Ketika Buku ‘ACEH: Bangkit daripada Luka’ Menjadi Karya Best Seller di Malaysia

Buku Aceh Bangkit daripada Luka di PBAKL Malaysia
Buku ACEH: Bangkit daripada Luka menjadi salah satu buku Best Seller di stan Galeri Ilmu Media Group saat Pesta Buku Antarabangsa Kuala Lumpur (PBAKL) yang berlangsung pada 29 Mei hingga 7 Juni 2026 di World Trade Centre Kuala Lumpur (WTCKL), Malaysia. Foto: Dok. Cisah

Kuala Lumpur, Line1News – Riuh rendah World Trade Centre Kuala Lumpur (WTCKL), Malaysia, mendadak terasa syahdu ketika lembaran-lembaran kisah dari pedalaman Aceh Utara dibuka. Di tengah ramai pengunjung memadati Pesta Buku Antarabangsa Kuala Lumpur (PBAKL) 2026, sebuah narasi tentang air mata, banjir bandang, dan keteguhan hati masyarakat Aceh berhasil mencuri perhatian dunia.

Melalui buku kolaboratif berjudul ACEH: Bangkit daripada Luka, Center for Information of Sumatra Pasai Heritage (Cisah) bersama lembaga asal Malaysia, Halaqah Mukhlisin Tour and Travel, mengalirkan getaran kemanusiaan yang melintasi batas negara. Naskah yang lahir dari rahim bencana ini langsung merangsek naik menjadi salah satu karya Best Seller di stan Galeri Ilmu Media Group.

Baca Juga: Cerita Halaqah Mukhlisin Bantu Penyintas Banjir Langkahan Sambut Ramadan

Dari Arus Jambo Aye ke Panggung Dunia

Buku setebal kisah perjuangan ini tidak lahir di balik meja kerja yang nyaman. Ia dirajut langsung dari dinginnya sisa air banjir dan pelukan hangat para korban di kawasan pedalaman seperti Kecamatan Langkahan dan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, hingga Aceh Tamiang dan sejumlah daerah lain yang terdampak bencana pada akhir 2025.

“Pengalaman bertemu langsung dengan masyarakat korban banjir, mendengarkan kisah mereka, serta menyaksikan semangat masyarakat Aceh dalam bangkit kembali menjadi inspirasi utama lahirnya buku ini,” kata Sekjen Cisah, Mawardi Ismail al-Asyi, yang juga salah satu penulis buku ACEH: Bangkit daripada Luka.

Mawardi Ismail al-Asyi, yang mewakili Cisah di PBAKL 2026 sejak 29 Mei hingga 7 Juni 2026, menceritakan bagaimana lembaran sejarah masa lalu beririsan erat dengan bencana modern. Di dalam buku tersebut, sungai-sungai di Aceh tidak hanya digambarkan sebagai pemicu banjir, melainkan kembali diposisikan sebagai urat nadi peradaban yang dahulu membawa kemasyhuran bagi Kerajaan Samudra Pasai, yang juga dikenal sebagai Sumatra Pasai.

[Sekjen Cisah, Mawardi Ismail al-Asyi (dua dari kiri) memperlihatkan buku ACEH: Bangkit daripada Luka di Stan Galeri Ilmu Media Group. Foto: Dok. Cisah]

Menyambung Sanad Kepedulian

Kehadiran Cisah di ajang internasional ini juga menjadi momentum emas untuk merekatkan kembali ingatan kolektif dunia tentang kejayaan Islam di Nusantara. Kepada para pengunjung, Mawardi Ismail al-Asyi mengulas catatan perjalanan pengembara legendaris dunia, Ibnu Batutah, yang pada tahun 1345 M bersaksi tentang keluhuran ilmu di bumi Sumatra Pasai dan bertemu dengan Sultan Al Malik Adz-Zhahir.

“Catatan perjalanan Ibnu Batutah menunjukkan bahwa Sumatra Pasai pada masa itu merupakan salah satu pusat keilmuan Islam yang penting di kawasan Asia Tenggara dan menjadi tujuan para musafir dari berbagai penjuru dunia,” ujar Mawardi Ismail al-Asyi.

Hubungan emosional yang telah terikat sejak berabad-abad silam itu seolah menemukan manifestasi modernnya hari ini. Melalui bantuan kemanusiaan dan penerbitan buku oleh Galeri Ilmu Media Group, masyarakat Malaysia membuktikan bahwa persaudaraan serumpun itu belum pudar.

Sebagai bentuk apresiasi, Cisah menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada para relawan, musafir, dan masyarakat Negeri Jiran yang telah mengulurkan tangan saat Aceh didera duka.

Baca Juga: Haul Ke-751 Sultan Al-Malik Ash-Shalih Hadirkan Harapan bagi Penyintas Banjir

Laris Manis dan Perkuat Jaringan Global

Semangat bertajuk Ihya’ Turats: Menghidupkan Warisan, Menerangi Zaman yang diusung penerbit berbuah manis. Respon publik Malaysia luar biasa hangat:

* Tembus Pasar: Buku ACEH: Bangkit daripada Luka sukses bertengger di jajaran Best Seller.

* Penjualan Fantastis: Lebih dari 1.000 eksemplar ludes terjual selama pameran berlangsung.

* Diplomasi Budaya: Sekjen Cisah Mawardi Ismail al-Asyi bertemu dengan En. Muhammad Suhail (Penasihat Grup Penjejak Tamadun Dunia/GPTD). Pertemuan ini  membahas peluang kolaborasi berbagai kegiatan terkait sejarah Islam, penelitian, pelestarian warisan peradaban, serta aktivitas kebudayaan di Aceh Utara pada masa mendatang.

* Kolaborasi Akademik: Cisah memperkuat hubungan silaturahmi sekaligus diskusi dengan perwakilan universitas bergengsi Malaysia, Universiti Tun Abdul Razak (UNIRAZAK), mengenai sejarah, warisan peradaban Islam, serta peluang kerja sama akademik antara Aceh dan Malaysia.

Penutup: Saat Air Mata Menjelma Tinta

Di balik gemerlap lampu WTC Kuala Lumpur dan tumpukan ribuan lembar halaman di stan Galeri Ilmu Media Group, status Best Seller yang diraih buku ini bukan sekadar angka penjualan. Lebih dari seribu orang yang membawanya pulang, turut membawa sepotong doa dari pedalaman Aceh yang pernah tenggelam oleh banjir bandang.

Bagi Cisah dan Halaqah Mukhlisin Malaysia, goresan pena para Relawan Rangers ini membuktikan satu hal: air mata bencana mungkin mengalir deras ke hilir sungai Jambo Aye dan sungai-sungai lainnya di Aceh. Namun arus kepedulian manusia akan selalu menemukan jalan untuk melompat melintasi selat, menghidupkan warisan peradaban, dan menerangi zaman.

Dari tanah Pasai yang sarat sejarah, pesan universal itu kini abadi dalam ingatan publik global: bahwa dari kepasrahan manusia yang diuji di luar batas, selalu ada celah bagi secercah cahaya untuk bangkit kembali.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy