Lhokseumawe, Line1News – Riuh rendah suara tawar-menawar langsung menyeruak di Pasar Inpres, Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe sejak Senin pagi, 25 Mei 2026. Di bawah terpal merah dan biru, para pedagang dengan cekatan memotong daging sapi segar, menyambut hari pertama tradisi Meugang menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah.
Bagi masyarakat Aceh, Meugang bukan sekadar urusan isi perut, melainkan ritual merawat kebersamaan keluarga.
“Satu kilonya seratus delapan puluh ribu,” ujar salah seorang pedagang di Pasar Inpres kepada Line1News, sembari melayani pembeli yang mulai memadati lapaknya.
Pada hari pertama Meugang ini, lebih dari 10 pedagang daging musiman telah menggelar lapak di Pasar Inpres. Angka ini diprediksi akan melonjak hingga puluhan pedagang pada Selasa besok, yang menjadi puncak perayaan Meugang Iduladha tahun ini.
Berburu Daging hingga Cunda
Pemandangan serupa terlihat di Pasar Keude Cunda, Kecamatan Muara Dua. Menjelang siang, aktivitas transaksi antara pedagang dan warga tetap bergairah meskipun harga daging tergolong tinggi.
“Ada yang jual seratus delapan puluh ribu, ada juga yang seratus tujuh puluh ribu rupiah per kilogram, tergantung kualitas dagingnya,” ungkap seorang pedagang di Keude Cunda.
Meski harga melonjak dibanding hari biasa, hal tersebut tidak menyurutkan semangat warga. Membawa pulang kantong plastik berisi daging segar ke rumah adalah sebuah keharusan dan kebanggaan tersendiri demi menyambut hari raya.
Merawat Tradisi Warisan Sultan
Tradisi Makmeugang atau Meugang memiliki akar sejarah yang sangat dalam di Bumi Serambi Mekkah. Warisan budaya ini telah berdenyut sejak zaman Kesultanan Aceh Darussalam pada tahun 1607, di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda.
Esensi dari Meugang adalah kebersamaan. Pada momen ini, daging sapi atau kerbau diolah menjadi aneka masakan khas Aceh untuk dinikmati bersama keluarga besar, kerabat, hingga disedekahkan kepada anak yatim piatu.
Di kota-kota seperti Lhokseumawe, perayaan Meugang biasanya berlangsung selama dua hari berturut-turut. Kehadiran pasar daging dadakan di pinggir jalan menjadi penanda visual yang khas bahwa hari raya sudah di depan mata.
Pada akhirnya, lembaran uang Rp180 ribu yang berpindah tangan hari ini bukan cuma untuk sekilo daging. Ia adalah tiket bagi sebagian keluarga di Lhokseumawe untuk duduk bersama di satu meja, menikmati hidangan, dan memperkokoh tali silaturahmi yang tak lekang oleh zaman.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy