“GOAT” dalam Arti Sebenarnya: Desa di India Ini Gelar Turnamen Sepak Bola Berhadiah Kambing

Ilustrasi AI yang menampilkan penyerahan piala dan kambing sebagai hadiah turnamen sepak bola di desa Tirilbasa, India.
Ilustrasi hasil olahan AI yang menggambarkan penyerahan hadiah utama turnamen Rangila Star Tirilbasa di Chaibasa, India. Kapten tim NCS Maudi menerima piala, replika cek senilai ₹15.000, serta tiga ekor kambing jantan (khassi) di hadapan penonton desa. Foto: Ilustrasi AI/Line1News

India – Ketika dunia sedang dihebohkan oleh euforia Piala Dunia FIFA dan aksi para pemain berlabel “GOAT” (Greatest of All Time), sebuah desa terpencil di India punya cara tersendiri untuk merayakannya—lengkap dengan kearifan lokal yang unik.

Melansir Al Jazeera, Rabu (22/07/2026), di Desa Tirilbasa, Wilayah Chaibasa (Negara Bagian Jharkhand, India), warga menyelenggarakan turnamen sepak bola bertajuk “Rangila Star Tirilbasa” pada 14–17 Juli 2026. Turnamen ini diikuti oleh tim-tim dari 64 desa sekitar.

Namun, daya tarik utama turnamen ini bukan sekadar gengsi atau hadiah uang tunai. Bintang utamanya adalah sekawanan kambing yang dijadikan sebagai “piala” bagi tim-tim terbaik.

Sejumlah Hadiah Uang dan Khassi

Pada partai final yang digelar Jumat, tim NCS Maudi berhasil menundukkan Kumbaram dengan skor tipis 1-0.

Sebagai juara pertama, NCS Maudi membawa pulang hadiah uang sebesar 15.000 rupee (sekitar Rp2,5 juta) plus tiga ekor kambing jantan (masyarakat lokal menyebutnya khassi, yakni kambing jantan yang sudah dikebiri sejak muda).

* Juara 2 (Kumbaram): 12.000 rupee + 2 ekor khassi.

* Juara 3 & 4 (Kobra FC Nimdhi & Galubasa FC): Masing-masing 9.000 rupee + 1 ekor khassi.

* Pemain Terbaik / Kiper Terbaik: Mendapatkan hadiah uang tunai (tanpa kambing).

Baca Juga: KJE FC Resmi Bertahta! Trofi, Uang Tunai, dan Seekor Kambing Berhasil Direbut

Kapten tim NCS Maudi, Sachin Devam, mengungkapkan rasa bahagianya dengan senyum lebar. Karena datang menggunakan sepeda motor, ia harus menyewa bajaj (autorickshaw) untuk membawa pulang hadiah tiga ekor kambing tersebut sejauh 10 km.

“Ini kemenangan pertama tim kami, dan kami akan merayakannya bersama seluruh warga desa. Ini bakal jadi pesta piknik khassi!” ujar Sachin.

Makanan, Tradisi, dan Kebudayaan Suku Ho

Bagi suku Ho—masyarakat adat (Adivasi) yang mendiami wilayah Chaibasa—kambing khassi memiliki kedudukan penting dalam kebudayaan mereka. Khassi biasa digunakan untuk ritual adat, dan dagingnya selalu dimakan bersama warga desa.

Khassi adalah bagian penting dari budaya kami. Dagingnya lezat dan semua orang menyukainya. Kebanyakan tim akan menyembelih kambing tersebut untuk pesta, tapi ada juga yang memeliharanya,” kata Manish Kudada (18), pemain sekaligus panitia turnamen.

Saking pentingnya, perayaan di desa dirasa kurang lengkap tanpa kehadiran daging kambing ini.

Aturan Unik: Tanpa Offside, Tim 9 Orang

Meski panitia tetap memakai wasit bersertifikat dan berpedoman pada aturan FIFA untuk mencegah perkelahian di lapangan, ada beberapa penyesuaian aturan (local rules) yang disesuaikan dengan tradisi lokal:

1. Aturan 1 Desa (Ek Munda): Setiap tim terdiri dari 9 pemain (bukan 11), dan minimal 6 pemain harus berasal dari desa yang sama demi mempererat rasa persatuan.

2. Tanpa Offside: Pemain bebas mencetak gol dari sudut mana pun di lapangan.

[Tim-tim yang bertanding saat melakoni laga sepak bola dalam turnamen Rangila Star Tirilbasa di Chaibasa, Jharkhand, India. Foto: Shweta Desai/Al Jazeera]

Suasana turnamen pun sangat meriah. Warga menonton dari pinggir lapangan hingga memanjat pohon. Di sekitar lapangan, penjual jajanan lokal dan minuman bir beras tradisional (madia) turut meramaikan suasana, diselingi permainan menangkap ayam jantan di sore hari.

Dari Wilayah Konflik Menuju Wadah Bakat Sepak Bola

Dahulu, wilayah Chaibasa sempat terisolasi akibat konflik dan pemberontakan Maois. Namun sejak situasi keamanan membaik dan konflik mereda, aktivitas olahraga di kawasan pedalaman ini tumbuh pesat.

Turnamen antardesa seperti ini menjadi batu loncatan bagi bakat-bakat lokal.

* Malati Munda, pesepak bola wanita yang kini membela tim Home Guard di Ranchi, mengawali kariernya dari turnamen-turnamen antardesa seperti ini.

* Harish Hembram, pemuda lokal yang dulunya iseng merekam pertandingan desa, kini memiliki saluran YouTube dengan lebih dari 211.000 subscribers dan berpenghasilan puluhan ribu rupee per bulan dari menayangkan pertandingan sepak bola antardesa.

Turnamen “Rangila Star Tirilbasa” membuktikan bahwa kecintaan terhadap sepak bola tidak selalu harus di stadion megah—tetapi juga hidup dan menyatu erat dalam tradisi masyarakat di pelosok desa.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy