Bireuen – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, mengatakan salah satu fokus utama pemerintah dalam penanganan dampak banjir di Bireuen ialah pemulihan infrastruktur.
Tercatat 12 jembatan yang rusak akibat banjir di Bireuen pada akhir November 2025. Suharyanto menyebut jembatan besar seperti di Kuta Blang dan lainnya akan ditangani langsung oleh pemerintah pusat yang saat ini masih menunggu Instruksi Presiden (Inpres).
Dengan terbitnya Inpres, kata Suharyanto, pembangunan akan dilakukan melalui mekanisme khusus, melibatkan seluruh kementerian dan lembaga terkait, bukan hanya BNPB.
Adapun jembatan-jembatan kecil diminta segera dibangun. “Kalau ada tenaga yang bisa membangun tapi terkendala biaya, kami yang biayakan. Kalau perlu sewa alat, sewa saja dulu, nanti kami yang bayar,” tegas Suharyanto saat pertemuan dengan Bupati Bireuen, Rabu, 24 Desember 2025, dikutip dari keterangan tertulis pada Kamis (25/12).
Menurut Suharyanto, BNPB juga membuka fleksibilitas dalam penyediaan hunian sementara (huntara). Huntara dapat dibangun di atas tapak rumah warga atau lahan milik masyarakat sendiri, selama dinilai aman dari banjir dan tidak harus dalam satu hamparan.
Bagi warga yang menumpang di rumah keluarga, pemerintah menyiapkan bantuan Rp 600 ribu per bulan per kepala keluarga.
“Pembangunan huntara tidak perlu menunggu seluruh data terkumpul. Kalau bisa sekarang, bangun sekarang,” kata Suharyanto.
Suharyanto menegaskan seluruh kebutuhan daerah selama masa tanggap darurat akan difasilitasi. BNPB akan melakukan pendampingan berkelanjutan.
“Kalau kita bersatu, semuanya bisa. Awalnya ada 18 kabupaten/kota terdampak, sekarang tersisa 16. Kami akan terus mendampingi Bupati dan masyarakat sampai kondisi benar-benar membaik,” ujar Suharyanto.
Masih Tertutup Lumpur
Selain infrastruktur dan hunian, BNPB juga diminta menambah personel untuk membantu pembersihan lumpur di wilayah terdampak.
Bupati Bireuen, Mukhlis, menyampaikan sejumlah kecamatan masih tertutup lumpur setinggi hingga satu meter. Warga kurang mampu kesulitan membersihkan rumah dan pekarangan, berbeda dengan warga yang mampu menyewa tenaga.
“Kalau hanya mengandalkan pemerintah kabupaten, kami betul-betul angkat tangan. Kami sangat berharap ada solusi agar masyarakat bisa segera kembali ke rumah,” ujar Mukhlis.
Dia juga mengungkapkan sebagian besar pengungsi memilih pulang meski rumah belum layak dihuni. Sebagian lainnya bertahan di pengungsian karena tidak bisa menginap di rumah mereka.
Aspirasi Masyarakat
Keuchik Gampong Kubu, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Bireuen, Razali, juga menyampaikan aspirasi masyarakat. Mereka meminta percepatan perbaikan jembatan, normalisasi tebing sungai, serta pencetakan sawah agar roda ekonomi kembali bergerak. Akses sekolah anak-anak juga menjadi perhatian serius.
“Kami seumur hidup belum pernah merasakan banjir separah ini. Kami mohon penanganan secepatnya agar kehidupan masyarakat bisa kembali maksimal,” ujar Razali.
Mereka juga meminta pembangunan sumur bor di sejumlah titik untuk memudahkan warga saat kembali ke rumah masing-masing.
BNPB memastikan seluruh masukan tersebut akan dikoordinasikan dengan pemerintah pusat, termasuk yang telah disampaikan sebelumnya kepada Presiden, untuk mempercepat pemulihan Bireuen pascabencana.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy