Protes Maraknya Reklamasi, GMNI: Danau Lut Tawar belum Merdeka

Aktivis GMNI Aceh Tengah
Aktivis GMNI Aceh Tengah menolak reklamasi di pinggiran Danau Lut Tawar. Foto: Istimewa

Takengon – Lima orang aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Aceh Tengah memprotes maraknya reklamasi untuk bangunan liar di pinggiran Danau Lut Tawar.

Mereka menggelar aksi penolakan bertepatan HUT ke-80 RI dengan membentangkan spanduk bertulisan ‘Tolak Reklamasi di Danau Lut Tawar’.

“Danau Lut Tawar belum merdeka. Maraknya bangunan yang mengatasnamakan pariwisata namun justru merusak ekosistem Danau Lut Tawar yang menjadi kebanggaan masyarakat Gayo,” tegas Ketua GMNI Aceh Tengah Saparuda IB kepada wartawan, Senin, 18 Agustus 2025.

Seharusnya, kata Saparuda, Pemerintah Aceh Tengah di bawah kepemimpinan Haili Yoga-Muchsin Hasan, bertindak tegas demi menyelamatkan Danau Lut Tawar dari praktik bangunan ilegal.

“Pemerintah jangan tinggal diam, buat regulasi undang-undang yang berlaku serta memberikan sanksi tegas kepada pelaku reklamasi. Namun bila perlu lakukan pembongkaran agar kerusakan lingkungan tidak semakin meluas,” cetusnya.

Saparuda mengapresiasi langkah Bupati-Wakil Bupati Aceh Tengah yang sebelumnya telah menertibkan alat tangkap ikan seperti cangkul padang dan cangkul dedem.

Dia meminta Haili dan Muchsin Hasan melakukan hal serupa kepada pelaku reklamasi yang disebutnya dapat merusak lingkungan dan membuat air Danau Lut Tawar menyusut.

“Jangan tebang pilih. Jangan sampai reklamasi dianggap hal sepele yang bisa dibiarkan. Ini menyangkut keberlangsungan lingkungan dan kehidupan masyarakat.”

GMNI Aceh Tengah, pungkas Saparuda, akan menyurati resmi legislatif dan eksekutif untuk meminta audiensi terkait masalah tersebut.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy