Status Waspada, Jalur Pendakian ke Puncak Burni Telong Ditutup

Sunrise dari puncak gunung Burni Telong, Bener Meriah.
Pemandangan dari puncak gunung Burni Telong, Bener Meriah. Foto: Breedie.com

Redelong – Jalur pendakian Gunung Burni Telong di Kabupaten Bener Meriah ditutup sementara. Penutupan jalur pendakian menyusul aktivitas vulkanik berstatus level II atau waspada.

Kepala Kampung (Desa) Rembune Suhadi mengatakan jalur pendakian Gunung Burni Telong ditutup sampai batas waktu dinyatakan normal kembali.

“Kita tutup dulu sampai batas waktu dinyatakan normal kembali. Setelah statusnya waspadanya ditarik baru kita buka kembali,” ungkap Suhadi, Senin, 4 Agustus 2025.

Dia menjelaskan, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menaikkan status Gunung Burni Telong dari normal menjadi level waspada.

Baca juga: Tiga Gunung Api Tipe A di Aceh dengan Sejarah Letusan Sejak Tahun 1600

“Karena status itu, maka untuk trek wisata sudah tidak memungkinkan, jadi untuk sementara jalur pendakian kita tutup. Aktivitas masyarakat masih seperti biasa. Karena masyarakat kita pekebun kopi,” jelas Suhadi.

Menurut Suhadi, gunung api setinggi 2.624 meter di atas permukaan laut tersebut banyak dikunjungi wisatawan atau pendaki baik lokal maupun nasional.

Bahkan, kata dia, banyak pendaki sudah mendaftar untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus di Puncak Burni Telong.

“Yang booking sudah banyak, tapi ini sudah kita nyatakan ditutup, yang udah booking kita cancel kembali, kita beritahukan lagi,” ungkapnya.

Adapun para pendaki tersebut, tambah dia, berasal dari berbagai kalangan, di antaranya Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) hingga komunitas lingkungan lainnya.

“Tahun ini dengan terpaksa kita batalkan. Ini juga demi keselamatan pendaki, di samping penanganan kita juga masih terbatas.”

Letusan Burni Telong

Burni Telong termasuk jenis gunung berapi kerucut. Terletak di Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah, Gunung Api Burni Telong atau Bur Ni Telong, berada di posisi geografis 4.769 derajat Lintang Utara dan 96.821 derajat Bujur Timur.

Letusan pertama Gunung Burni Telong terjadi pada akhir September 1837. Kala itu, terjadi beberapa letusan dan gempa bumi yang menyebabkan banyak kerusakan, yang dianggap sebagai letusan normal kawah pusat.

Gunung Burni Telong
Gunung Burni Telong dipotret dari Kampung Rembele, Bener Meriah pada Rabu, 13 Februari 2019. Foto: Breedie.com

Lalu pada 12 hingga 13 Januari 1839, menurut laporan Wichmann (1904), Burni Telong kembali meletus. Abu letusan disebut mencapai Pulah Weh atau Sabang. Kemudian pada 14 April 1856, letusan dari kawah pusat (laporan Neuman van Padang, 1951) memuntahkan material berupa abu dan batu. Seterusnya pada Desember 1919, terjadi letusan normal dari kawah pusat.

Pada 7 Desember 1924, gunung ini kembali meletus, menyebabkan kerusakan pada lahan pertanian dan perkampungan di sekitarnya. Namun menurut Neuman, saat itu hanya tampak lima buah tiang asap tanpa diikuti satu letusan pun. Setelah itu, pada 1937 Burni Telong kembali meletus. Sementara saat gempa bumi dan tsunami Aceh 2004, gunung ini sempat meletup, juga pada 2013 saat gempa melanda Aceh Tengah.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy