Oleh: Muhammad Syahrial Razali Ibrahim, Ph.D., Dekan FEBI UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe
Salah satu hadiah besar yang dibawakan Islam sejak pertama sekali menapak di bumi ini adalah kebebasan dan kemerdekaan. Islam hadir dengan konsep besar yang sangat prinsip dan inheren dengan manusia. Saat di mana dunia terbiasa dengan penjajahan, kezaliman dan perbudakan, Islam dengan ajarannya yang revolusioner melawan semua itu. Islam meletakkan fondasi kemanusiaan yang sangat fundamental, yaitu kebebasan dan kemerdekaan. Dari fondasi tersebut Islam berdiri, bergerak, dan berkembang maju. Sebagai sebuah agama yang bersambung hingga zaman Nabi Adam, Islam diturunkan untuk menegaskan keberadaan manusia sebagai makhluk yang merdeka sejak ia dilahirkan oleh ibunya, memanusiakan manusia, dan memuliakannya sesuai dengan kodrat kemanusiaannya.
Manusia adalah khalifah yang diamanahkan bumi kepadanya, yang mengurus, mengatur, dan memakmurkannya. Allah berfirman, “ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”, (al-Baqarah: 30). Pada tempat lain Allah menegaskan, “Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya”, (Hud: 61). Sejak sebelum diciptakan, manusia bukan hanya merdeka, tapi mulia di sisi Tuhannya. Narasi ini diperkuat oleh firman Allah lainnya, “dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”, (al-Isra’: 70).
Begitulah Allah memperlakukan manusia, menegaskan kemerdekaannya dan memuliakannya. Sesuai dengan performa fisiknya yang sempurna dan paling ideal dibandingkan makhluk lainnya. Allah berfirman, “sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”, (al-Tin: 4). Fakta ini dingatkan pada ayat lainnya, “hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang”, (al-Infitar: 6 – 7). Atas dasar ini, Islam menolak semua bentuk penjajahan dan perbudakan. Walaupun Islam mengakui “perbudakan”, tapi Islam tidak datang untuk melanggengkannya, malah sebaliknya, Islam turun sebagai agama pembebas, yang membebaskan manusia dari ragam perbudakan, baik fisik, maupun jiwanya.
Kemerdekaan dan Substansi Tauhid
Tak ada seorang nabipun, tak terkecuali Rasulullah Muhammad, melainkan seluruhnya menyeru dan mengajak manusia agar tunduk pada kalimat “tidak ada Tuhan kecuali Allah”. Inilah kalimat tauhid, yang hidup di semua sejarah para nabi dan rasul untuk membebaskan manusia dari pelbagai penjajahan dan perbudakan. Kalimat yang menyadarkan manusia dan mengembalikan mereka pada kondisi yang sebenarnya, yaitu merdeka, terhormat dan mulia. Inilah kalimat yang selalu diserukan oleh nabi kita Muhammad, sejak beliau di Mekkah hingga diwafatkan Allah di Madinah. Dalam satu hadisnya, beliau bersabda, “wahai manusia katakan, “tidak ada Tuhan selain Allah”, maka kalian akan beruntung”, (HR: Ahmad).
Kalimat ini bukan hanya sebatas pembeda bagi yang mengucapkannya dan meyakininya sebagai seorang muslim, dan nonmuslim (kafir) karena enggan mengucapkannya atau hanya sekadar mengucapkan tetapi tidak meyakininya. Lebih dari itu, kalimat ini ungkapan pembebasan dan kemerdekaan dalam makna yang sesungguh-sungguhnya. Melalui kalimat ini, umat Islam diajarkan bahwa tidak ada apapun atau siapapun berhak memperbudak dan menindas orang lain. Begitu juga sebaliknya, tidak ada siapapun yang pantas diperbudak atau dijajah oleh siapapun atau apapun. Kalimat itu menegaskan hanya ada satu “Tuan” yang bebas dan berhak memperbudak manusia sebagai hamba-Nya. Tidak ada yang seperti-Nya apalagi setara dengan-Nya. Dan hanya “Tuan” yang satu itu yang berhak untuk disembah dan dituhankan.
Kalimat tauhid mengajarkan manusia arti kesetaraan dalam makna yang sebenar-benarnya. Tidak kulit putih punya kelebihan atas kulit merah, atau orang hitam lebih rendah dari ras bermata biru. Tidak ada siapapun yang berhak untuk menilai dan memutuskan bahwa bangsa tertentu lebih utama dari lainnya. Lalu apa logikanya sehingga orang-orang membenarkan istilah dikotomis bahkan diskriminatif, “tuan dan budak”. Umar bin Khattab pernah berkata, “apa alasan kalian memperbudak manusia, padahal mereka dilahirkan oleh ibu-ibu mereka dalam keadaan merdeka”. Ali bin Abi Thalib menasihati kita dengan petuahnya, “jangan pernah mau dijadikan sebagai budak, karena Allah telah menciptakan kamu sebagai orang yang merdeka”. Nabi dalam satu hadisnya mengatakan, “semua kalian keturunan Adam, dan Adam dari tanah”, (HR: Abu Daud). Di hadapan Tuhan manusia setara, hanya kualitas iman (takwa) yang membedakan mereka, dan itu hanya bisa dinilai oleh Allah, tidak oleh siapapun selain-Nya.
Melalui dakwah tauhid, nabi menyeru umatnya agar tidak merendahkan siapapun, tetapi juga tidak merendah dan hina di hadapan siapapun. Umat yang bertauhid adalah mereka yang benar-benar merdeka, percaya diri dan optimis pada kekuatan Allah. Karena sejatinya, ketika seseorang bertuhankan Allah, ia akan hidup dengan nilai-nilai dan aturan (syariat) yang memandu seluruh sendi kehidupannya. Aturan yang dibuat oleh Zat Yang Maha Tahu segala-segalanya, yang menciptakan alam beserta semua isinya. Aturan yang mampu membawa manusia menggapai peradaban dan kemajuan, baik jasmani maupun rohani, sebagaimana telah dibuktikan oleh para sahabat dan generasi setelahnya. Dalam konteks ini hadir makna hadis nabi di atas, “wahai manusia katakan, “tidak ada Tuhan selain Allah”, maka kalian akan beruntung”. Beruntung karena pada akhirnya merekalah yang pantas maju dan berkuasa di bumi. Allah berfirman, “bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh”, (al-Anbiya: 105).
Kemerdekaan Sebagai Sumber Kekuatan
Atas landasan tauhid, nabi tegar menghadapi berbagai tantangan hingga beliau sukses membuktikan kebenaran Islam. Menjadikan Islam sebagai peradaban final yang mengungguli semua peradaban. Telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan lainnya, di awal dakwahnya, ketika nabi menyeru dan mengajak manusia menuhankan Allah, ia diludahi, dicaci dan dilempari kotoran, hingga ketika siang hari tiba, Zainab datang membawakan air untuk membersihkan tubuhnya. Di situ nabi berpesan kepada Zainab sambil menguatkan hatinya, “wahai anakku, jangan khawatir, ayahmu takkan pernah bisa dikalahkan, dan takkan tunduk pada siapapun”. Pesan ini mengajarkan umat Islam agar selalu tegar, berbesar hati dan tetap optimis dalam memperjuangkan kebenaran. Tidak ada kekhawatiran dan susah hati bagi orang-orang yang bertauhid, orang-orang yang menjadikan Allah sebagai Penolong dan Pelindungnya. Allah berfrman, “sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita”, (al-Ahqaf: 13). Di ayat lain Allah menegaskan, “ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”, (Yunus: 62).
Hanya orang-orang bertauhid yang benar-benar merdeka dengan tidak melihat kekuatan kecuali pada Tuhannya. Selagi ia menempuh jalan Tuhannya, selama itu ia yakin bahwa kemenangan akan menjadi miliknya. Merekalah orang-orang yang memiliki jati diri dan karakter hebat, mempunyai tujuan hidup yang jelas, panduan dan pegangan yang kokoh. Begitulah yang ditunjukkan oleh nabi dalam memperjuangkan Islam. Tidak pernah terlintas di pikirannya untuk mencontoh atau mengikuti jejak Rum atau Persia yang saat itu dikenal sebagai dua peradaban besar mewakili Timur dan Barat. Padahal pada masa yang sama umat Islam masih sangat lemah, bahkan ditindas di negeri mereka sendiri. Dalam kondisi seperti itu nabi justru bersikap sebaliknya, beliau berpesan agar umat ini tidak boleh mengikuti Yahudi dan Nasrani, atau orang musyrik. Umat Islam diharuskan berbeda dengan mereka, bukan hanya dalam urusan agama, tetapi mencakup perihal teknis seperti cara berpakaian dan berpenampilan. Nabi mencontohkan moral integritas dan sikap loyal kepada Islam, sebagai buah dari pemahaman dan keyakinan mendalam tentang tauhid. Umar bin Khattab pernah berkata, “kita pada awalnya sehina-hina kaum, lalu dimuliakan Allah dengan Islam, maka tidak akan ada kemuliaan di luar Islam, di manapun itu”.
Berbeda dengan orang munafik, hidup di atas fondasi yang rapuh, tidak mempunyai pendirian dan tujuan, modalnya menebak-nebak, selalu try and error, seperti Juha memikul keledai. Ia terpaksa memikulnya karena tidak tahu mana yang benar dan harus melakukan apa. Ia bingung, tidak punya konsep dan panduan. Begitulah ketika manusia tidak memahami arti kemerdekaan, tidak mengerti Islam, akhirnya comot sana comot sini. Ambil dari Timur sedikit, tiru dari Barat sedikit, hingga identitasnya hilang, Islam bukan, nonmuslim juga tidak. Allah berfirman tentang manusia seperti ini, “mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir)”, (al-Nisa’: 143).
Begitulah perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia yang diasaskan oleh pendahulu bangsa ini pada “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Merekapun tidak lupa menulis pada naskah pembukaan Undang-Undang Dasar, “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa”. Mereka sadar bahwa bambu runcing tidak memiliki kekuatan apapun untuk melawan bedil canggih penjajah saat itu. Meskipun demikian, mereka tetap optimis berjuang sebagaimana nabi dulu berjuang. Karena satu kesadaran bahwa kemenangan pada akhirnya akan menjadi milik orang-orang yang bertuhan. Orang-orang yang sebelum negerinya merdeka, (jiwa-jiwa) mereka telah lebih dulu bebas dan merdeka. Lantas bagaimana pada hari ini, setelah 81 tahun sejarah kemuliaan itu berlalu, apakah bangsa ini sudah benar-benar merdeka, atau negerinya saja yang merdeka, sementara jiwa-jiwa mereka masih dijajah dan diperbudak oleh sejumlah kepentingan “Barat dan Timur”. Atau jangan-jangan mereka kini telah berubah menjadi “penjajah” di tanah mereka sendiri. Wallahua’lam.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy