Pagi belum sepenuhnya benderang ketika guratan kesibukan mulai terasa di kalangan anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Senin, 21 September 2026, menandai hari ketiga Festival Media (Fesmed) Selat Malaka 2026. Setelah menghabiskan dua hari penuh dalam kehangatan lokakarya, seminar, dan pelatihan di Politeknik Negeri Batam, puluhan delegasi dari berbagai kota di Indonesia ini bersiap meninggalkan Batam, pulau ekonomi yang berdenyut kencang di dekat Singapura. Bersama Line1News, perjalanan jurnalis dari berbagai penjuru Nusantara ini beralih haluan menuju Kota Tanjungpinang, ibu kota Provinsi Kepulauan Riau, demi sebuah misi: meresapi kembali kejayaan intelektual dan sejarah Melayu di Pulau Penyengat.
Rombongan bertolak dari Asrama Haji BP Batam di kawasan Batam Center menggunakan bus sewaan menuju Pelabuhan Telaga Punggur di Nongsa, sekitar 16 kilometer di ujung tenggara Pulau Batam. Di pelabuhan, sebuah kapal Ferry telah menanti untuk membawa kami membelah lautan menuju Kota Tanjungpinang. Berada di geladak terbuka lantai teratas, embusan angin laut yang deras menyapu wajah mengiringi laju kapal yang membelah gulir-gulir gelombang.
Satu jam pelayaran berlalu tanpa terasa hingga lambung Ferry merapat di Pelabuhan Sri Bintan Pura, Tanjungpinang. Pelabuhan sibuk di pantai barat Pulau Bintan ini tidak sekadar menjadi penghubung domestik antarpulau, melainkan juga pintu gerbang internasional menuju Singapura dan Malaysia.

[Pelabuhan Sri Bintan Pura, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Foto: Fakhrurrazi/Line1News]
Petualangan sesungguhnya dimulai ketika kami berganti moda transportasi ke perahu kayu kecil yang akrab disebut “pompong” oleh warga Kepri. Dengan kapasitas sekitar 10 orang, perahu bertenaga dua mesin ini melesat cepat memotong riak laut bawah komando sang nakhoda, Ridwan, yang menyambut kami dengan senyum semringah. Hanya butuh waktu sepuluh menit berlayar, pompong kami akhirnya bersandar mulus di dermaga Pulau Penyengat.
Begitu menapakkan kaki di darat, dua pria bertubuh tegap mengenakan pakaian adat lengkap dengan tanjak—ikat kepala khas Melayu—menyambut kedatangan kami dengan hangat.
“Selamat datang di Pulau Penyengat,” kata salah seorang pria yang belakangan kami ketahui merupakan pemandu wisata lokal.
Langkah kaki membawa kami melewati gapura tinggi bernuansa megah dengan dominasi warna kuning dan merah serta sedikit sentuhan hijau, bertuliskan “Selamat Datang di Pulau Penyengat”. Pulau mungil ini hanya memiliki panjang dua kilometer dan lebar sekitar 850 meter, namun di atas tanah yang terbatas inilah jasad pujangga masyhur Melayu, Raja Ali Haji, bersemayam tenang di seberang barat selat Tanjungpinang.

[Gapura Pulau Penyengat, Kepulauan Riau. Foto: Fakhrurrazi/Line1News]
Sebelum menyusuri pulau lebih jauh, seluruh rombongan berkumpul terlebih dahulu di pelataran Masjid Raya Sultan Riau sembari menikmati kudapan ringan dan menunggu rombongan lain merapat. Di sinilah, melalui tradisi berbalas pantun yang jenaka sekaligus sarat makna, kami dipecah menjadi dua kelompok. Kelompok saya didampingi oleh Raja Fahrul, seorang pemandu yang melengkapi dirinya dengan mikrofon kecil dan sebuah dokumen lusuh berisi catatan sejarah emas Penyengat.

[Delegasi AJI kota seluruh Indonesia berfoto di Masjid Raya Sultan Riau di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau. Foto: Fakhrurrazi/Line1News]
Kami mulai berjalan beriringan, menyusuri jalanan kampung setempat yang belum beraspal. Di sepanjang setapak, rumah-rumah panggung kayu milik warga berdiri berjejer, menampilkan arsitektur lawas yang kini telah berpadu dengan sentuhan modern. Sesekali, sapaan ramah kami lontarkan kepada anak-anak sekolah dasar yang tengah menikmati jam istirahat mereka.
Situs bersejarah pertama yang kami temui adalah Rumah Tabib. Bangunan peninggalan Kerajaan Riau-Lingga ini kini berdiri tanpa atap, menyisakan dinding-dinding batu kokoh dengan halaman yang cukup lapang. Di sinilah dahulu tempat tinggal Raja Ahmad Thabib bin Raja Hasan bin Raja Ali Haji. Menurut Raja Fahrul, sang tabib bukan sekadar ahli dalam meramu obat dan menyembuhkan penyakit.
“Ia juga seorang ulama,” ujarnya singkat.

[Gedung Tabib di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau. Foto: Fakhrurrazi/Line1News]
Perjalanan berlanjut menembus lorong-lorong kecil hingga kami tiba di sebuah kompleks makam yang dinaungi bangunan kecil dengan dominasi warna kuning khas kerajaan. Kami beristirahat sejenak di bawah kerindangan pohon yang asri, mendengarkan bait demi bait silsilah yang mengalir dari bibir Raja Fahrul. Ia mengisahkan bahwa Raja Ali Haji merupakan anak dari Raja Ahmad, sekaligus keponakan dari Engku Putri Raja Hamidah. Engku Putri sendiri adalah putri dari Yang Dipertuan Muda Riau IV, Raja Haji Fisabilillah, sekaligus permaisuri dari Sultan Mahmud Syah III. Ketika mereka menikah pada tahun 1803, Pulau Penyengat inilah yang dijadikan mas kawinnya.
“Mirip Taj Mahal India yang dibangun sebagai bukti cinta raja pada istri, Sultan Mahmud Syah III menghadiahkan Pulau Penyengat untuk Engku Putri. Ia pemegang regalia, alat kebesaran dan mahkota, syarat sah penobatan sultan,” jelas Raja Fahrul penuh kekaguman.
Kami kemudian melangkah masuk ke dalam kompleks pemakaman setelah menyempatkan diri berfoto bersama di undakan tangga. Di bagian tengah kompleks, terdapat sebuah bangunan khusus tempat bersemayamnya Engku Putri Raja Hamidah, sang permaisuri yang mangkat dalam rentang garis waktu sejarah Riau-Lingga. Di sekitar bangunan tersebut, berjajar pula makam tokoh penting lainnya, seperti Raja Ahmad sang penasihat kerajaan, Raja Ali Haji sang pujangga, Raja Abdullah selaku Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga IX, hingga Raja Aisyah sang permaisuri.

[Kompleks makam di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau. Foto: Fakhrurrazi/Line1News]
Nama Raja Ali Haji sendiri telah diukir sebagai Pahlawan Nasional pada 10 November 2004 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Karya monumentalnya, Gurindam 12, hingga kini terus abadi menjadi suluh moral yang berisi nasihat mendalam tentang hubungan manusia dengan Sang Pencipta maupun dengan sesamanya.
Dari ketenangan makam, langkah kami kembali berputar menuju detak jantung Pulau Penyengat: Masjid Raya Sultan Riau. Dibangun dalam kurun waktu 1771 hingga 1815, masjid ikonik berwarna kuning cerah ini berdiri anggun dengan dua menara yang mengapit bangunan utama serta dua paviliun kecil di sisi kiri dan kanan halaman.
Melangkah ke bagian dalam masjid, atmosfer spiritual terasa begitu pekat. Di sana tersimpan sebuah mushaf Al-Quran kuno tulisan tangan yang sangat indah. Mushaf tersebut merupakan mahakarya Abdurrahman Stambul, seorang putra asli Pulau Penyengat yang dikirim oleh Kerajaan Lingga ke Mesir untuk menuntut ilmu. Sekembalinya ke tanah air, ia mendedikasikan hidupnya menjadi guru dan tersohor berkat kemahirannya menggoreskan “khat” indah bergaya Istanbul. Al-Quran bersejarah ini diselesaikannya pada tahun 1857 di sela-sela kesibukannya mengajar.

[Al-Quran tulisan tangan di Masjid Raya Sultan Riau, Pulau Penyengat, Kepulauan Riau. Foto: Fakhrurrazi/Line1News]
Matahari mulai meninggi dan waktu beranjak mendekati Zuhur ketika rangkaian ziarah sejarah kami di Pulau Penyengat berakhir. Kami kembali menaiki pompong untuk menyeberang ke daratan Tanjungpinang. Embusan angin kencang dan kecipak ombak yang membasahi haluan perahu mengiringi kepulangan kami dengan sejuta kesan.
Setibanya di darat, kami berjalan kaki menuju Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri, sebuah bangunan megah yang letaknya berdekatan dengan Gedung Dekranasda dan tidak jauh dari Pelabuhan Sri Bintan Pura. Di sinilah agenda sarasehan AJI Indonesia bersama AJI kota dilanjutkan, yang dibuka dengan sebuah tradisi kuliner istimewa: makan berhidang.

[Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepulaun Riau. Foto: Fakhrurrazi/Line1News]
Ketua LAM Kepri, Raja Al Hafiz, menyambut kami dengan senyuman dan menjelaskan arti penting dari tata cara makan tradisional ini.
“Ini adalah satu adat istiadat, tata cara orang Melayu makannya. Makannya adalah makan berhidang, satu hidangan untuk empat orang,” ungkap Raja Al Hafiz di hadapan para delegasi jurnalis.
Tradisi makan berhidang ini bukan sekadar rutinitas mengisi perut, melainkan cerminan kebersamaan dan kesetaraan yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, acara keluarga, hingga upacara adat dan pernikahan resmi. Bahkan, pembagian makanan pun diatur sedemikian rupa agar setiap orang di dalam lingkaran mendapatkan porsi lauk yang sama adilnya.
Siang itu, lidah para delegasi dimanjakan oleh kekayaan rempah kuliner Melayu. Sajian nasi minyak yang gurih dipadukan sempurna dengan kuah korma, darca, pacri, gulai, dan acar berempah. Menurut penjelasan Raja Al Hafiz, nasi minyak merupakan salah satu hidangan ikonik yang lekat dengan siklus tradisi masyarakat Melayu di Kepulauan Riau. Di atas hamparan karpet, di dalam kepungan hangat Gedung LAM, kami menikmati hidangan tersebut bersama-sama, meleburkan jarak dalam filosofi kebersamaan seulas hidangan khas Bumi Segantang Lada.

[Makan berhidang khas Melayu Kepulauan Riau. Foto: Fakhrurrazi/Line1News]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy