Taushiyah Maulid di Dayah Nurul Hidayah Al-Aziziyah, Abi Mudi Paparkan Kasih Sayang Rasulullah

Abi Zahrul Mudi taushiyah maulid di Dayah Nurul Hidayah
Dr. Abi Zahrul Mubarak (Abi Mudi) menyampaikan taushiyah pada perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW di Dayah Nurul Hidayah Al-Aziziyah, Desa Panggoi, Lhokseumawe, Rabu malam, 17 September 2025. Foto: tangkapan layar Youtube Almasyad Official

Lhokseumawe – Doktor Abi Zahrul Mubarak (Abi Mudi) menyampaikan taushiyah pada perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW 1447 H di Dayah Nurul Hidayah Al-Aziziyah, Desa Panggoi, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, Rabu malam, 17 September 2025.

Dalam taushiyah-nya, Abi Zahrul memaparkan tentang kasih sayang luar biasa dari Rasulullah SAW kepada umatnya.

Abi Zahrul mengutip Kitab Asy-Syifa bi Ta’rif Huquqil Mustafa, sebuah kitab sirah nabawiyah (sejarah Nabi Muhammad SAW) karya Imam al-Qadhi Iyadh, seorang ulama besar dari Eropa abad pertengahan. Kitab ini membahas keindahan, keagungan, dan kehormatan Nabi Muhammad SAW, serta adab-adab dan keteladanan beliau, bahkan banyak di kalangan ulama menganggapnya sangat penting untuk memahami Rasulullah SAW dengan sempurna.

Menurut Abi Zahrul, dalam Bab I Kitab Asy-Syifa itu, Qadhi Iyadh menulis 10 pasal, yang berisi firman Allah SWT, mencakup semua pujian, keutamaan, dan kemulian yang Allah SWT sampaikan kepada Baginda Nabi SAW.

Di dalam pasal pertama, lanjut Abi Zahrul, Qadhi Iyadh mengutip firman Allah di dalam surat at-Taubah [ayat 128], yang artinya, “Sungguh, benar-benar telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan (bersikap) penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin”.

Abi Zahrul menjelaskan di dalam ayat tersebut ada lima sifat keagungan dan kemuliaan Baginda Nabi SAW yang disebutkan oleh Allah SWT. Di antaranya, pertama, “sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri”.

“Kedua, Nabi kita sebagai sosok yang terbaik, pilihan dari pilihan. Beliau memiliki sifat ‘azîzun ‘alaihi mâ ‘anittum, merasa berat ketika kesulitan-kesulitan ini dihadapi oleh umat”.

“Ketika umat beliau merasakan kesukaran, kesempitan, beliau merasa empati kepada umat. Sehingga disebutkan dalam kitab-kitab, ketika Allah memberi pilihan kepada umat Baginda Nabi SAW, antara hukum wajib dan sunah, beliau memilih sunah,” ujar Abi Zahrul.

Contohnya, kata Abi Zahrul, ibadah kurban, wajib untuk Nabi SAW, sunah bagi umat. “Sembahyang Dhuha dan Tahajud, wajib untuk beliau, sunah untuk umat”.

“Banyak sekali hadis-hadis yang menunjukkan betapa beliau merasa empati dan sayang luar biasa kepada umat,” ungkap Abi Zahrul.

Kemudian, kata Abi Zahrul, Nabi Muhammad SAW memiliki sifat ḫarîshun ‘alaikum bil-mu’minîna ra’ûfur raḫîm. “Jadi, Nabi Muhammad memiliki sifat ra’fah dan rahmah, kasih sayang yang luar biasa dari Nabi SAW kepada orang-orang yang beriman. Jadi, khusus kepada orang mukmin, Nabi SAW memiliki sifat rahmah dan rahim,” tuturnya.

Pada pasal selanjutnya dalam Kitab Asy-Syifa, lanjut Abi Zahrul, Qadhi Iyadh menjelaskan bahwa Rasulullah pernah bersabda, yang artinya, “Hidupku rahmat, dan wafatku rahmat”.

“Sehingga ini menjadi landasan ketika terjadi ikhtilaf (perbedaan pendapat) pada perayaan maulid yang dilakukan oleh Raja Muzhaffar, penguasa di Irbil, wilayah bagian timur Irak,” ujar Abi Zahrul.

Raja Muzhaffar bernama lengkap Muzhaffaruddin Abu Said Kuukuburi bin Zainuddin Ali ibn Buktitin bin Muhammad at-Turkamani adalah seorang penguasa yang sangat perkasa, bijaksana, pemberani, dan dermawan.

Raja Muzhaffar merupakan penguasa pertama yang mengadakan seremonial perayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, atau masyhur dengan sebutan maulid nabi yang sudah menjadi tradisi turun-temurun di belahan dunia dalam setiap tahunnya. Di Aceh bahkan tradisi maulid sangat meriah dan berlangsung hingga tiga bulan.

“Raja Muzhaffar yang pertama sekali melakukan perayaan atau festival maulid. Walau perayaan maulid secara dasar dilakukan oleh Baginda Nabi Muhammad sendiri. Ketika beliau ditanyakan kenapa beliau berpuasa hari Senin, beliau menjawab, “Hari Senin adalah hari di mana aku dilahirkan’,” tutur Abi Zahrul.

Abi Zahrul menjelaskan mulanya Raja Muzhaffar mengumpulkan semua ulama untuk bermusyawarah, “Hari apa kita ambil untuk melakukan perayaan maulid. [Ketika itu] terjadi i’khilafiyah di antara ulama, ada yang menganjurkan tanggal 8 Rabiul Awal, karena itu hari lahir Baginda Nabi. Ada yang mengatakan tanggal 12 [Rabiul Awal]. Jadi, terjadi i’khilafiyah, walau sekarang yang masyhur dirayakan tanggal 12 Rabiul Awal”.

“Kemudian [ketika itu] ada ulama yang menyanggah, kalau kita merayakan [maulid] tanggal 12, beliau wafat juga di tanggal 12. Jadi, Rasulullah hijrah ke Madinah tanggal 12, beliau menerima wahyu juga di tanggal 12, dan wafat juga di tanggal 12. Sementara kalau kita merayakan maulid di tanggal 12 Rabiul Awal, seolah-olah karena beliau wafat di tanggal 12, seakan-akan kita merasa senang atas wafat beliau. Ulama menjawab, wafat beliau juga menjadi rahmat,” ujar Abi Zahrul.

Lantas, apa makna wafat Nabi SAW menjadi rahmat?

Menurut Abi Zahrul, Qadhi Iyadh dalam Kitab Asy-Syifa itu menjelaskan makna wafat Nabi SAW menjadi rahmat, dengan mengutip sabda beliau, yang artinya, “Apabila Allah menghendaki rahmat bagi satu umat, Dia mewafatkan Nabi umat itu sebelum mereka, lalu menjadikannya sebagai simpanan pahala dan pendahulu bagi umat tersebut”.

“Jadi, Rasulullah berpulang kepada Allah untuk mempersiapkan rahmat Allah untuk kita,” ucap Abi Zahrul.

Lihat juga: [Foto] Dayah Nurul Hidayah Al-Aziziyah Panggoi Peringati Maulid Nabi, Dihadiri Abi Mudi dan Habib Ali

Perayaan maulid nabi di Dayah Nurul Hidayah Al-Aziziyah mengangkat tajuk “Gema Cinta Nabi”. Kegiatan tersebut dihadiri ratusan warga dan jamaah majelis pengajian. Turut hadir Pimpinan Majelis Almasyhad Lhokseumawe Habib Ali Bin Hasan Alatas dan sejumlah ulama lainnya.

Acara tersebut berlangsung sejak bakda Magrib. Para jamaah majelis pengajian, santri, dan masyarakat melantunkan shalawat. Di antaranya, Shalawat Tibbil Qulub, shalawat Busyra, shalawat Nariyah, dan shalawat Maula Ya Shalli Wasallim Daiman Abada. Dilanjutkan dengan Mahalul qiyam, yakni momentum para jamaah berdiri setelah sebelumnya duduk, dan membaca shalawat bersama-sama.

Lantunan shalawat itu dipimpin Habib Ali, Pimpinan Majelis Almasyhad Lhokseumawe. Bagi Majelis Almasyhad Lhokseumawe, acara di Dayah Nurul Hidayah Al-Aziziyah Desa Panggoi ini merupakan Safari Maulid Arba’in Malam ke-25.

Majelis Almasyhad akan terus melanjutkan Safari Maulid Arba’in pada malam-malam berikutnya di lokasi berbeda dalam wilayah Kota Lhokseumawe. Tujuannya menanam cinta dan mahabbah kepada yang patut untuk dicinta yaitu Baginda Nabi Muhammad SAW.

Pimpinan Dayah Nurul Hidayah Al-Aziziyah, Abi Saiful Anwar dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada Abi Mudi yang dengan sukarela bersedia menghadiri acara tersebut.

“Ini penghormatan yang sangat besar. Mungkin kami tidak bisa membalas, hanya bisa kami mendoakan, jazakumullah khairan,” ucap Abi Saiful.

“Mudah-mudahan dengan kedatangan guru kita, dan juga para habaib, Allah SWT memberikan keberkahan kepada kita semua,” tambahnya.

Abi Saiful juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh hadirin (masyarakat) dan jamaah majelis pengajian yang menghadiri kegiatan tersebut.

“Terima kasih yang tak terhingga kepada seluruh jamaah dan donatur yang telah ikut serta di dalam menyukseskan acara yang sangat mulia ini. Semoga Allah SWT memberikan rahmat dan hidayah kepada kita, memudahkan rezeki kita, memberikan kesehatan dan umur panjang kepada kita semua,” ujar Abi Saiful.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy