Mengapa Eropa Berani Katakan ‘Tidak’ pada Permintaan Trump?

Warga Korsel demo
Warga Korea Selatan berunjuk rasa menolak kerja sama pengamanan Selat Hormuz yang diminta Presiden AS Donald Trump di luar kedutaan AS di Seoul, Korea Selatan, 16 Maret 2026. Foto: EPA/Jeon Heon-Kyun

Brussel – Di tengah meningkatnya tekanan dari Gedung Putih, negara-negara Eropa secara mengejutkan kompak menolak seruan Donald Trump untuk mengirim kapal perang ke Selat Hormuz.

Alih-alih mengikuti langkah militer Amerika Serikat, Uni Eropa memilih untuk menarik garis tegas: mereka tidak ingin lagi terjebak dalam “perang tanpa akhir” yang hanya akan memperkeruh konflik dengan Iran.

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, setelah pertemuan para menteri luar negeri Uni Eropa di Brussels, Senin, 16 Maret 2026, menjelaskan fokus Eropa saat ini hanyalah menjaga keamanan perdagangan laut secara damai, bukan untuk berperang.

Berikut poin-poin penting dari penolakan tersebut:

Ingin Jalur Damai: Eropa lebih memilih jalur diplomasi (obrolan politik) daripada mengirim pasukan tempur.

Misi Terbatas: Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani, menyebutkan bahwa kapal-kapal mereka hanya bertugas menjaga kapal dagang dari perompak, bukan untuk bertempur di wilayah konflik Selat Hormuz.

Jerman Tegas Menolak: Kanselir Jerman, Friedrich Merz, langsung mengatakan “tidak akan melakukannya.” Selain itu, mengirim pasukan ke luar wilayah NATO butuh izin rumit dari parlemen mereka.

Intinya, bagi Eropa, ketegangan di Selat Hormuz bukanlah perang mereka, dan mereka tidak ingin memperkeruh suasana dengan pengerahan militer.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy