Batam, Line1News — Festival Media (Fesmed) Aliansi Jurnalis Independen (AJI) resmi dibuka di Auditorium Politeknik Negeri Batam, Kepulauan Riau, Sabtu, 19 September 2026. Fesmed kali ini mengusung tema “Kemerdekaan Pers dan Keadilan HAM di Asia Tenggara”.
Kegiatan yang diselenggarakan AJI Batam dan AJI Tanjungpinang tersebut berlangsung pada 19-20 September 2026 di Batam dan dilanjutkan pada 21 September 2026 di Tanjungpinang.
Digelar Mandiri di Dua Kota
Ketua Panitia Festival Media, Adam Zulfikar, mengatakan kegiatan tersebut diselenggarakan secara mandiri dan tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Dia menyampaikan apresiasi kepada AJI Batam dan AJI Tanjungpinang yang selama lebih dari satu tahun bekerja bersama untuk mempersiapkan penyelenggaraan festival tersebut.
“Tentu apresiasi yang sebesar-besarnya untuk teman-teman AJI Batam dan AJI Tanjungpinang yang selama lebih satu tahun ini bekerja keras bersama-sama mengupayakan agar acara ini bisa terselenggara tepat pada hari ini,” kata Adam.
Adam menyebut Fesmed kali ini memiliki perbedaan karena untuk pertama kalinya digelar di dua kota di Kepulauan Riau, yakni Batam dan Tanjungpinang. Kegiatan tersebut juga menjadi Fesmed ke-11 yang diselenggarakan AJI.
Komitmen Diskusi di Tengah Tantangan
Adam mengakui penyelenggaraan kegiatan tersebut tidak mudah, terlebih kondisi jurnalis dan media saat ini sedang menghadapi berbagai tantangan. Di sisi lain, situasi bangsa juga tidak mudah karena sejumlah masyarakat di berbagai daerah sedang menghadapi bencana.
“Di saat yang sama kita juga menghadapi situasi bangsa yang tidak mudah, banyak saudara-saudara kita di berbagai daerah yang sedang menghadapi bencana,” katanya.
Karena itu, kata Adam, penyelenggaraan Fesmed tidak boleh menjadi alasan untuk mengurangi empati terhadap masyarakat yang sedang menghadapi persoalan di berbagai daerah.
Namun, AJI tetap berkomitmen menyelenggarakan Fesmed tersebut karena ruang untuk berdiskusi, bertukar perspektif dan membicarakan berbagai persoalan justru perlu terus diperbanyak di tengah situasi yang ada.

[Ketua Panitia Festival Media, Adam Zulfikar (kiri), saat pembukaan Fesmed AJI di Batam, Sabtu (19/9/2026). Foto: Fakhrurrazi/Line1News]
Sementara itu, Ketua Umum AJI Indonesia, Nany Afrida, mengatakan Fesmed kali ini menjadi pengalaman pertama bagi AJI dalam menyelenggarakan kegiatan dengan tuan rumah dua AJI kota.
“Saya bisa membayangkan dinamikanya. Namun saya yakin AJI bukan organisasi karbitan yang kerdil. AJI justru organisasi militan yang terbukti kita semua bisa hadir di sini. Berarti cukup sukses. Selamat AJI Kota Batam! Selamat AJI Kota Tanjungpinang!” ujar Nany.
Suara Jurnalis Wilayah Kepulauan
Menurut Nany, Fesmed tersebut menjadi momentum bagi AJI untuk memberikan perhatian lebih besar terhadap jurnalisme di kawasan kepulauan dan perbatasan.
Dia mengatakan jurnalis yang bekerja di wilayah tersebut menghadapi berbagai tantangan, mulai dari jarak geografis, biaya transportasi, keterbatasan jaringan komunikasi, minimnya sumber daya redaksi hingga kesulitan mengakses informasi dan narasumber.
“Sebuah liputan bisa membutuhkan waktu berjam-jam, bahkan juga berhari-hari. Padahal kita berpikir, bagaimana liputan bisa membutuhkan waktu selama ini untuk jurnalisme berkualitas jika jurnalisnya tidak mendapatkan dukungan yang memadai,” kata Nany.
Karena itu, Nany menegaskan Fesmed bukan sekadar kegiatan berkumpul bagi para jurnalis, tetapi menjadi ruang untuk belajar dan memahami pentingnya jurnalisme.
Dalam kegiatan tersebut, sekitar 40 AJI kota mengirimkan perwakilannya. Bahkan, menurut Nany, terdapat AJI kota yang membawa lima hingga enam orang dalam rombongannya.
“Bukan hanya sekadar kumpul-kumpul, melainkan kesempatan bagi kita semua untuk belajar mengapa jurnalisme itu sangat penting,” ujarnya.
Membela Publik dan Hak Jurnalis
Nany menjelaskan, jurnalisme penting bagi masyarakat karena membantu publik memahami persoalan di sekitarnya, mengawasi kekuasaan dan memperjuangkan hak atas informasi.
Menurutnya, jurnalisme juga penting bagi pengambil kebijakan karena suara masyarakat harus menjadi bagian dari keputusan yang memengaruhi kehidupan mereka.
Sementara bagi jurnalis, ruang tersebut penting untuk terus belajar, mengembangkan kapasitas dan memahami persoalan yang diliput secara mendalam.
“Teman-teman, jurnalisme harus membuka ruang bagi nelayan, bagi masyarakat adat, bagi perempuan, pekerja migran, kelompok minoritas, dan lain-lain,” katanya.
Namun, menurut Nany, kerja jurnalistik juga harus didukung dengan kondisi yang memungkinkan jurnalis bekerja secara aman dan profesional.
“Jurnalis juga harus bekerja tanpa intimidasi, memiliki akses terhadap informasi, dan memiliki perlindungan ketika menghadapi ancaman, serta mendapatkan hak-hak ketenagakerjaan yang layak,” ujarnya.
Dia menegaskan hal tersebut merupakan bagian dari perjuangan AJI dan semestinya mendapatkan perlindungan dari negara sebagai konsekuensi kewajiban negara demokrasi.
Untuk diketahui, rangkaian Fesmed AJI di Kepulauan Riau menghadirkan puluhan seminar nasional dan internasional, lokakarya, pelatihan, dialog masyarakat, dan pentas seni dan budaya.
Penyelenggaraan di dua kota tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas ruang diskusi mengenai kemerdekaan pers, jurnalisme di kawasan kepulauan dan perbatasan, serta keadilan HAM di Asia Tenggara.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy