Bukan Plakat Biasa! Setengah Ton Tutup Botol Plastik Disulap Jadi Simbol Kehormatan di Fesmed Selat Malaka

Pintu Gerbang Fesmed Selat Malaka Batam 2026
Gerbang utama Festival Media (Fesmed) Selat Malaka 2026 di Kampus Politeknik Negeri Batam, Kepulauan Riau. Dalam festival yang mengusung tema 'Kemerdekaan Pers dan Keadilan HAM di Asia Tenggara' ini, organisasi lingkungan Free the Sea turut berkolaborasi dengan mendaur ulang 500 kg tutup botol plastik menjadi plakat penghargaan bagi para narasumber dan jurnalis. Foto: Fakhrurrazi/Line1News

Batam, Line1News – Siapa sangka, setengah ton sampah plastik yang biasanya mengotori lingkungan kini justru naik kelas menjadi simbol kehormatan. Sebanyak 500 kilogram (kg) tutup botol plastik bekas berhasil diselamatkan dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan disulap menjadi plakat penghargaan estetis dalam ajang bergengsi Festival Media (Fesmed) Selat Malaka 2026.

Aksi nyata upcycling (daur ulang bernilai tinggi) ini lahir dari tangan dingin Free the Sea, sebuah organisasi pencegahan sampah plastik laut berbasis di Batam. Langkah ini menjadi bentuk dukungan konkret mereka terhadap Fesmed Selat Malaka 2026 yang digawangi oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, AJI Batam, dan AJI Tanjungpinang.

Perhelatan akbar AJI ini digelar sepanjang 19–21 September 2026 dengan mengambil lokasi di dua tempat bersejarah, yaitu Kampus Politeknik Negeri Batam dan Pulau Penyengat, Tanjungpinang, Kepulauan Riau.

Mengubah Kerikil Masalah Menjadi Solusi Indah

Proses penciptaan plakat ini tidaklah instan. Ratusan kilogram tutup botol plastik dikumpulkan secara telaten, dipilah, lalu dilebur melalui sistem pengelolaan sampah modern milik Free the Sea di Batam. Hasil akhir dari proses panjang tersebut adalah plakat bernilai guna tinggi yang kini digenggam oleh para penerima penghargaan Fesmed Selat Malaka.

Plakat ramah lingkungan ini dibagikan sebagai bentuk apresiasi kepada:

• Perwakilan AJI dari berbagai provinsi di Indonesia.

• Mitra lintas sektor dan pemangku kepentingan (stakeholders).

• Jurnalis media nasional dan lokal yang setia mengawal isu publik.

• Akademisi serta kreator konten yang hadir membagikan ilmu sebagai narasumber.

Menyuarakan Kebebasan Pers dan Jaga Laut Bersama

General Manager Free the Sea, Deswandy, mengungkapkan bahwa kolaborasi ini menjadi jembatan emosional untuk mempertemukan dua isu krusial yang berdampak luas bagi masyarakat di kawasan perbatasan, yakni keberlanjutan lingkungan dan kebebasan pers.

“Selat Malaka adalah ruang hidup bersama. Menjaga lingkungan pesisirnya membutuhkan kolaborasi dan perhatian publik, termasuk melalui kerja jurnalistik yang mampu mengangkat persoalan lingkungan dan masyarakat di kawasan ini,” kata Deswandy penuh optimisme, Minggu (20/9/2026).

Bagi Deswandy, penggunaan material daur ulang untuk plakat penghargaan bukan sekadar urusan estetika visual atau estetika semata. Ada pesan mendalam yang ingin dititipkan kepada setiap jurnalis yang membawanya pulang.

“Melalui plakat ini, kami ingin menunjukkan bahwa sesuatu yang sebelumnya dianggap sebagai sampah dapat diolah kembali menjadi sesuatu yang bernilai,” ujarnya.

“Kami berharap pesan ini juga dapat dibawa lebih jauh melalui para jurnalis, akademisi, komunitas, dan pemangku kepentingan yang hadir di Fesmed Selat Malaka,” tambahnya.

Melalui plakat unik ini, Fesmed Selat Malaka tidak hanya menjadi ruang diskusi jurnalisme, tetapi juga menjadi panggung nyata yang menggaungkan suara kelestarian alam dan keadilan bagi masyarakat pesisir.[]

Baca Juga:

Festival Media Selat Malaka: Menembus Batas Laut, Menantang Jurnalis Mengawal Isu Kelautan

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy