Aceh Utara – Tim Halaqah Mukhlisin dari Johor Bahru, Malaysia, menjalankan misi kemanusian di Langkahan, salah satu kecamatan yang mengalami dampak banjir bandang terparah di Kabupaten Aceh Utara.
Rombongan datang dari Negeri Jiran itu, Haji Rafiuddin Bin Rohani, Rohani Binti Mat Ali, Selasiahtonaida Binti Saari, Siti Khadijah Binti Kadir, Ria Handayani Binti Aliman, dan Nor Azita Binti Zainal Abidin.
Didampingi tim Center for Information of Sumatra Pasai Heritage (Cisah), para relawan Halaqah Mukhlisin mengarungi Sungai Jambo Aye dengan menumpang boat kecil hampir satu jam. Lalu, rombongan itu menapaki jalan mendaki menembus Dusun Sarah Raja, Gampong Lubok Pusaka, Kecamatan Langkahan, Rabu, 18 Februari 2026.
Sarah Raja masih terluka pascabencana. Banyak warga dusun terpencil itu kehilangan rumah hingga sumber penghidupan. Mereka terpaksa melewati hari-hari dengan ketidakpastian.
Penyintas banjir itu menunggu keajaiban kecil agar dapur mereka tetap berasap menyambut Ramadan 1447 H. Tim Halaqah Mukhlisin pun tiba membawa sembako dan pelukan hangat pada hari penutup Sya’ban.
“Terima kasih yang sangat mendalam kami ucapkan. Tim bisa hadir ke dusun kami yang terpencil ini, tepat sehari menjelang Ramadan. Ini benar-benar berkah bagi kami. Di tengah putusnya mata pencaharian pascabencana, bantuan ini sangat kami butuhkan,” ucap Zulkifli, Kepala Dusun Sarah Raja dengan mata berkaca-kaca.

[Tim Halaqah Mukhlisin dan Cisah usai meresmikan sumur bor. Foto: Tim Cisah]
Tim Halaqah Mukhlisin melaksanakan misi kemanusiaan sejak 16 hingga 22 Februari 2026 mendatang. Tim tersebut juga telah meresmikan sumur bor di Gampong Padang Meuria, Meunasah Blang, dan Matang Rubek, Kecamatan Langkahan.
Warga yang kesulitan mendapatkan air bersih pascabanjir, kini terbantu dengan bantuan sumur bor dari Halaqah Mukhlisin.
Tim Halaqah Mukhlisin juga menyalurkan ratusan mukena, Iqra’, buku bacaan, alat tulis, dan aneka jajanan kepada anak-anak di beberapa lokasi lainnya. Bocah-bocah itupun riang gembira.
Di tangan mereka, Iqra’ bukan hanya buku, tetapi simbol bahwa masa depan tetap bisa diperjuangkan meski dari kawasan pedalaman.
Bantuan yang datang mungkin tak mampu mengobati semua kenestapaan mereka. Namun, setidaknya menunjukkan masih ada tangan-tangan yang peduli kepada dusun nun jauh di sana.
Mereka menyambut Ramadan dengan air mata, doa, dan juga syukur. Lantaran masih ada orang-orang datang membawa bantuan.
Di balik derasnya arus Sungai Jambo Aye dan sunyinya perbukitan Langkahan, harapan tetap menemukan jalannya. “Marhaban Ya Ramadan!”[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy