Melacak Rute Maersk Chilka, Raksasa Kargo Berbendera Hong Kong Diduga Tabrak Kapal Nelayan Aceh Timur

Kapal Kargo Maersk Chilka
Kapal Kargo Maersk Chilka. Foto: vesseltracker.com

Lhokseumawe – Ketua Komisi I DPRA Teungku Muharuddin menyebutkan kapal nelayan Aceh Timur KM Puga Laot diduga ditabrak kapal kargo asal Hongkong, Maersk Chilka, di perairan Selat Malaka.

Muharuddin menyebutkan insiden tabrakan terjadi pada Selasa, 15 Juli 2025, sekira 72,2 mil laut dari Lhokseumawe, atau di atas 12 mil lepas pantai dan masuk dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) berdasarkan United Nation Convention on the Law off the Sea (UNCLOS) 1982.

“Namun masuk dalam yurisdiksi negara pantai wilayah hukum Indonesia,” ujar Muharuddin dalam keterangan tertulis, diterima Line1.News, Sabtu, 19 Juli 2025.

Karena itu, kata dia, Komisi I DPRA meminta TNI Angkatan Laut melakukan investigasi peristiwa tersebut untuk mengetahui ada atau tidaknya pelanggaran yang dilakukan Maersk Chilka.

Profil Maersk Chilka

Melansir Myshiptracking.com, Maersk Chilka merupakan jenis kapal kontainer yang tercatat dengan nomor identifikasi International Maritime Organization (IMO) 9525364 dan nomor radio maritim Maritime Mobile Service Identity (MMSI) 477083700. Kapal ini berbendera Hong Kong dengan tanda panggilan VRJT4.

Panjang Maersk Chilka 249 meter dan lebar 37 meter. Bobot kotor atau Gross Tonnage mencapai 50.869 ton, dan bobot mati atau Deadweight Tonnage 61.614 ton.

Baca juga: DPRA Minta TNI AL Investigasi Kapal Kargo Tabrak Kapal Nelayan Aceh

Berdasarkan data pelayaran, Maersk Chilka tercatat meninggalkan pelabuhan Cotonou, Benin (BJCOO) di kawasan Afrika Barat pada 21 Juni 2025 pukul 09.07 waktu setempat.

Kapal kargo tersebut diperkirakan telah tiba di Singapura (SGSIN) pada Sabtu kemarin, 19 Juli 2025, pukul 07.59 waktu setempat.

Artinya kapal tersebut telah menghabiskan waktu 28 hari pelayarannya dari Cotonou menuju Singapura, dengan total jarak tempuh 8.728,23 mil laut. Selama perjalanan tersebut, kecepatan rata-rata kapal berkisar 12,5 knot, dengan kecepatan maksimum mencapai 18,6 knot.

Maersk Chilka dibangun pada 2012 oleh galangan kapal terkemuka Hyundai Heavy Industries Co. Ltd. di Ulsan, Korea Selatan. Sebelumnya, kapal ini juga dikenal dengan nama Safmarine Chilka.

Sementara itu, Balticshipping.com menyebutkan, Maersk Chilka terdaftar di bawah klasifikasi American Bureau of Shipping dan kini dimiliki oleh Maersk Shipping Hong Kong. Adapun pengelolaan operasional kapal dipercayakan kepada AP Moller Maersk yang bermarkas di Kopenhagen, Denmark.

Data vessel Maersk Chilka
Data vessel Maersk Chilka dan rute pada 19 Juli 2025. Foto: Tangkapan Layar

Kronologi Perjalanan Maersk Chilka

Dari lokasi geografis yang menjadi penanda rute kapal, berikut kronologi perjalanan Maersk Chilka berdasarkan waypoints pada tanggal-tanggal di sekitar insiden (16, 17, 18 Juli 2025), dikutip dari Vesseltracker.com:

16 Juli 2025

Kapal memasuki bagian utara Selat Malaka. Ini gerbang masuk ke salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia, artinya kapal sudah mendekati wilayah Asia Tenggara.

17 Juli 2025

Terekam tiga kali di area Pulau Penang, Selat Malaka.

  • Pertama, kapal meninggalkan Pulau Penang, kemungkinan setelah melewati atau mendekatinya.
  • Kemudian, memasuki Penang lagi.
  • Lalu sekali lagi meninggalkan Penang. Ini bisa menunjukkan pergerakan navigasi, tunggu, atau perubahan rute di area tersebut.

18 Juli 2025

Kapal meninggalkan Port Klang, salah satu pelabuhan terbesar dan tersibuk di Malaysia. Di hari yang sama, kapal meninggalkan Pulau Kukup di selatan Johor, Malaysia, dekat dengan Singapura.

Dari informasi yang disebutkan Muharuddin dan dihimpun Line1.News, KM Puga Laot tenggelam pada Selasa, 15 Juli 2025, di perairan ZEE Indonesia, sekitar 72 mil laut (sekira 133,3 kilometer) dari Lhokseumawe atau Pelabuhan Perikanan Nusantara Idi Aceh Timur.

Baca juga: Dua Nelayan Korban Tenggelamnya Kapal Puga Laot Belum Ditemukan, SAR Aceh Koordinasi dengan Langkawi

Menurut data waypoint Maersk Chilka, kapal ini tercatat baru memasuki bagian utara Selat Malaka pada 16 Juli. Ada kemungkinan, saat insiden tabrakan terjadi, diduga Maersk Chilka belum berada di dalam Selat Malaka secara penuh.

Kapal tersebut kemungkinan masih dalam perjalanan mendekati atau baru saja mencapai ambang batas barat laut Selat Malaka. Tepatnya di perairan Samudra Hindia atau Laut Andaman yang berbatasan dengan ZEE Indonesia atau negara tetangga di sekitarnya.

Namun, untuk memastikan apakah ada kemungkinan tabrakan, diperlukan data posisi lebih akurat seperti koordinat GPS dari kedua kapal pada waktu kejadian.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy