Lhokseumawe, Line1News – Asa para petani dan nelayan lokal untuk melihat hasil keringat mereka melanglang buana ke pasar internasional kini tinggal menghitung hari. Lembaga Aceh Trading Committee (ATC) bersama para pengusaha daerah bersiap mengukir sejarah baru melalui pengiriman perdana berbagai komoditas unggulan Aceh langsung ke Malaysia pada Rabu, 17 Juni 2026 mendatang.
Kepastian ini dirajut menggunakan armada Kapal Motor (KM) Fajar 99. “Insya Allah, tanggal 17 Juni target pengiriman perdana kita. Mohon doanya,” ujar Ketua ATC, Zulkarnaini, yang akrab disapa Bang Jol Paloh, dengan nada optimis kepada Line1News, Kamis sore, 11 Juni 2026.
Pernyataan tersebut disampaikannya usai Rapat Koordinasi Rencana Ekspor Komoditas dan Produk Aceh ke Malaysia. Pertemuan krusial yang mengundang para eksportir dan pemangku kepentingan (stakeholder) lokal ini berlangsung hangat di Ruang Rapat Kantor Pelindo Cabang Lhokseumawe, di Krueng Geukueh, Aceh Utara, sejak siang hari. Agenda utama mereka satu: menyusun langkah taktis agar produk bumi Serambi Mekah bisa melenggang mulus di pasar global.
Menghubungkan Hulu ke Hilir
Demi memuluskan jalur dagang ini, ATC merajut kerja sama dengan perusahaan pemilik KM Fajar 99 asal Tanjung Balai, Sumatra Utara. Kapal berkapasitas 180 ton tersebut nantinya akan bertolak dari Pelabuhan Krueng Geukueh menuju Port Klang, Malaysia.
Menariknya, barang-barang yang dikirimkan merupakan produk keseharian yang dekat dengan kehidupan rakyat. Mulai dari kelapa batok butir, arang kayu, labu jepang, kunyit, jahe, hingga ubi cilembu. Tidak ketinggalan komoditas buah seperti pisang, alpukat, salak, serta hasil laut berupa ikan basah dan ikan kayu (katsuobushi).
“Semua komoditas itu sudah siap di hulu,” tutur Jol Paloh. Di seberang selat, jaringan pasar pun telah menanti. “Di Malaysia, pembeli (buyer) sudah siap menyambut, termasuk jaringan pedagang warga Aceh yang mengelola Kedai Runcit di sana. Jadi, pasarnya nyata.”
Berpihak pada Keringat Petani dan Nelayan
Lebih dari sekadar hitung-hitungan bisnis, misi maritim ini membawa misi sosial: menghidupkan ekonomi rakyat kecil. Jol Paloh menjelaskan bahwa untuk pengiriman perdana, modal diputar dengan membeli komoditas secara langsung tunai dari tangan para pemilik barang atau petani lokal.
“Ke depan, alur pengumpulan hasil panen masyarakat ini direncanakan akan dikonsolidasi secara profesional oleh Perusahaan Perseroan Daerah (Perseroda), PT Pembangunan Lhokseumawe (PTPL),” tambahnya.
Langkah ini diharapkan mampu menjaga stabilitas harga di tingkat bawah agar petani tak lagi dipermainkan tengkulak.
Sebagai langkah administrasi terdekat, ATC menjadwalkan pengurusan Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) ke pihak Bea Cukai pada Senin atau Selasa pekan depan.
Semua Pihak ‘Satu Komando’
Kabar baiknya, ikhtiar kolektif ini mendapat lampu hijau dari seluruh otoritas terkait. Rapat di Kantor Pelindo Cabang Lhokseumawe menegaskan bahwa koordinasi dilakukan demi menyinkronkan regulasi agar tidak ada kendala hukum di lapangan.
“Hasil rapat kita clear. Pada prinsipnya, semua stakeholder mendukung penuh. Memang ada beberapa komoditas yang membutuhkan dokumen khusus seperti Laporan Surveyor, dan itu segera kita lengkapi melalui Sucofindo,” jelas Jol Paloh demi menjamin kepatuhan aturan internasional.
Mengetuk Pintu Dukungan Pemerintah Daerah
Namun, sebuah jalur dagang tidak boleh hanya menjadi cerita sekali tayang. Agar denyut ekspor ini terus berkesinambungan, ATC mengetuk pintu kepedulian dari pemerintah kabupaten dan kota sekitar yang wilayahnya terhubung langsung (interline) dengan Pelabuhan Krueng Geukueh. Mulai dari Aceh Tengah, Bener Meriah, Bireuen, Aceh Utara, Lhokseumawe, hingga Aceh Timur.
“Supaya pengiriman ini bisa berjalan kontinu minimal sebulan dua kali, kami sangat berharap adanya kebijakan bantuan subsidi ruang kargo (space cargo) dari pemda terkait,” harap Jol Paloh.
Langkah taktis swadaya ini menjadi bukti nyata dari kerinduan masyarakat Aceh untuk menghidupkan kembali kejayaan maritim masa lalu. Sekaligus, menjawab visi besar regional: menjadikan Kuala Lumpur dan Penang sebagai mitra strategis utama masa depan ekonomi Serambi Mekah.[]
Baca Juga: Gandeng Bea Cukai, ATC Siap Ekspor Produk Petani dan UMKM Aceh ke Malaysia


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy