Pembangunan Huntap Lhokseumawe Senilai Rp15,2 Miliar Ditargetkan Rampung Akhir Tahun

Struktur rangka modular beton pracetak atau RISHA untuk bangunan rumah hunian tetap tipe 36 yang sedang didirikan di area terbuka Desa Padang Sakti, Lhokseumawe
Deretan struktur modular beton rumah hunian tetap (huntap) bagi penyintas banjir yang mulai berdiri di Desa Padang Sakti, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe, Jumat (23/10/2026). Foto: Fajar Siddik/Line1News

Lhokseumawe, Line1News – Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) sedang membangun 66 unit Rumah Hunian Tetap (Huntap) di Kota Lhokseumawe. Infrastruktur krusial ini diperuntukkan bagi para penyintas banjir dan longsor yang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025 lalu.

Proyek strategis berskala masif ini digarap secara paralel di dua lokasi terpisah. Sebanyak 56 unit huntap dibangun di Desa Padang Sakti, Kecamatan Muara Satu, sementara 10 unit sisanya didirikan di Desa Cut Mamplam, Kecamatan Muara Dua.

Baca Juga: Ini Perusahaan Pemenang Tender Proyek Huntap Lhokseumawe

Proyek bertajuk Pembangunan Hunian Tetap Relokasi Terpusat dan PSU Pendukung Kota Lhokseumawe 01 ini dikerjakan oleh PT Sarjis Agung Indrajaya dengan nilai kontrak mencapai Rp15.220.489.000, yang bersumber dari APBN tahun anggaran 2026.

Project Manager PT Sarjis Agung Indrajaya, Muhammad Syahril, membeberkan bahwa pembangunan di lapangan telah berjalan selama hampir satu bulan. Hingga saat ini, progres pengerjaan fisik struktur bangunan tercatat baru menyentuh angka tujuh persen.

“Untuk bahan bangunan kebetulan kita ambil dari Binjai dari workshopmen di sana, diproduksi di sana, lalu dikirim ke sini. Itu sudah sesuai dengan standar yang direkomendasikan sama pihak instansi terkait,” ungkap Syahril kepada wartawan, Jumat, 23 Oktober 2026.

Pihak kontraktor optimistis proyek kemanusiaan ini dapat rampung tepat waktu, dengan target paling lambat pada akhir Desember 2026. Guna mengejar target tersebut, PT Sarjis Agung Indrajaya mengerahkan tiga tim kerja (total 30 orang), di mana 85 persen di antaranya pekerja lokal. Jumlah personel ini diproyeksikan melonjak hingga 20 orang per tim saat memasuki fase krusial pemasangan instalasi.

Khusus di Desa Padang Sakti, kompleks huntap modern ini dibangun di lahan seluas empat hektare. Selain huntap tipe 36, kawasan relokasi terpadu tersebut juga akan dilengkapi dengan Prasarana, Sarana, dan Utilitas umum (PSU), mulai dari jalan, instalasi lampu penerangan, drainase, akses air bersih, hingga balai warga multiguna yang dapat difungsikan sebagai mushala.

Di sisi lain, Kepala Bidang Perumahan dan Permukiman Dinas PUPR Kota Lhokseumawe, Furqan, mengatakan sebanyak 56 unit huntap di Desa Padang Sakti nantinya akan ditempati oleh para penyintas banjir asal Desa Blang Naleung Mameh, Kecamatan Muara Satu, dan dua keluarga korban longsor di kecamatan yang sama.

“Sepuluh unit lainnya di Desa Cut Mamplam, akan kita berikan kepada penyintas banjir di Desa Jamboe Timu, Kecamatan Blang Mangat sebanyak delapan unit, berikut korban longsor juga yang ada di [Kecamatan] Muara Dua,” kata Furqan.

Furqan menambahkan, pemilihan kedua lokasi huntap ini didasarkan pada status legalitas lahan milik Pemko Lhokseumawe. Selain itu, zonasi tersebut berada di wilayah bebas bencana berdasarkan hasil rekomendasi resmi dari Badan Geologi Pusat.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy