurkan serangkaian serangan ilegal terhadap Iran sepanjang 28 Februari hingga 7 April lalu. Namun, serangan itu langsung dibalas dengan hantaman keras dan tanpa kompromi oleh militer Iran ke berbagai target strategis AS dan Israel di kawasan Timur Tengah.

Tidak hanya menghancurkan pangkalan militer lawan, Iran juga mengambil langkah ekstrem dengan menutup Selat Hormuz bagi musuh-musuh mereka. Langkah berani Teheran ini langsung mengirimkan gelombang kejut yang mengacaukan pasar energi global.

Baca Juga: Di Balik Layar: Mojtaba Khamenei Jadi ‘Otak’ Strategi Perang Iran Meski Sedang Terluka?

Kerugian AS Diprediksi Tembus USD 1 Triliun

Melansir Press TV, hingga saat ini, biaya rekonstruksi dan penggantian alutsista yang harus ditanggung Washington akibat perang ini diperkirakan sudah menembus angka USD 40 miliar hingga USD 50 miliar (sekitar Rp640 triliun – Rp800 triliun).

Namun, para ekonom memproyeksikan kerugian jangka panjang akibat penutupan Selat Hormuz akan jauh lebih mengerikan. Profesor Linda Bilmes, pakar kebijakan publik dari Harvard Kennedy School, memprediksi perang melawan Iran ini pada akhirnya bisa menyedot uang pembayar pajak di AS hingga USD 1 triliun (sekitar Rp16.000 triliun).

Ancaman krisis global ini juga dipertegas oleh Ketua Parlemen Iran (Majlis), Mohammad-Baqer Qalibaf. Ia memperingatkan ambisi AS untuk terus memicu eskalasi militer di Selat Hormuz dapat memicu krisis finansial global baru. Situasi ini dinilai sangat berbahaya mengingat utang nasional AS saat ini sudah membengkak di angka fantastis, yaitu USD 39 triliun. []

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy