Meureudu – Warga korban banjir di Gampong Manyang Cut, Pidie Jaya, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, terpaksa melaksanakan ibadah salat tarawih dan witir malam pertama Ramadan di meunasah (musala) darurat, Rabu, 18 Februari 2026.
Kondisi ini menyusul masjid yang selama ini digunakan untuk ibadah, masih tertimbun lumpur tebal akibat banjir yang melanda wilayah itu pada akhir November 2025 lalu.
“Ini malam tarawih pertama, saya terima kasih banyak karena sudah dibangun meunasah darurat ini,” kata Wakil Kepala Imam Meunasah Desa Manyang Cut, Jailani Harun.
Jailani mengaku bersyukur, meski dalam kondisi masih berduka warga sekitar bisa melaksanakan salat tarawih, walaupun di meunasah sementara.
“Dengan adanya meunasah darurat ini, ya, bisa malam pertama inilah kita salat tarawih. Meunasah sebelumnya tidak bisa dipakai lagi, karena ada banjir,” ujar Jailani.
Dia menyebut meunasah darurat ini bisa menampung sekitar 50 jemaah laki-laki dan perempuan. Salat tarawih di meunasah ini tetap berlangsung khusyuk.
Jailani menyampaikan suasana ibadah pada malam pembuka Ramadan kali ini terasa sangat berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jemaah yang biasanya memadati ruangan, kini hanya terpantau terisi dua saf.
“Ramadan kali ini kami tentu sangat berbeda. Ini keadaan sangat duka karena musibah, tapi terpaksa kami salat di meunasah darurat,” pungkasnya.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy