Takengon – Jembatan darurat di Kampung Terang Engon, Kecamatan Silih Nara, Aceh Tengah, putus total setelah kawasan itu diguyur hujan lebat sehingga sungai meluap.
“Jembatan darurat yang putus total jembatan Kampung Terang Engon,” ujar Kadis Kominfo Aceh Tengah Mustafa Kamal dilansir Detik.com, Jumat, 20 Februari 2026.
Selain itu, kata Mustafa, dua jembatan darurat lainnya rusak ringan, yakni jembatan Berawang Gajah di Kampung Burlah dan jembatan ayun Kampung Bergang di Kecamatan Ketol. Jembatan asli di tiga lokasi itu putus saat bencana akhir November 2025.
“Jembatan Berawang Gajah dan jembatan ayun masih bisa dilalui roda dua, tapi juga harus segera ditangani,” ujarnya.
Menurut warga, jembatan darurat ayun penghubung ke Kampung Bergang rusak setelah air sungai menggerus material penyangga di kedua sisi jembatan.
“Hujan lebat, air kembali meluap, jadi material penyangga jembatan terkikis air. Sekarang jembatan sulit dilalui,” ungkap warga, Arfan Agus, dikutip dari Kompas.com, Jumat (20/2/2026).
Material penyangga di kedua sisi jembatan yang terdiri dari beronjong dan susunan batu mulai terkikis sejak dua hari terakhir akibat luapan air.
Jembatan kayu tersebut sebenarnya baru saja diresmikan pada 7 Februari 2026 oleh Wakil Bupati Aceh Tengah Muchsin Hasan.
Baca juga: Sling Putus, Wabup Aceh Tengah Nyaris Jatuh Saat Seberangi Sungai Bergang
Karena kondisinya oleng, jembatan hanya dapat dilalui kendaraan roda dua. Itu pun bagi pengendara yang berani mengambil risiko.
“Kondisi jembatan yang oleng cukup berisiko untuk dilewati. Tapi tetap saja, ada pengendara yang nekat melintasi jembatan tersebut. Mau bagaimana lagi kan, itu kan satu-satunya akses penghubung ke kampung kami,” tuturnya.
Akses tersebut merupakan satu-satunya jalur penghubung utama warga Kampung Bergang untuk aktivitas sehari-hari, termasuk distribusi hasil pertanian dan kebutuhan pokok.
Sebelumnya, jembatan ayun yang menjadi satu-satunya jalur transportasi penghubung ke Kampung Bergang, Karang Ampar, dan Pantan Reduk, sempat hanyut diterjang banjir bandang.
Pascabencana, warga harus bertaruh nyawa dengan memanfaatkan sling dan kawat besi untuk mengangkut hasil panen serta logistik demi bertahan hidup.
Bahkan Muchsin Hasan nyaris jatuh ke Sungai Bergang karena tali sling putus pada Rabu, 24 Desember 2025, saat ia menyeberang untuk mengantarkan bantuan.
Jembatan darurat kemudian dibangun sebagai solusi sementara, sebelum akhirnya kembali mengalami kerusakan akibat cuaca ekstrem.
Longsor di Jalan Danau Lut Tawar
Sementara itu, kata Mustafa, hujan yang terus mengguyur pada Rabu (18/2) menyebabkan jalan di sepanjang Danau Lut Tawar tertimbun longsor di beberapa titik.
Pembersihan longsoran masih terus dilakukan. Sejumlah alat berat dikerahkan ke lokasi. Mustafa menyebutkan, longsoran tersebut membuat jalan tidak dapat dilewati.
“Titik longsor sangat banyak. Di wilayah Kecamatan Kebayakan saja ada tiga titik yang masih dibersihkan,” jelas Mustafa.
Berdasarkan data BPBA, banjir dan longsor pada Rabu (18/2) terjadi di empat desa di Kecamatan Lut Tawar, dua desa di Kecamatan Bintang, Desa Mendale di Kecamatan Kebayakan, dan Kute Baru di Kecamatan Linge. Warga terdampak disebut mengungsi ke tempat lebih aman.
Diketahui, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat mengguyur sejumlah daerah di Aceh dalam beberapa hari terakhir. Hujan menyebabkan beberapa desa kembali terjadi banjir luapan.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy