Lhokseumawe, Line1News – Suasana di Gampong Meunasah Mee, Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe, mendadak diselimuti keheningan yang menyayat hati pada Senin, 28 September 2026. Di salah satu rumah, mata Nurlaila (47) tampak begitu sembab. Air matanya terus mengalir tak terbendung, meratapi kepergian putra sulung tercintanya, Muhammad Rasya Fadilla (19), yang pulang dalam kondisi tak bernyawa.
Rasya, mahasiswa baru Program Studi Diploma III Sistem Kelistrikan Kapal pada Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati Aceh, mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh pada Minggu sore, 27 September 2026.
Pihak keluarga menduga Rasya sempat mengalami kekerasan saat mengikuti masa orientasi kampus. Namun, penyebab pasti kematian korban masih menunggu hasil penyelidikan pihak kepolisian.
Rasya sempat dirawat di Klinik Poltekpel Malahayati Aceh pada Sabtu sore (26/9), sebelum akhirnya dirujuk dalam kondisi kritis ke RSUDZA pada Minggu siang (27/9). Ketika jenazahnya tiba di rumah duka pada Senin pagi, runtuh sudah seluruh harapan besar keluarga yang ia pundak sejak masuk kampus pada 4 September lalu. Baru 22 hari Rasya meniti mimpi di sana.
Usai prosesi pemakaman yang penuh haru pada Senin siang, Nurlaila mencoba tegar memeluk foto Rasya sembari membagikan cerita dan kepedihan mendalamnya kepada para jurnalis yang berkunjung ke rumah duka:
Firasat Ibu dan Kondisi Jenazah yang Janggal
Saat ditanya mengenai kebenaran dugaan penganiayaan yang menimpa putranya, Nurlaila mengaku masih harus menahan diri demi kepastian medis.
“Untuk sementara saya belum bisa pastikan, karena hasil visumnya belum keluar. Kemarin [Minggu] dokter yang hubungi saya, [menyampaikan] diduga alergi obat,” ujar Nurlaila.
Namun, klaim awal tentang alergi obat dari pihak medis yang menghubunginya pada hari Minggu siang itu terasa janggal ketika pihak keluarga melihat langsung kondisi fisik jenazah saat dimandikan. Terdapat sejumlah tanda yang tidak wajar di tubuh remaja tersebut.
“Udah lebam-lebam di badannya, di lehernya. Sampe rumah dilihat hidungnya udah patah di sini, sudah memar,” ungkap Nurlaila terisak, menjelaskan bagian hidung dan perut putranya yang memar.
Keluarga pun menyangkal keras jika Rasya disebut memiliki riwayat medis khusus yang memicu reaksi fatal terhadap obat-obatan. “Enggak ada, dia jarang minum obat. Kalau udah demam pun cuma parasetamol sama antasit saya kasih,” kenang sang ibu.
Melihat kejanggalan demi kejanggalan pada tubuh anak pertamanya dari empat bersaudara tersebut, Nurlaila menuntut keadilan yang seadil-adilnya.
“Minta tolong untuk keadilan, apabila benar [adanya indikasi penganiayaan], tolong diusut,” pinta Nurlaila.
Dengan suara bergetar, ia mempertanyakan nasib malang yang menimpa buah hatinya, “Kenapa anak saya yang jadi korban, sementara dia anak baik budi.”
Kerinduan Nurlaila makin menyiksa karena selama 22 hari berada di asrama Poltekpel Malahayati, ia sama sekali belum pernah berkomunikasi lewat telepon dengan sang putra. Firasat buruk sebenarnya sudah membayangi benak Nurlaila hingga ia sempat nekat menghubungi salah satu dokter kampus via media sosial demi melihat kabar anaknya.
“‘Bu tolong videoin anak saya, gimana kondisinya?’ [Dijawab] ‘iya sebentar, belum jumpa ya’,” tutur Nurlaila menirukan isi pesan tersebut. Sayangnya, janji tersebut tidak pernah terwujud. “Sudah 10 hari gak ada dikirim. Tau-tau udah kek gini anak saya. Memang firasat saya gak enak,” tambahnya dengan dada sesak.
Anak Berbakti yang Merindukan ‘Bunda’
Di mata Nurlaila, Rasya bukan sekadar anak sulung, melainkan sosok penuh kasih sayang yang selalu menjadi energi positif di dalam rumah. Panggilan hangat “Bunda” dari lisan Rasya kini menjadi memori yang paling dirindukan.
“Dia penyemangat Bunda. Asal bangun pagi, [dipanggil] Bunda…, diciumnya di sini [pipi]. Pas mau pergi selalu salam dia. Begitu bangun tidur, ‘Bunda mana’, selalu dia tanya Bunda,” kenang Nurlaila sembari menyentuh pipinya, mengingat kesan manis sang anak setiap pagi.
Sebagai remaja, Rasya juga dikenal sebagai sosok yang sangat menghormati orang tua dan tidak pernah menyembunyikan rahasia. “Dia terbuka orangnya kalau sama saya. Saat mau jalan sama kawan, dia selalu minta izin.”
Mimpi Pedang Pora yang Terkubur Selamanya
Langkah Rasya memilih Poltekpel Malahayati Aceh didasari oleh cita-cita mulia yang sangat spesifik. Sejak awal, ia bertekad kuat ingin membanggakan keluarganya dengan menjadi seorang perwira transportasi laut. Ia bahkan sudah membayangkan hari bahagianya di masa depan mengenakan seragam kebesaran.
“Abang [cara Rasya menyebut dirinya] pengin jadi perwira muda, Bunda,” ucap Nurlaila menirukan perkataan manis putranya kala itu.
Tekad Rasya sudah bulat, dirinya enggan mendaftar ke instansi atau kampus lain selain sekolah kedinasan pelayaran tersebut. “Dia gak mau masuk kemana-mana, tetap [memilih] ke situ. ‘Abang pengin jadi perwira, abang pengin menikah pakek pedang pora, Bunda…,” ucap Nurlaila yang akhirnya pecah dalam tangis terisak mengingat impian pernikahan pedang pora sang anak yang kini terkubur selamanya di liang lahat.
Kini, tidak ada lagi pelukan hangat di pagi hari, tidak ada lagi wangi ciuman di pipi sang Bunda, dan tidak akan pernah ada upacara pedang pora yang diimpikan sang calon perwira muda. Di akhir kalimatnya, Nurlaila hanya bisa menaruh harapan besar pada penegak hukum untuk menguak tabir gelap di balik kematian anaknya.
“Tolong diusut, bantu anak saya,” ucap Nurlaila dengan ratapan pilu.[]
Baca Juga: Polisi Selidiki Penyebab Kematian Taruna Poltekpel Malahayati Aceh


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy