Meulaboh, Line1News – Wali Nanggroe Aceh, Paduka Yang Mulia Tgk. Malik Mahmud Al Haythar, menaruh perhatian emosional saat meninjau langsung proyek Rumah Sakit (RS) Regional Aceh Barat yang mangkrak, Minggu, 17 Mei 2026. Di balik kemegahan bangunan yang disebutnya berstandar Eropa, terselip keprihatinan mendalam karena fasilitas vital bagi warga wilayah Barat Selatan (Barsela) ini belum juga rampung.
“Saya melihat gedung ini luar biasa, cukup bagus. Konstruksinya bergaya Eropa dan menurut saya tidak kalah dengan yang ada di Eropa maupun Singapura,” ujar Malik Mahmud terpukau saat berkeliling bersama Bupati Aceh Barat, Tarmizi, dikutip dari rilis Kabag Humas dan Kerja Sama Wali Nanggroe, Zulfikar Idris.
Meski progres fisik sudah menyentuh 50 persen, Malik Mahmud mempertanyakan mengapa proyek sebesar ini harus terhenti di tengah jalan. Padahal, anggaran jumbo sudah dikucurkan. Jika dibiarkan telantar, struktur bangunan yang ada terancam rusak sia-sia.
Tak ingin tinggal diam, Wali Nanggroe berkomitmen membawa persoalan ini langsung ke level tertinggi. Bersama Bupati Tarmizi, ia berencana menemui Presiden Republik Indonesia di Jakarta untuk memperjuangkan kelanjutan anggaran pusat.
Sebagai modal diplomasi di Istana, ia menginstruksikan tim terkait menyusun dokumentasi video komprehensif dan kronologi proyek sejak awal hingga kondisi terkini. “Yang terpenting sekarang adalah melanjutkan pembangunan demi masyarakat Aceh agar memperoleh layanan kesehatan yang layak,” tegasnya.
Memori Kerja Sama Jerman

[Wali Nanggroe, Malik Mahmud, bersama Bupati Aceh Barat, Tarmizi, meninjau maket dan papan progres pembangunan RS Regional Aceh Barat, Minggu, 17 Mei 2026. Foto: Istimewa]
Proyek RS Regional ini sejatinya punya sejarah panjang. Wali Nanggroe mengenang, gagasan ini dirintis sejak era Gubernur dokter Zaini Abdullah. Kala itu, pihak Jerman bahkan sudah berkomitmen memberikan sokongan dana hingga pelatihan medis berstandar Eropa.
Tujuan utamanya mulia: memutus rantai rujukan panjang, agar warga Barsela tidak perlu lagi menempuh perjalanan jauh ke RSUD dr. Zainoel Abidin di Banda Aceh untuk berobat.
Butuh Rp200 Miliar untuk Beroperasi di 2028
Bupati Aceh Barat, Tarmizi, menyambut baik dukungan penuh Wali Nanggroe. Saat ini, skema pendanaan melalui APBA sedang digodok bersama Tim Anggaran Pemerintah Aceh (TAPA). Tarmizi berharap minimal ada Rp50 miliar yang dikucurkan tahun ini agar pembangunan tidak vakum total.
Selanjutnya, Pemkab Aceh Barat membidik skema multiyears senilai Rp150 miliar saat Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) kembali tersedia. Jika total Rp200 miliar tambahan berhasil dikantongi, RS Regional ini ditargetkan mulai beroperasi melayani pasien pada akhir tahun 2028.
“Jika anggaran itu terpenuhi, fasilitas IGD, rawat inap, hingga poli pelayanan bisa diselesaikan sepenuhnya untuk melayani masyarakat di tiga kabupaten Barsela,” jelas Tarmizi.
Beresin Data Warga Miskin agar Tak Ditolak RS
Selain urusan fisik bangunan, kunjungan kerja ini juga membahas penguatan ekonomi dan validasi data kemiskinan (data desil). Tarmizi menekankan, perbaikan data ini krusial agar saat RS beroperasi nanti, tidak ada lagi warga miskin yang tertolak karena kendala administrasi.
Saat ini, perbaikan data berbasis gampong tersebut sudah mencapai 60 persen. Pemkab Aceh Barat menargetkan validasi data ini rampung sepenuhnya pada Oktober mendatang, setelah melewati proses finalisasi di Agustus dan September.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy