Moskwa – Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, melemparkan peringatan dini yang mengerikan bagi lanskap militer global. Dalam forum internasional 12th Primakov Readings, Peskov mengungkap bahwa dunia akan segera menyaksikan kehadiran jenis senjata non-nuklir baru yang memiliki kekuatan destruktif (daya hancur) setara dengan senjata nuklir.
Menurut Peskov, situasi keamanan global saat ini terus merosot di berbagai parameter. Untuk mencegah meletusnya perang dunia berskala besar di tengah ancaman-ancaman baru tersebut, saat ini bumi hanya bergantung pada satu benteng pertahanan tersisa, yaitu sistem pencegahan nuklir (nuclear deterrence).
Melansir Kantor Berita TASS, Rabu, 24 Juni 2026, berikut adalah poin-poin krusial dari pernyataan juru bicara Presiden Vladimir Putin tersebut:
1. Ancaman Senjata Baru dan Rapuhnya Keamanan Global
Peskov menegaskan bahwa parameter keamanan global kini sedang mengalami erosi parah. Sementara senjata non-nuklir masa depan yang mematikan sedang mengancam, dunia justru kehilangan instrumen untuk saling bersepakat.
“Kini sudah sangat jelas bahwa jenis senjata baru yang non-nuklir, tetapi berpotensi memiliki daya rusak setara dengan senjata nuklir, akan segera muncul di dunia,” peringat Peskov.
Ia menambahkan bahwa saat ini doktrin pencegahan nuklir masih bekerja efektif sebagai pilar utama keamanan dunia. “Faktanya, kita tidak punya instrumen lain di dunia ini selain pencegahan nuklir. Hanya hal itu yang saat ini melindungi bumi dari perang global,” katanya. Namun, ia menyayangkan sistem pertahanan nuklir ini tetap tidak mampu membendung konflik-konflik regional yang potensinya terus meningkat.
2. Kemandulan PBB dan Runtuhnya Hubungan Internasional
Kondisi dunia diperparah oleh hilangnya relevansi organisasi internasional yang dipimpin oleh PBB dan Dewan Keamanan (DK PBB). Lembaga-lembaga ini dinilai mandul dalam menyelesaikan isu-isu aktual dunia.
“Sangat jelas bahwa tatanan dunia saat ini sedang runtuh atau mengalami perubahan radikal. Sistem hubungan internasional mengalami devaluasi,” ujar Peskov. Ia menyebut situasi politik internasional begitu buntu hingga reformasi internal di tubuh DK PBB pun mustahil disepakati antarnegara anggota.
Peskov juga menyindir negara barat yang memaksakan prinsip “peace through strength” (perdamaian lewat kekuatan) dan hegemonisme. “Mereka merasa bisa mendikte hukum karena memiliki kekuatan ekonomi terbesar, lalu bertindak sebagai bos. Kita tidak bisa menutup mata atas posisi itu,” tegasnya.
3. Kejatuhan Dolar AS dan Stagnasi Ekonomi Barat
Dari sektor ekonomi, Kremlin menyoroti tren penurunan porsi dolar AS sebagai mata uang cadangan global. Menurut Peskov, fenomena ini dipicu oleh ulah Amerika Serikat sendiri yang kerap memaksakan aturan sepihak, sehingga memicu kebencian dari negara-negara lain.
Di sisi lain, Peskov menilai lanskap ekonomi barat sedang bertransformasi ke arah ketidakpastian dan diproyeksikan mengalami stagnasi setidaknya dalam satu dekade ke depan akibat masalah pertumbuhan dan krisis demografi. Kondisi ini berbanding terbalik dengan negara-negara di kawasan Global South (Belahan Bumi Selatan) yang tumbuh pesat.
4. Identitas Militer Eropa Didorong Sentimen Anti-Rusia
Mengenai masa depan pertahanan Eropa yang ingin lepas dari pengaruh Amerika Serikat, Peskov memprediksi bahwa kohesi militer Benua Biru tersebut justru akan dibangun di atas fondasi kebencian terhadap Rusia. “Hubungan yang penuh permusuhan dengan Rusia inilah yang akan menjadi motor penggerak utama bagi terbentuknya identitas pertahanan baru Eropa,” sebutnya.
5. Hubungan Istimewa Rusia-India
Di tengah ketegangan global, Rusia berkomitmen mempererat kemitraan istimewa dengan India. Peskov memuji India sebagai negara dengan populasi terbesar dan salah satu kekuatan ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Rusia berdedikasi penuh untuk menjelajahi cakrawala kerja sama baru bersama India di berbagai organisasi internasional.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy